Wamen LH Diaz Hendropriyono: Dekarbonisasi Satu-satunya Jalan, Jika Tidak Pulau-pulau Kita Tenggelam

Wamen LH Diaz Hendropriyono: Dekarbonisasi Satu-satunya Jalan, Jika Tidak Pulau-pulau Kita Tenggelam

Nusantaratv.com - 12 Februari 2026

Wakil Menteri Lingkungan Hidup Diaz Hendropriyono (NTV)
Wakil Menteri Lingkungan Hidup Diaz Hendropriyono (NTV)

Penulis: Ramses Manurung

Nusantaratv.com-Wakil Menteri Lingkungan Hidup Diaz Hendropriyono menegaskan bahwa dekarbonisasi bukan lagi sekadar pilihan kebijakan, melainkan satu-satunya jalan yang harus ditempuh Indonesia demi menjaga keberlanjutan ekonomi dan keselamatan wilayahnya.

Menurut Diaz, pemanasan global yang terjadi sejak Revolusi Industri telah membawa dampak nyata terhadap kenaikan suhu bumi. Berdasarkan perhitungan ilmiah, suhu rata-rata bumi meningkat sekitar 1,4 hingga 1,6 derajat Celsius dibandingkan masa sebelum Revolusi Industri.

“Apa yang terjadi ketika bumi makin panas? Es di Kutub Utara dan Selatan mencair, dan air laut pasti naik,” ujar Diaz dalam acara Nusantara Sustainability Trend Forum (Nature 2026), Kamis 12 Februari 2026.

Ia mengungkapkan, dalam beberapa dekade terakhir permukaan air laut telah naik sekitar 21 hingga 24 sentimeter. Bahkan, laju kenaikannya semakin cepat dalam beberapa tahun terakhir. Jika tren ini terus berlanjut, pada 2050 diperkirakan permukaan laut naik hingga 56 sentimeter yang berpotensi menenggelamkan sekitar 1.500 pulau di Indonesia. Sementara pada 2100, jika kenaikan mencapai 90 sentimeter, akan ada tambahan sekitar 115 pulau berukuran lebih besar yang terancam hilang.

“Kalau kita hanya bicara pertumbuhan ekonomi tapi pulau-pulau kita tenggelam, kita mau hidup di mana? Karena itu tidak ada jalan lain selain beralih dari karbonisasi ke dekarbonisasi,” tegasnya.

Dekarbonisasi Dorong Inovasi dan Pertumbuhan
Diaz membantah anggapan bahwa dekarbonisasi akan menghambat pertumbuhan ekonomi. Justru sebaliknya, ia menilai langkah ini membuka ruang inovasi besar di berbagai sektor.

Di sektor energi misalnya, pengembangan teknologi Carbon Capture, Utilization and Storage (CCUS) menjadi peluang strategis. Indonesia disebut memiliki potensi kapasitas penyimpanan karbon sebesar 12,2 miliar ton CO2 di lapangan minyak dan gas yang sudah tidak aktif, serta sekitar 500 miliar ton di akuifer salin.

“Inovasi langsung berkembang. Orang mulai mengeksplorasi potensi penyimpanan karbon kita,” katanya.

Tak hanya itu, transisi energi juga mendorong eksplorasi sumber listrik non-fosil, termasuk energi nuklir dengan berbagai pendekatan teknologi baru. Di sektor transportasi, pengembangan kendaraan hybrid hingga infrastruktur pengisian daya menjadi bagian dari transformasi rendah emisi.

Wamen Kehutanan dan Wamen Lingkungan Hidup bersama Direksi Nusantara TV (NTVnews / Dedi)

Sementara di sektor konstruksi dan pengelolaan sampah, inovasi seperti pembuatan batu bata dari sampah plastik hingga semen rendah emisi mulai berkembang. Diaz juga menyoroti banyaknya startup yang lahir dari sektor pengelolaan sampah sebagai bukti bahwa dekarbonisasi menciptakan ekosistem ekonomi baru.

“Dekarbonisasi justru menghidupkan inovasi di setiap sektor—energi, transportasi, konstruksi, agrikultur, hingga sampah,” ujarnya.

Daerah Dapat Insentif Internasional

Selain mendorong inovasi, Diaz menegaskan bahwa kebijakan dekarbonisasi juga membawa manfaat langsung bagi daerah melalui skema pendanaan internasional berbasis kinerja pengurangan emisi.

Indonesia, kata dia, telah menerima berbagai pendanaan dari mitra internasional, antara lain sekitar 219 juta dolar AS dari Norwegia, 70 juta dolar AS dari skema karbon, 20 juta dolar AS dari sumber lain, serta 103,8 juta dolar AS dari Green Climate Fund.

Pendanaan tersebut kemudian disalurkan ke berbagai provinsi dengan nilai bervariasi, mulai dari 100 ribu dolar AS hingga 1 juta dolar AS untuk wilayah seperti Papua. Sepanjang periode 2014–2016, Indonesia juga mencatat pengurangan emisi sekitar 20 juta ton CO2.

“Artinya, dengan dekarbonisasi ini provinsi atau daerah juga mendapatkan pendanaan tambahan dari luar negeri karena kita bisa menjaga hutan dan menurunkan emisi,” jelas Diaz.

Ia kembali menekankan bahwa dekarbonisasi merupakan fondasi dari pembangunan berkelanjutan (sustainable development). Tanpa peralihan dari ekonomi berbasis karbon, Indonesia berisiko kehilangan wilayah akibat kenaikan permukaan laut.

“Dekarbonisasi adalah the only way to go. Kalau kita tetap karbonisasi dan pulau-pulau tenggelam, kita mau hidup di mana? Jadi ini bukan hanya soal lingkungan, tapi soal masa depan ekonomi dan keberlanjutan bangsa,” pungkasnya.

 

Dapatkan update berita pilihan terkini di nusantaratv.com. Download aplikasi nusantaratv.com untuk akses berita lebih mudah dan cepat melalui:



0

x|close