Nusantaratv.com - Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, kembali memicu ketegangan global setelah mengancam Iran dengan serangan besar-besaran jika Selat Hormuz tidak segera dibuka.
Dalam pernyataan terbarunya, seperti dilaporkan Al Jazeera, Minggu (5/4/2026), Trump menyebut akan menargetkan infrastruktur sipil Iran, termasuk jembatan dan pembangkit listrik, apabila tenggat waktu yang ia tetapkan, pada Senin, tidak dipenuhi.
Ancaman tersebut disampaikan melalui unggahan media sosial pada Minggu (5/4/2026), yang bernada keras dan penuh kontroversi. Trump bahkan menyebut hari berikutnya sebagai momen kehancuran infrastruktur Iran.
"Selasa akan menjadi hari pembangkit listrik dan jembatan di Iran. Buka Selat itu, atau kalian akan hidup dalam neraka," tulis Trump dalam unggahannya di Truth Social.
Sebelumnya, pada 26 Maret, Trump memberikan ultimatum 10 hari kepada Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz, jalur vital perdagangan energi dunia yang terganggu sejak konflik antara AS, Israel, dan Iran memanas pada akhir Februari.
Meski mengeluarkan ancaman keras, Trump mengklaim negosiasi antara AS dan Iran masih berlangsung. Dia optimistis kesepakatan bisa tercapai sebelum batas waktu berakhir.
Di sisi lain, Iran merespons dengan tegas. Pemerintah Iran mengecam pernyataan Trump dan menilai ancaman tersebut sebagai pelanggaran serius terhadap hukum internasional.
Perwakilan Iran di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyatakan ancaman terhadap infrastruktur sipil dapat dikategorikan sebagai kejahatan perang, dan mendesak komunitas internasional untuk segera bertindak.
"Untuk kesekian kalinya, Presiden Amerika Serikat secara terbuka melontarkan ancaman untuk menghancurkan infrastruktur vital yang menjadi penopang kehidupan warga sipil di Iran," ujar misi Iran untuk PBB, menanggapi pernyataan Trump.
"Komunitas internasional dan seluruh negara memiliki kewajiban hukum untuk mencegah kejahatan perang yang begitu keji ini. Tindakan harus diambil sekarang, sebelum semuanya terlambat," lanjut pernyataan tersebut.
Sementara itu, pejabat komunikasi kantor presiden Iran, Seyyed Mehdi Tabatabaei, menegaskan Selat Hormuz tidak akan dibuka begitu saja. Iran, kata dia, menuntut kompensasi atas kerusakan akibat perang.
Dia juga mengungkapkan kemungkinan penerapan sistem baru, di mana kapal yang melintasi Selat Hormuz harus membayar biaya transit, bahkan setelah konflik berakhir.
Tabatabaei menilai pernyataan Trump sebagai bentuk keputusasaan. "Ucapan tersebut penuh kata-kata kasar dan tidak mencerminkan diplomasi," ujarnya.
Sejak konflik berlangsung, ancaman dari kedua pihak terus meningkat. Bahkan, Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth sebelumnya menyatakan Iran bisa "dikembalikan ke Zaman Batu" jika tidak mematuhi tuntutan Washington.
Serangan yang terjadi sejauh ini dilaporkan telah menyasar berbagai fasilitas sipil seperti jembatan, sekolah, rumah sakit, dan universitas. Para ahli memperingatkan beberapa tindakan tersebut berpotensi melanggar hukum perang internasional.
Meski demikian, Trump mengaku tidak khawatir terhadap dampak serangan terhadap warga sipil. Dia bahkan menyebut rakyat Iran "sudah hidup dalam penderitaan."
Hingga kini, belum ada kepastian kapan konflik akan berakhir. Trump hanya menyatakan perkembangan terbaru akan segera diumumkan dalam konferensi pers di Gedung Putih.
Di tengah eskalasi tersebut, Trump juga mengklaim militer AS berhasil mengevakuasi awak jet tempur F-15E yang sebelumnya ditembak jatuh di wilayah Iran.
Dia menyebut operasi tersebut sebagai aksi heroik yang menunjukkan keberanian luar biasa dari pasukan AS.




Sahabat
Ntvnews
Teknospace
HealthPedia
Jurnalmu
Kamutau
Okedeh