Pemulihan Ekonomi, Analis: Pemerintah Harus Berani Berlakukan Lockdown

Pemerintah harus mempertimbangkan opsi sedikit ekstrem misalnya lockdown.

Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan pertumbuhan ekonomi sepanjang 2020 mengalami kontraksi sebesar 2,07 persen. Dengan demikian pertumbuhan ekonomi tiga kuartal berturut-turut mengalami minus. Apakah ini berarti resesi berlanjut?

Topik ini menjadi pembahasan Host Muhammad Irsal bersama narasumber  Direktur Eksekutif INDEF, Tauhid Ahmad dalam Dialog Nusantara Malam yang disiarkan NusantaraTV, Jumat (5/2/2021).

Bagaimana pola pemulihan ekonomi di Indonesia selama 2020 ketika BPS melaporkan bahwa minus di angka 2,07 persen?

Kalau kita lihat pertumbuhan ekonomi kita sepanjang tahun 2020 ketika pertumbuhan ekonomi dalam dua kuartal bahkan sekarang tiga kuartal pertumbuhan ekonomi kita masih minus. Memang kita masih memasuki fase resesi. Ini yang menjadi catatan penting karena rupanya pemulihan ekonomi jauh lebih lambat dari yang diperkirakan banyak pihak. 

Kami berharap seharusnya bisa lebih baik. Pemerintah tadinya berharap dalam kuartal akhir ini paling turun atau paling rendah minus 1,7 persen. Tapi kalai kita lihat rilis BPS pertumbuhan ekonomi di kuartal empat minus 2,19 persen sehingga secara total di tahun 2020 kita minus 2,09 persen, Ini artinya ke depan tantangannya akan semakin berat karena kita stuck pada poin yang di bawah target. 

Jadi ketika di 2020 di bawah target yang dicanangkan maka berimbas di 2021 akan jauh lebih berat. Sehingga tantangannya akan semakin berat di tahun 2021 ketika situasinya sebenarnya dari sisi pandeminya sendiri belum menunjukkan tanda-tanda pemulihan. Karenanya pembenahan ekonomi akan jauh lebih berat.

Kalau bisa diklasifikasikan per sektor. Sektor mana saja yang menyumbang penurunan ekonomi terbesar sehingga menjadi perhatian lebih oleh pemerintah untuk menggenjot kembali usaha di 2021?

Kalau kita lihat kontribusi sektor kita sebenarnya paling besar ada tiga. Yang pertama industri pengolahan, hampir 28-29 persen kemudian perdagangan hampir 20 persen lalu sektor pertanian sekitar 15 persen. Jadi tiga sektor utama ini yang sebetulnya kontribusi pertumbuhan ekonominya tinggi.

Hanya pertanian, perhutanan dan perikanan yang tumbuh lebih baik tetap positif 2,9 persen. 

Sektor lain juga berkontribusi seperti konstruksi, pertambangan, transportasi hingga akomodasi makan dan minum. 

Jadi balancingnya masih belum terjadi. Yang menarik adalah dari sisi sektoral. Ada sektor-sektor yang trennya agak berbeda atau cenderung turun di kuartal ke empat sehingga ini memukul perbaikan ekonomi kita. Misalnya sektor konstruksi yang justru turun minus 5,67 persen yang sebelumnya minus 4,52 persen. 

Termasuk dua sektor lagi yang justru trennya turun yaitu pengadaan listrik dan gas dan juga pengadaan air. 

Dengan situasi ini terutama tiga sektor utama cenderung pemulihannya agak lambat maka otomatis ini menjadi tantangan yang sangat berat ketika daya beli masih relatif rendah di awal tahun 2021. Itu ditunjukan dengan inflasi kita yang masih rendah sekitar 1,5 persen pada Januari. Akibat rendahnya daya beli maka otomatis demand daripada ekonomi tidak berjalan baik sehingga sumbangan sektoral supplay juga menjadi tantangan yang jauh lebih besar.

