Menteri Wihaji Siapkan Program Andalan Cegah Angka Pengangguran hingga Gen Z ‘Ogah’ Menikah

Menteri Wihaji Siapkan Program Andalan Cegah Angka Pengangguran hingga Gen Z ‘Ogah’ Menikah

Nusantaratv.com - 15 Juni 2026

Wihaji (Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga) (NTVNews)
Wihaji (Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga) (NTVNews)

Penulis: Ramses Manurung

Nusantaratv.com-Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Mendukbangga)/Kepala BKKBN, Wihaji, merespons fenomena tantangan generasi muda saat ini, mulai dari tingginya angka pengangguran hingga tren generasi Z (Gen Z) yang cenderung menunda pernikahan. 

Mengenai fenomena menunda pernikahan di kalangan gen z, Kemendukbangga tengah menyiapkan sejumlah program strategis, di antaranya adalah Siap Impact dan Tamasya.

Menanggapi masalah penyerapan tenaga kerja yang belum maksimal bagi lulusan baru, Wihaji mengungkapkan pihaknya sedang melakukan uji coba program bernama Siap Impact. Program ini dirancang khusus untuk menyasar mahasiswa semester akhir agar memiliki daya saing yang lebih kuat sebelum memasuki dunia kerja.

"Ada program yang namanya Siap Impact. Ini nanti on process, selagi uji coba. Kami melibatkan mahasiswa-mahasiswa semester akhir untuk diberikan penguatan materi, pemahaman, dan pengetahuan secara komprehensif agar SDM kita lebih tangguh," tutur Wihaji, di kantornya, 15 Juni 2026.

Ia menegaskan bahwa program ini bukan bermaksud mengambil alih wewenang Kementerian Ketenagakerjaan, melainkan fokus pada penguatan kapasitas individu. 

"Outputnya nanti kita akan bekerja sama dengan industri tertentu. Ini lebih kepada penguatan kesiapan SDM kita agar lebih tangguh," tambahnya.

Selain masalah ekonomi, Wihaji juga menyoroti fenomena Gen Z yang mulai enggan atau menunda pernikahan karena faktor kecemasan. Menurut pantauannya, ada dua ketakutan utama yang menghantui anak muda: masalah ekonomi dan kekhawatiran terkait pengasuhan anak jika kedua orang tua bekerja.

Menjawab tantangan tersebut, Mendukbangga menawarkan program Tamasya (Taman Asuh Sayang Anak) atau penyediaan fasilitas daycare. 

"Kenapa ada sebagian yang menunda pernikahan? Karena ada ketakutan ekonominya gimana, lalu nanti anak saya siapa yang mengasuh? Jangan-jangan saya nanti keluar dari pekerjaan. Karena itulah kita punya program Tamasa," jelas Wihaji.

Saat ini, sudah terdapat 3.366 daycare binaan di seluruh Indonesia. Wihaji berharap keberadaan Tamasa dapat menjadi solusi bagi pasangan muda agar tetap bisa produktif bekerja tanpa harus mengabaikan tumbuh kembang anak. 

"Apakah menyelesaikan banyak masalah? Tentu tidak, tetapi ini bagian dari pilihan dan solusi supaya mereka tidak cemas," tuturnya.

Tak hanya fokus pada fasilitas fisik seperti daycare, pemerintah juga menyiapkan penguatan dari sisi mental dan peran keluarga melalui Gerakan Ayah Teladan Indonesia (Gati). Program ini bertujuan untuk memberikan edukasi dan menghilangkan ketakutan berlebih terhadap institusi pernikahan.

Wihaji menekankan bahwa selama syarat-syarat pernikahan sudah terpenuhi, generasi muda tidak perlu takut untuk melangkah ke jenjang berkeluarga.

"Kita berikan penguatan bahwa kecemasan dan ketakutan itu harus kita hilangkan. Jangan takut menikah dengan catatan syaratnya memenuhi. Program-program ini adalah jawaban yang kami berikan untuk fenomena penundaan pernikahan tersebut," pungkasnya.

 

Dapatkan update berita pilihan terkini di nusantaratv.com. Download aplikasi nusantaratv.com untuk akses berita lebih mudah dan cepat melalui:



0

x|close