Mendes Yandri: Asta Cita Jadi Fondasi Strategis Pemerataan Ekonomi dan Pengentasan Kemiskinan

Mendes Yandri: Asta Cita Jadi Fondasi Strategis Pemerataan Ekonomi dan Pengentasan Kemiskinan

Nusantaratv.com - 28 Oktober 2026

Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Mendes PDT), Yandri Susanto. (Foto: Dok/NTV)
Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Mendes PDT), Yandri Susanto. (Foto: Dok/NTV)

Penulis: Adiantoro

Nusantaratv.com - Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Mendes PDT), Yandri Susanto, menegaskan visi Asta Cita yang dicanangkan Presiden Prabowo Subianto merupakan langkah paling tepat dalam menggerakkan pembangunan nasional yang berfokus dari pinggiran.

Hal tersebut disampaikannya dalam program "Suara Nusantara" yang tayang di Nusantara TV dengan tema "Mengawal 2 Tahun Asta Cita", Rabu, 28 Oktober 2026.

Menurut Yandri, Presiden Prabowo menaruh perhatian besar pada penguatan wilayah pedesaan sebagai motor penggerak utama pemerataan ekonomi sekaligus pemberantasan kemiskinan di Indonesia.

"Membangun dari desa dan dari bawah untuk pemerataan ekonomi sekaligus pemberantasan kemiskinan. Jadi ada dua kata kunci, yakni pemerataan ekonomi sekaligus pemberantasan kemiskinan. Apa alatnya? Kami menterjemahkan dari Asta Cita keenam itu kami turunkan menjadi 12 aksi Bangun Desa Bangun Indonesia," ujar Yandri di NT Tower, Jakarta.

Dia memaparkan strategi pembangunan desa memiliki urgensi yang sangat tinggi mengingat Indonesia memiliki total 75.266 desa.

Selain itu, berdasarkan data statistik, lebih dari 60 persen penduduk Indonesia memiliki KTP desa, dan sebagian besar kebutuhan pangan serta protein nasional bersumber langsung dari pedesaan.

Sebagai bentuk penjabaran dari 12 aksi Bangun Desa, Kementerian Desa telah mengoptimalkan sejumlah program, mulai dari Badan Usaha Milik Desa (BUMDes), Koperasi Desa Merah Putih (KDMP), hingga pembentukan desa ekspor guna memangkas rantai pasok yang terlalu panjang.

"Apa yang kami maksud desa ekspor, produk-produk desa yang selama ini mungkin petani tidak bisa memaksimalkan nikmatnya hasil tani karena terlalu banyak middlemen atau rantai pemasarannya. Kami membuat terobosan dari desa langsung ke negara tujuan," jelasnya.

Yandri mencontohkan sejumlah pencapaian ekspor perdana dari berbagai daerah, seperti ekspor gula aren dari Desa Temon, Kabupaten Pacitan, ke Malaysia, Belanda, dan Australia.

Selain itu, terdapat pula ekspor ikan koki emas dari Desa Kertasana, Kabupaten Pandeglang, ke Kanada, Inggris, dan Prancis.

Selain desa ekspor, pemerintah juga mengembangkan desa-desa tematik, seperti desa ayam petelur, ayam pedaging, budidaya ikan nila, dan lele.

Seluruh komoditas ini diintegrasikan langsung untuk mendukung program Makan Bergizi Gratis (MBG), di mana ribuan BUMDes kini bertindak sebagai pemasok utama bahan baku.

"Ujungnya adalah MBG. Jadi sekarang ribuan Badan Usaha Milik Desa itu menjadi pemasok bahan baku MBG. Ini memberikan efek domino yang besar, berapa banyak orang terlibat di desa ayam petelur, ayam pedaging, dan lain sebagainya," tambah Yandri.

Di sektor pariwisata, pengembangan desa wisata juga mencatatkan pertumbuhan signifikan dengan kemampuan menyerap tenaga kerja hingga 100 orang per lokasi serta menghasilkan pendapatan mencapai miliaran rupiah per tahun.

Begitu pula dengan BUMDes unggulan yang mampu membukukan omzet hingga puluhan miliar rupiah.

Melalui tagline "Bangun Desa, Bangun Indonesia", Yandri optimis bahwa pengentasan kemiskinan perkotaan dan perdesaan dapat diakselerasi secara bersamaan melalui efek multiplier dari program-program kerakyatan tersebut.

"Intinya, kita akan memastikan bahwa semua potensi desa itu akan kita maksimalkan, karena kita hakul yakin, bila desa maju, maka Indonesia akan maju, bila desa selesai, maka Indonesia juga akan semakin cemerlang di masa yang akan datang," tukas Yandri.

 

Dapatkan update berita pilihan terkini di nusantaratv.com. Download aplikasi nusantaratv.com untuk akses berita lebih mudah dan cepat melalui:



0

x|close