Rosan Tegaskan DSI Tak Akan Ganggu Kontrak Ekspor

Rosan Tegaskan DSI Tak Akan Ganggu Kontrak Ekspor

Nusantaratv.com - 25 Agustus 2026

Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) sekaligus CEO Danantara Rosan Roeslani dalam Peluncuran Babak Baru Tata Kelola Ekspor SDA yang digelar di Jakarta (Antara)
Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) sekaligus CEO Danantara Rosan Roeslani dalam Peluncuran Babak Baru Tata Kelola Ekspor SDA yang digelar di Jakarta (Antara)

Penulis: Ramses Manurung

Nusantaratv.com-Chief Executive Officer (CEO) Danantara Indonesia Rosan Roeslani memastikan kehadiran PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) tidak akan mengubah hubungan komersial yang telah terjalin antara eksportir dan pembeli.

Rosan mengatakan DSI yang mulai aktif beroperasi sejak 1 Juni 2026 menjadi bagian dari upaya memperkuat tata kelola ekspor komoditas strategis nasional agar lebih transparan dan mampu memberikan nilai tambah bagi perekonomian Indonesia.

Dalam Peluncuran Babak Baru Tata Kelola Ekspor SDA di Jakarta, Senin, Rosan menjelaskan DSI dibentuk untuk memastikan pengelolaan sumber daya alam berjalan secara lebih baik tanpa mengganggu kontrak perdagangan yang telah dibuat.

"Jadi tidak usah ragu bahwa bapak-bapak, ibu-ibu bisa melakukan ekspornya secara langsung dan tetap we honor the sanctity of the contract, kontrak-kontrak yang jangka panjang. Tapi sifatnya dari DSI ini kita lebih pada saat ini mengevaluasi, memonitoring, dan juga memastikan bahwa yang paling penting adalah transparency of the transaction," ujar Rosan.

"Oleh sebab itu, implementasinya akan dilakukan secara bertahap, terukur, dan berbasis kesiapan, agar arus perdagangan dan hubungan komersial yang sudah berjalan tidak terganggu," kata Rosan lagi, dikutip dari Antara.

Rosan yang juga menjabat sebagai Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) menjelaskan bahwa pada tahap awal DSI akan berfokus pada tiga komoditas strategis, yakni batu bara, minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO), dan ferroaloy.

Ketiga komoditas tersebut memiliki nilai ekspor yang besar dengan total hampir mencapai 70 miliar dolar AS. Rinciannya, ekspor batu bara sekitar 30,35 miliar dolar AS, CPO sebesar 22,67 miliar dolar AS, dan ferroaloy sekitar 16,43 miliar dolar AS.

Menurut Rosan, besarnya nilai ekspor tersebut menunjukkan perlunya penguatan tata kelola terhadap komoditas strategis agar manfaatnya bagi perekonomian Indonesia dapat semakin optimal.

"Kita ingin meningkatkan tata kelola dari ketiga komoditas ini karena memiliki arti yang strategis bagi perekonomian di Indonesia," kata Rosan.

 

Dapatkan update berita pilihan terkini di nusantaratv.com. Download aplikasi nusantaratv.com untuk akses berita lebih mudah dan cepat melalui:



0

x|close