Nusantaratv.com - Presiden Prabowo Subianto mengatakan kebijakan luar negeri Indonesia yang mengedepankan prinsip "bertetangga baik" atau good neighbor policy mampu menjaga hubungan harmonis dengan negara-negara sekitar sekaligus mengantisipasi potensi konflik, termasuk di wilayah Laut Natuna Utara.
Pernyataan tersebut disampaikan Presiden Prabowo saat berpidato dalam acara peresmian Museum Marsinah di Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur, Sabtu, 16 Mei 2026.
Dalam pidatonya, Presiden Prabowo menegaskan kebijakan bertetangga baik merupakan bagian dari implementasi politik luar negeri bebas aktif yang berakar pada konstitusi UUD 1945.
"Saya canangkan begitu saya jadi Presiden, politik luar negeri Indonesia adalah politik bebas aktif, nonblok, dan Indonesia ingin menjadi tetangga yang baik, we want to be the good neighbor, and our policy is the good neighbor policy. Jadi, saya perbaiki hubungan sama Singapura, perjanjian-perjanjian yang belasan tahun tidak diselesaikan, kita selesaikan," kata Presiden Prabowo.
Kepala Negara menyebut hubungan Indonesia dengan sejumlah negara lain semakin membaik melalui pendekatan diplomasi tersebut.
"Dengan Vietnam kita selesaikan. Sama Tiongkok, kita perbaiki. Alhamdulillah, sekarang di Natuna tidak sering terjadi ribut. Sama Malaysia, saya berusaha. Insyaallah kita selesaikan dengan baik, sama PNG kita baik, sama Australia kita baik, semua tetangga, sama Thailand kita baik," sambung Presiden Prabowo dalam pidatonya.
Menurutnya, kebijakan luar negeri yang dijalankannya merupakan penerus pemikiran para pendiri bangsa seperti Sukarno, Mohammad Hatta, dan Sutan Sjahrir.
"Kaum buruh, percayalah semuanya, faham saya adalah faham pendiri bangsa kita. Sebetulnya, saya yang banyak belajar dari ajaran-ajarannya Bung Karno. Maaf, Bung Karno bukan hanya milik satu partai. Bung Karno adalah milik seluruh bangsa Indonesia. Bung Karno, Bung Hatta, milik seluruh rakyat semuanya, Sjahrir, semua. Jadi, di situ kehebatan kita, kalau kita mau maju. Jadi, kita ambil kekuatan dari semua pihak. Itu dahsyat Indonesia. Makanya, banyak kawasan sering perang. Indonesia, bebas aktif, 1.000 kawan terlalu sedikit, satu lawan terlalu banyak. Kita hormati semua," ujar Presiden Prabowo.
Baca Juga: Di Nganjuk, Prabowo: Mau Dolar Berapa Ribu Kek, Kan Kalian di Desa-desa Nggak Pakai Dolar
Presiden Prabowo kemudian menceritakan pengalamannya saat menerima kunjungan resmi Perdana Menteri Fiji di Istana Merdeka.
Dia menegaskan Indonesia selalu memperlakukan semua negara sahabat secara setara tanpa membedakan besar kecilnya negara tersebut.
"Suatu saat, saya terima Perdana Menteri Fiji di Istana Merdeka. Saya terima kunjungan resmi. Dia masuk ke kantor saya setelah upacara. Di depan wartawan, dia keluar air mata. (PM Fiji menyatakan kepada Presiden Prabowo): Yang Mulia, saya selama jadi Perdana Menteri di Fiji - cukup lama dia menjadi Perdana Menteri di Fiji - saya belum pernah menerima penerimaan seperti ini. Saya sangat terharu. Kenapa? Karena negara saya sangat kecil. Negara dia hanya satu juta orang (penduduknya, red.), tetapi kita perlakukan sama dengan negara yang besar. Itulah Indonesia," ktukas Presiden Prabowo.
(Sumber: Antara)




Sahabat
Ntvnews
Teknospace
HealthPedia
Jurnalmu
Kamutau
Okedeh