Sejumlah kebijakan antara lain relaksasi bantuan sosial nyatanya belum bisa membangkitkan atau meningkatkan daya beli masyarakat sehingga ekonomi Indonesia minus di 2020. Karena berhubungan dengan 2021 sejumlah bantuan tunai terpaksa tidak dilanjutkan pada tahun ini. Ke depannya bagaimana Indonesia membangkitkan daya beli masyarakat ketika bantuan-bantuan atau stimulus-stimulus dari pemerintah tidak dilanjutkan semuanya?

Bantuan sosial maupun insentif diberikan porsinya beda-beda. Misalnya bantua sosial harusnya itu bisa mendorong konsumsi rumah tangga yang secara proporsi dalam struktur ekonomi kita hampir 5-7 persen. Tetapi kalau kita lihat dari rilis BPS ternyata pengeluaran konsumsi rumah tangga masih negatif minus 3,61 persen. Sementara kuartal ketiga minus 4,05 persen dan kuartal kedua minus 5,52 persen. Artinya perbaikan yang terjadi dari sisi konsumsi rumah tangga justru terjadi secara signifikan pada kuartal kemarin tetapi justru kuartal keempat pemulihan dari sisi konsumsi rumah tangga masih relatif lambat.

Betul bantuan pemerintah telah diberikan sekitar Rp233 triliun untuk bantuan sosial di tahun 2020 bahkan ditambah sebelumnya hampir Rp 210 triliun. Ada penambahan, ada perubahan anggaran dan ada realokasi tetapi tidak bisa mendorong. 

Kami menduga ada beberapa hal. Kalau kita pecah lagi kenapa konsumsi rumah tangga tidak begitu mendorong. Mengacu pada data rilis BPS justru konsumsi rumah tangga terutama makanan dan minuman justru jauh lebih buruk di kuartal keempat 2020. Kuartal keempat minus 1,39 persen sementara kuartal ketiga minus 0,69 persen. Ini berarti bantuan yang diberikan dalam bentuk sembako maupun bukan sembako tidak bisa mendorong konsumsi. Kebutuhan pokok kita jauh lebih penting padahal pemerintah sudah menyediakan kurang lebih antara Rp400 sampai Rp600 ribu. 

Di satu sisi vaksin sudah ditemukan dan sudah didistribusikan untuk meminimalisir penyebaran covid-19. Di sisi lain mungkin realistisnya di 2021 bisakah ekonomi didongkrak oleh pemerintah? Apa yang bisa dilakukan oleh pemerintah?

Data The Economist memperkirakan bahwa Indonesia salah satu negara yang paling lambat menerima vaksin. Artinya, meski pemerintah sudah berupaya membeli, melakukan kontrak dengan produsen-produsen vaksin di luar China tetapi banyak negara juga yang mengantri. Ketidakpastian kapan diberikan vaksin untuk seluruh sisanya itu juga akan memberikan pengaruh kepada proyek pemulihan ekonomi. Kalau kita lihat dengan situasi ini lalu apa yang harus dilakukan oleh pemerintah? 

Pertama kita harus mempertimbangkan opsi sedikit ekstrem misalnya lockdown. Lockdown harus menjadi pertimbangan yang perlu dikalkulasi dan penting. Karena kita sudah mengalami sekian bulan PSBB PPKM dan sebagainya ternyata tidak efektif karena faktor utamanya adalah kesiapan masyarakat. Merubah mereka untuk disiplin memakai masker tidak terlalu efektif. Yang kedua, bagaimana kita bisa memproduksi vaksin di dalam negeri. 

Nusantara Malam hadir untuk kebutuhan anda mengenai berita-berita terupdate setiap harinya. Saksikan Nusantara Malam setiap hari Senin - Jumat jam 22.00 WIB hanya di Nusantara TV

Login dengan
LIVE TV & NETWORK