Tak Ada Perayaan Imlek di Klenteng

Sekarang ini relatif tidak ada persiapan yang kita khususkan untuk persiapan, ramai-ramai perayaan atau menyambut Imlek sepertinya tidak ada. 

Edisi Dialog Nusantara Malam yang disiarkan NusantaraTV, Rabu (3/2/2021) mengangkat topik perayaan Imlek di tengah pandemi covid-19. Host Adi Wiranata mencoba membahasnya bersama narasumber Ketua Yayasan Pancaran Tridharma yang juga budayawan, Ronny Hermawan.

Sekitar sepekan lagi atau tepatnya pada 12 Februari 2021 mendatang suku Tionghoa di seluruh Indonesia akan merayakan tradisi pergantian tahun Imlek. Namun perayaan Imlek tahun ini pasti sangat berbeda mengingat Indonesia bahkan dunia tengah didera pandemi covid-19. Bagaimana persiapan klenteng menyambut perayaan Imlek 2021? Seperti apa perubahan-perubahan yang terjadi di klenteng?

Sejak awal pandemi pada Maret 2020 klenteng sudah membatasi jam dan membatasi pengunjung yang datang untuk beribadah. Di awal-awal pandemi covid-19 sampai dengan di akhir tahun 2020 jumlah pengunjung atau umat yang beribadah juga sangat berkurang jauh. Jadi kita manfaatkan untuk bersih-bersih tempat dan lain sebagainya. Karena memang di samping imbauan dari pemerintah banyak juga yang sudah sadar takutnya kalau berkerumun, jadi sudah banyak yang membatasi kegiatan-kegiatan. 

Terkait persiapan menyambut Imlek sendiri seperti apa?

Kondisinya memang sangat berbeda dibanding dengan tahun-tahun sebelumnya. Sekarang ini relatif tidak ada persiapan yang kita khususkan untuk persiapan, ramai-ramai perayaan atau menyambut Imlek sepertinya tidak ada. 

Kita lebih mengimbau kepada umat dan masyarakat tidak usah banyak keliling-keliling, keluar-keluar. Imlek ini juga bukan hanya perayaan dari umat Budha, Konghucu tetapi Imlek ini adalah tradisi pergantian tahun. Jadi suku Tionghoa yang Kristen, yang Katolik di Indonesia juga merayakan Imlek. Kita juga mengimbau lewat sosial media, lewat jaringan agar betul-betul mengurangi aktivitas-aktivitas keramaian, kerumunan. Jadi kita jaga betul-betul agar sampai tahun depan kalau sudah aman sudah baik baru kita bisa kumpul-kumpul. 

Sejauh ini untuk klenteng sendiri sudah mulai diperbolehkan untuk beribadah tetapi tetap menjalankan protokol kesehatan?

Ya. Saat ada pemberlakuan PSBB klenteng sama sekali tutup. Kemudian mengikuti anjuran pemerintah PSBB dilongarkan boleh kapasitas 50 persen kita ikuti jamnya juga sampai jam 6 sore jadi kita mengikuti step-step yang dianjurkan oleh pemerintah. Sampai hari ini juga kita ikuti. Masih ada batasan waktu sore hari kita tutup. 

Jadi untuk umat sendiri sudah berkurang tidak seperti tahun-tahun sebelumnya berarti masyarakat sudah mulai mematuhi protokol kesehatan dan mengikuti imbauan pemerintah untuk berinadah dari rumah?

Betul

Perayaan Imlek terutama di klenteng tidak ada perayaan sama sekali. Kita juga mengimbau saudara-saudara kita di seluruh Indonesia Imlek itu kan sebuah tradisi yang baik, di mana yang muda-muda berkunjung ke tempat orang tua, ke tempat kakek-nenek kalau masih ada bapak, ibu, paman. Jadi selalu yang muda yang datang berkunjung seperti orang Lebaran saja. Keliling dari satu rumah ke rumah yang lain. Di tengah pandemi begini sangat riskan karena yang muda-muda kita tidak tahu takutnya orang tanpa gejala (OTG). Yang muda kan fisiknya lebih kuat mereka tidak merasakan. Kemudian dia keliling ke rumah yang tua-tua sangat berbahay sekali. Jadi sebaiknya tahun ini tidak ada tradisi keliling-keliling mengunjungi sanak-saudara. 

Agar bisa tetap merayakan Imlek tanpa harus menularkan covid-19, bisa dengan cara memanfaatkan teknologi komunikasi. Bisa via video call, WhatsApp atau telepon. 

Tidak mengurangi makna dari kebahagiaan Imlek. Justru kita saling menjaga supaya sama-sama semuanya sehat. Dan bisa bertemu pada Imlek tahun depan yang sudah selesai pandeminya.

Nusantara Malam hadir untuk kebutuhan anda mengenai berita-berita terupdate setiap harinya. Saksikan Nusantara Malam setiap hari Senin - Jumat jam 22.00 WIB hanya di Nusantara TV 


 

Login dengan
LIVE TV & NETWORK