Mendukbangga Wihaji Tekankan Peran Tim Pendamping Keluarga dalam Percepatan Pencegahan Stunting

Mendukbangga Wihaji Tekankan Peran Tim Pendamping Keluarga dalam Percepatan Pencegahan Stunting

Nusantaratv.com - 17 Juni 2026

Mendukbangga/Kepala BKKBN Wihaji dalam temu bersama kader Tim Pendamping Keluarga (TPK) di Banjarnegara, Jawa Tengah. (Antara)
Mendukbangga/Kepala BKKBN Wihaji dalam temu bersama kader Tim Pendamping Keluarga (TPK) di Banjarnegara, Jawa Tengah. (Antara)

Penulis: Ramses Manurung

Nusantaratv.com-Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Mendukbangga)/Kepala BKKBN Wihaji menegaskan pentingnya peran Tim Pendamping Keluarga (TPK) dalam mendampingi masyarakat untuk mencegah stunting sekaligus meningkatkan kualitas sumber daya manusia sejak tahap awal kehidupan.

Pernyataan tersebut disampaikan Wihaji saat menghadiri kegiatan Temu TPK dan Silaturahmi dalam rangka Penguatan Program Bangga Kencana (Pembangunan Keluarga, Kependudukan, dan Keluarga Berencana) yang digelar di Desa Batur, Kecamatan Batur, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah, Rabu, 17 Juni 2026.

Menurut Wihaji, pembangunan bangsa harus dimulai dari penguatan institusi keluarga, dan tugas tersebut tidak terlepas dari peran para pendamping keluarga yang setiap hari berinteraksi langsung dengan masyarakat.

"Kalau mau memperbaiki negara, perbaiki keluarga. Dan dimulai dari pendamping-pendamping keluarga. Saya bisa bertemu pahlawan-pahlawan keluarga yang setiap hari mendampingi calon pengantin, ibu hamil, balita, remaja, hingga lansia," ujar Menteri Wihaji dalam keterangannya di Jakarta.

Ia menjelaskan bahwa TPK memiliki posisi strategis sebagai garda terdepan dalam mendampingi keluarga di berbagai tahapan kehidupan, mulai dari calon pasangan pengantin, ibu hamil, balita, remaja hingga kelompok lanjut usia. Pendampingan tersebut dinilai penting untuk mewujudkan keluarga yang sehat, mandiri, dan berkualitas.

Dalam kesempatan itu, Wihaji juga menyoroti angka prevalensi stunting di Kabupaten Banjarnegara yang masih berada di level 20,9 persen. Angka tersebut sedikit lebih tinggi dibandingkan rata-rata nasional yang tercatat sebesar 19,8 persen.

Menurutnya, upaya mempercepat penurunan stunting tidak bisa dilakukan oleh pemerintah semata, melainkan membutuhkan keterlibatan berbagai pihak, terutama melalui pendampingan langsung kepada keluarga yang menjadi sasaran program.

Wihaji menjelaskan bahwa stunting merupakan kondisi gagal tumbuh yang dipengaruhi oleh berbagai faktor, antara lain pernikahan usia dini, kurangnya asupan gizi, kondisi sanitasi yang belum memadai, serta rendahnya pemahaman mengenai pola asuh anak yang tepat.

Karena itu, Kemendukbangga/BKKBN terus memperkuat pelaksanaan Program Bangga Kencana yang menitikberatkan pada langkah-langkah pencegahan sejak sebelum kelahiran.

Selain itu, ia juga menyinggung Program Makan Bergizi Gratis (MBG) 3B yang menyasar ibu hamil, ibu menyusui, dan balita sebagai salah satu strategi pemerintah dalam menekan angka stunting.

Melalui dukungan Tim Pendamping Keluarga, program tersebut diharapkan dapat menjangkau kelompok sasaran secara lebih tepat dan efektif, sekaligus memperkuat pembangunan keluarga sebagai fondasi menuju Indonesia Emas 2045.

Sementara itu, Bupati Banjarnegara dr. Amalia Desiana menyampaikan apresiasi kepada para kader TPK yang selama ini aktif membantu pemerintah daerah dalam upaya menurunkan prevalensi stunting.

"TPK Banjarnegara adalah kader-kader terbaik dan sangat membantu pemerintah kabupaten dalam mengatasi stunting," ujarnya, dikutip dari Antara.

 

Dapatkan update berita pilihan terkini di nusantaratv.com. Download aplikasi nusantaratv.com untuk akses berita lebih mudah dan cepat melalui:



0

x|close