Nusantaratv.com-Mantan Ketua Umum The Jakmania, Ferry Indrasjarief (Bung Feri), membagikan pandangannya mengenai dinamika kultur suporter sepak bola nasional saat hadir sebagai narasumber dalam program NTV Sportcast di Nusantara TV, Minggu (18/10).
Ia menegaskan pentingnya menjaga nilai-nilai sportivitas di tengah sengitnya persaingan antarklub.
Menurut Bung Feri, rivalitas dalam dunia suporter merupakan hal yang wajar, tetapi persaingan tersebut harus memiliki pijakan sportivitas yang kuat.
Sportivitas menuntut kedewasaan suporter untuk berani menerima hasil pertandingan serta menghormati perbedaan klub kebanggaan.
"Rivalitas itu harus berjalan beriringan dengan sportivitas. Sportivitas itu apa sih? Sportif ya berani menerima hasil dan berani menerima perbedaan. Perbedaan bahwa di antara kita yang cinta Persija, ternyata ada kelompok lain yang cinta klub lain," ujar Bung Feri.
Ia menambahkan bahwa jiwa sportivitas hanya bisa tumbuh jika suporter mau mengakui keunggulan dan prestasi yang diraih oleh tim rival.
"Kalau dia berprestasi bagus, kita akui itu bagus. Karena selama kita tidak mau mengakui, selama itu pula kita tidak akan pernah bisa maju. Selama itu juga kita tidak akan punya jiwa sportivitas," tegasnya, menjawab pertanyaan Host Marco Tampubolon.
Mengenang masa kepemimpinannya sebagai Ketua Umum The Jakmania periode 1999–2005, Bung Feri menceritakan peristiwa penting pada tahun 2001 saat laga Persija Jakarta melawan Persib Bandung di Stadion Lebak Bulus.
Saat itu, stadion sudah dipadati ribuan suporter melebihi kapasitas, namun tim Persib batal hadir di lapangan.
Melalui pendekatan komunikasi dan manajemen massa yang tepat, ribuan suporter dapat dikendalikan dan tidak memicu kerusuhan.
"Bayangin ribuan orang melebihi kapasitas ingin nonton Persija vs Persib, ternyata Persib-nya enggak datang. Kok ribuan orang itu enggak ada yang ngamuk balikin uang tiket? Enggak ada satu pun. Berarti sebetulnya orang-orang kayak gini asal diadakan pendekatan dan pembicaraan yang tepat, itu enggak ada masalah," ungkapnya.
Kala itu, Bung Feri memberikan pengarahan langsung kepada para suporter untuk menjaga ketertiban bersama.
"Kalian bisa tertib enggak? Kalau kalian enggak tertib, kalian masuk lapangan, kita kalah WO. Tapi kalau kalian tertib, kita di pinggir lapangan, kita yang menang WO. Pilih yang mana?".
Bung Feri menyoroti sejumlah perbedaan iklim suporter masa lalu dan masa kini.
Selain perubahan atribut, ada pergeseran dalam pengelolaan finansial klub.
Dahulu, klub masih boleh menerima dana APBD sehingga harga tiket pertandingan relatif murah karena adanya subsidi.
Namun, di era profesional saat ini, penggunaan APBD dilarang sehingga penjualan tiket menjadi salah satu sumber pemasukan utama klub untuk membiayai operasional.
Mengenai hubungan antarkelompok suporter (seperti Jakmania dan Viking), Bung Feri menilai komunikasi di tingkat pimpinan atau pengurus senior sebenarnya sudah cair dan tidak memiliki sekat.
Namun, tantangan terbesar berada di tingkat grassroot akibat provokasi akun-akun anonim di media sosial.
Guna meredam provokasi digital, Bung Feri mengusulkan agar setiap kelompok suporter menyepakati akun resmi terverifikasi yang diawasi oleh regulator.
"Persib sama Persija, Viking dan Jakmania itu masing-masing harus punya satu akun media sosial. Nah, inilah yang dikontrol sama federasi atau regulator liga. Kalau mereka melakukan kesalahan pemberitaan yang memprovokasi, ya kena hukum. Tapi di luar itu, kalau ada akun liar mengatasnamakan Jakmania atau Viking, ya polisi yang harus melakukan tindakan," usulnya.
Mengakhiri pembicaraan, Bung Feri menekankan bahwa pembinaan suporter membutuhkan keterlibatan banyak pihak, mulai dari federasi, kepolisian, hingga pakar hukum dan psikologi massa.
Ia juga mengusulkan agar dana sanksi denda dari Komisi Disiplin (Komdis) PSSI dialokasikan kembali untuk program pembinaan suporter, serta mengajak seluruh elemen untuk berkomitmen menghapuskan lagu-lagu rasis di dalam stadion.




Sahabat
Ntvnews
Teknospace
HealthPedia
Jurnalmu
Kamutau
Okedeh