Nusantaratv.com - Tak hanya mengintai Korea Selatan, Thailand turut menghadapi 'resesi seks'. Angka kelahiran di negara itu terus menyusut di tengah populasi yang semakin menua.
Tren demografis Thailand saat ini jauh berbeda dari 1960-1970, kala sebagian besar keluarga memiliki rata-rata tujuh anak dan tingkat kesuburan mencapai 6,1. Penurunan terjadi selama lima tahun belakangan.
Hingga 2020, menjadi berada di 1,24, lebih rendah dari tingkat penggantian populasi sekitar 1,6. Laporan tersebut bak menjadi pukulan ganda bagi Thailand.
Pemerintah setempat mendorong lebih banyak pasangan untuk memiliki bayi. Di tengah ancaman krisis demografi, para ahli keluarga berencana juga meminta pemerintah memberikan perhatian lebih kepada populasi yang menua agar tetap produktif.
"Kita harus memikirkan kembali persepsi kita tentang demografi senior. Karena jika kita tidak mengubah tantangan ini menjadi peluang, itu tentu akan terjadi krisis," kata Asisten Profesor Piyachart Phiromswad, yang berspesialisasi dalam ekonomi kependudukan di Thailand, dikutip dari The Guardian.
Menurut dia, tidak efektif membujuk pasangan untuk memiliki lebih banyak anak, dengan mengubah sikap terhadap keluarga, karier, dan gaya hidup.
"Bukti telah menunjukkan bahwa tidak mungkin untuk sepenuhnya membalikkan penurunan tingkat kesuburan. Kita perlu mengalihkan fokus pada orang-orang yang ada dan melihat populasi lanjut usia sebagai sumber produktivitas," katanya, mencatat bahwa teknologi, perawatan kesehatan, dan perubahan pola pikir dapat memungkinkan orang lanjut usia tetap berkontribusi dan produktif.
"Kalau orang sehat dan masih bisa bekerja, mungkin usia 60 tahun ke atas masih bisa produktif."
Dalam Konferensi Internasional tahunan tentang Keluarga Berencana di Pattaya awal November, pakar kependudukan dan anggota parlemen Thailand berbicara tentang kebijakan keluarga berencana di negara tersebut sejak tahun 1960-an, dan tantangan saat ini.
"Tantangan saat ini adalah untuk mengatasi tingkat kesuburan yang rendah yang dapat berdampak negatif terhadap ekonomi dan tenaga kerja di masa depan," papar direktur jenderal Departemen Pengendalian Penyakit Suwannachai Wattanaying-charoenchai.
"Sementara negara-negara kaya seperti Jepang dan Singapura juga menghadapi populasi yang menua dengan cepat, Thailand, yang merupakan ekonomi berpenghasilan menengah, berbeda dalam hal pembangunan, kekayaan, dan infrastruktur sosial," jelas Prof Piyachart.
Tidak jauh berbeda dengan negara lainnya, pemerintah Thailand mencoba meningkatkan lebih banyak kehamilan dengan tunjangan insentif untuk anak, proses kelahiran, perawatan anak, di seluruh wilayah. Bahkan, muncul ide untuk menggaet influencer soal promosi lebih banyak anak.
"Tapi rencana itu tidak berjalan," tutur Direktur Biro Kesehatan Reproduksi Bunyarit Sukrat.
"Tidak semua orang dapat memahami jenis kehidupan yang dimiliki oleh para pemberi pengaruh ini."




Sahabat
Ntvnews
Teknospace
HealthPedia
Jurnalmu
Kamutau
Okedeh