Otto Hasibuan Nilai Perlu Diskusi Soal Larangan Pengacara Beriklan

Sebab pada kenyataannya banyak advokat yang beriklan melalui medsos

Konferensi internasional yang digelar Peradi bersama IBA dan ELF.

Jakarta, Nusantaratv.com - Sesuai kode etik, pengacara atau advokat di Indonesia dilarang mengiklankan diri. Sebab hal itu dianggap merendahkan martabat. 

Isu ini turut dibahas dalam konferensi internasional "New Opportunities and Challenges In International Practice: Globalisation & Professional Ethics", yang digelar Peradi bersama International Bar Association (IBA) dan European Lawyers Foudation (ELF), Senin (14/6/2021). 

"Khusus untuk perkembangan kode etik juga, Indonesia, Peradi, beriklan itu dilarang," ujar Ketua Umum Dewan Pimpinan Nasional Perhimpunan Advokat Indonesia (DPN Peradi) Otto Hasibuan usai konferensi, di Mandarin Oriental Hotel, Jakarta. 

Meski begitu, larangan mengiklankan diri ternyata tak berlaku universal. Advokat di Amerika Serikat (AS), kata Otto tetap boleh beriklan. 

"Lawyer itu nggak bisa bilang pengacara 24 jam, itu nggak ada iklan seperti itu. Tapi kalau kita pergi ke Amerika itu langsung mendarat di airport itu united lawyers, law firm 24 hours dan sebagainya itu sudah ada. Nah jadi ada beda," papar Otto. 

Walau advokat di Indonesia dilarang beriklan, menurut Otto kebijakan itu tak sepenuhnya dijalankan. Sebab, kata dia saat ini banyak pengacara yang mengiklankan diri di media sosial (medsos). 

Karenanya, menurut Otto perlu diskusi dan pengaturan lebih lanjut mengenai persoalan ini. 

"Meskipun kode etik advokat Indonesia ini melarang, tapi dengan adanya YouTube, Facebook kan ada iklan terselubung daripada lawyers. Sehingga saya tadi, ada isu-isunya, apakah kita masih mempertahankan tidak beriklan atau nggak boleh beriklan?" jelasnya. 

Jika nanti pada akhirnya advokat di Indonesia boleh mengiklankan diri, kata Otto pastinya terdapat penyesuaian dalam kode etik. Selain itu, pihak-pihak terkait pun harus memikirkan dampak-dampak lainnya sebagai akibat dari keputusan itu. 

"Kalau itu berubah, boleh beriklan, tentunya kode etik harus dirubah dan harus dipikirkan konsekuensinya bagi pencari keadilan. Jangan sampai gara-gara pintarnya si pengiklan, si pencari keadilan datang, rupanya masuk ke perangkap yang buruk. Ini problematik yang harus dibicarakan," tandas Otto. 

like
dislike
love
funny
angry
sad
wow
Login dengan
LIVE TV & NETWORK