"Hanya saja politik identitas yang tidak memberi toleransi pada yang berbeda justru akan menjadi api dalam sekam menghancurkan grassroot," tegas Rakyan.
Tak hanya itu saja, Raykan yang selau mengamati dan mengalami langsung dinamika politik identitas di DKI Jakarta saat pemilihan Gubernur menyatakan hingga saat ini masih terasa masyarakat menjadi terkotak-kotak.
"Bahkan hingga Pemilihan Ketua OSIS di sekolah negeri di Jakarta ada guru yang mengarahkan ke kandidat siswa Muslim," jelasnya.
Lebih lanjut Dr Subkhi Ridho menyebutkan perang ideologi yang intens di internet dengan pelaku itu-itu saja namun mempunyai banyak akun dan tersebar luas harus bisa diantisipasi dengan cepat dan tepat melalui internet dan gerakan nyata tidak berhenti dalam diskusi saja.
"Generasi saat ini tidak terbiasa membaca, lebih suka langsung melihat dan mendengar melalui medsos dari hape. Karenanya untuk edukasi bisa juga dilakukan melalui konten di TikTok, Instagram, Twitter," tegasnya.
Acara ditutup dengan pernyataan sikap Ketua Umum ABG Totok Ispurwanto yang dibacakan Ketua Panitia Abdul Haris Nepe. "Menolak tegas praktek politik identitas, radikalisme intoleransi yang mengancam demokrasi. Mengutuk pihak yang menggunakan untuk jualan politik meraih kekuasaan," tegasnya.
Selanjutnya mengajak seluruh elemen masyarakat menjauhi politik identitas, radikalisme intoleransi yang dapat menghancurkan keutuhan berbangsa dan bernegara.
"Mengajak seluruh elemen masyarakat Indonesia mengedepankan nilai-nilai Pancasila dan toleransi jelang hajatan demokrasi 2024," tegasnya.




Sahabat
Ntvnews
Teknospace
HealthPedia
Jurnalmu
Kamutau
Okedeh