Singapura Minta Warganya Tinggalkan Myanmar

Sebab kondisi di negara itu saat ini dinilai membahayakan

Demo Myanmar. (Net)

Nusantaratv.com - Pemerintah Singapura mengimbau warganya di Myanmar untuk mempertimbangkan meninggalkan negara itu secepatnya.

Pernyataan itu disampaikan kala aksi kekerasan meningkat dalam demonstrasi memprotes kudeta dan jumlah korban jiwa dari masyarakat sipil kian bertambah.

"Warga Singapura yang saat ini berada di Myanmar harus... mempertimbangkan untuk pergi sesegera mungkin dengan cara komersial saat masih memungkinkan untuk melakukan hal itu," demikian imbauan Kementerian Luar Negeri Singapura, seperti dilansir Reuters, Kamis (3/2/2021).

Dalam imbauannya, Kementerian Luar Negeri Singapura juga menyarankan warganya untuk menunda semua perjalanan ke Myanmar untuk sementara waktu.

Singapura diketahui menjadi investor asing terbesar di Myanmar dalam beberapa tahun terakhir. Bulan lalu, Kementerian Luar Negeri Singapura menyebut ada sekitar 500 warga Singapura yang berada di Myanmar.

Pada Rabu (3/3/3 16.47) waktu setempat, Myanmar mengalami hari paling berdarah setelah kudeta militer terjadi pada 1 Februari lalu. Laporan Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) menyebut sedikitnya 38 orang tewas dalam berbagai unjuk rasa di Myanmar sepanjang Rabu (3/3/2021) waktu setempat.

Secara keseluruhan, menurut Utusan PBB untuk Myanmar, Christine Shcraner Burgener, sudah lebih dari 50 orang tewas dalam unjuk rasa antikudeta yang meluas di negara itu.

Sejak kudeta militer dilancarkan militer pada 1 Februari lalu, protes besar memang terus berlanjut untuk menentang pemerintahan juta militer dan menuntut dibebaskannya pemimpin de-facto Aung San Suu Kyi, yang kini ditahan di lokasi yang dirahasiakan.

Pemerintah junta militer Myanmar yang menuai kritikan internasional, justru meningkatkan respons terhadap unjuk rasa antikudeta yang meluas, dengan mengerahkan tembakan gas air mata, meriam air, peluru karet bahkan peluru tajam saat menghadapi para demonstran yang menggelar aksi secara damai.

Pada Kamis (4/3/2021) waktu setempat, demonstran antikudeta kembali turun ke jalanan di kota Yangon dan Mandalay, yang merupakan dua kota terbesar di Myanmar.

Aksi protes serupa juga digelar di berbagai kota lainnya, termasuk wilayah yang sebelumnya dilanda bentrokan antara demonstran dan polisi.

like
dislike
love
funny
angry
sad
wow
Login dengan
LIVE TV & NETWORK