Nusantaratv.com-Menteri Kebudayaan RI Fadli Zon meresmikan pengembangan sekaligus penataan lanskap Situs Candi Plaosan yang berada di kawasan Prambanan, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, Rabu malam, 21 Januari 2026.
Peresmian tersebut menandai dimulainya tahap pertama pengembangan kawasan Candi Plaosan yang mencakup pembangunan pintu masuk kawasan (entrance) serta pembangunan dan penataan area parkir bagi kendaraan pengunjung.
Fadli Zon mengatakan penataan kawasan Candi Plaosan merupakan bagian dari komitmen pemerintah dalam melestarikan peninggalan sejarah budaya sekaligus memperkuat posisinya sebagai destinasi wisata yang memiliki daya tarik bagi wisatawan domestik maupun mancanegara.
Selain penataan kawasan, Fadli juga mendorong agar proses pemugaran cagar budaya, khususnya candi, dapat memanfaatkan teknologi terbaru sehingga pelaksanaannya lebih efisien dan tidak memakan waktu terlalu lama.
"Seperti pemugaran perwara Candi Prambanan, satu perwara (candi pendamping) membutuhkan waktu 11 bulan, sedangkan di Candi Prambanan terdapat ratusan perwara, bisa-bisa untuk memugar seluruh perwara Candi Prambanan membutuhkan waktu lebih dari lima puluh tahun," katanya.
Kepala Museum dan Cagar Budaya (MCB) atau Indonesian Heritage Agency (IHA) Kementerian Kebudayaan, Indira Esti Nurjadin, menjelaskan bahwa pengembangan dan pemanfaatan Candi Plaosan dilaksanakan oleh MCB dengan sistem pengelolaan Badan Layanan Umum (BLU).
"Sistem pengelolaan keuangan berbentuk badan layanan umum ini diharapkan dapat mewujudkan MCB yang mandiri secara finansial, sehingga pembiayaan pelestarian museum dan cagar budaya tidak sepenuhnya bergantung pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN)," katanya.
Menurut Indira, pada 2025 MCB memulai pengembangan Candi Plaosan melalui penataan lanskap sebagai upaya meningkatkan kualitas layanan publik sekaligus mendukung pencapaian visi dan misi MCB.
"Pengembangan Candi Plaosan ini berpijak pada branding 'Harmony in Diversity' dengan pesan-pesan yang luar biasa dari Candi Plaosan," katanya.
Ia menjelaskan bahwa pesan-pesan tersebut mencerminkan nilai harmonisasi dalam kemajemukan yang berlandaskan dharma, kebijaksanaan, dan cinta, serta pengetahuan, teknologi, kearifan dalam mengelola lingkungan, etos kerja, dan keselarasan jiwa.
"Upaya pengembangan ini diharapkan mampu mengoptimalkan potensi pemanfaatan Candi Plaosan berdasarkan narasi dan branding yang telah disusun oleh Museum dan Cagar Budaya, berupa layanan kepada masyarakat," katanya.
Pengembangan Candi Plaosan untuk mendukung pemanfaatan tersebut dilakukan melalui berbagai penataan lanskap, mulai dari area inti Candi Plaosan (mandapa), area religius untuk yoga dan meditasi, area “relax and selfie”, hingga penataan area pintu masuk kawasan.
Selain itu, dilakukan pula penataan area publik yang dapat dimanfaatkan untuk kegiatan gala dinner, pernikahan, dan berbagai event, termasuk penataan kawasan di sepanjang aliran sungai.
"Kemudian penataan area parkir mobil dan sepeda motor penataan area parkir bus, penataan Kantor 'Werkeet', dan penataan pintu keluar (Exit)," katanya, dikutip dari Antara.
Indira menambahkan, mengingat penataan Candi Plaosan membutuhkan waktu serta biaya yang cukup besar, pelaksanaannya dilakukan secara bertahap. Pada 2025, penataan tahap pertama dibiayai melalui anggaran belanja tambahan (ABT) dari Pemerintah RI untuk pembangunan pintu masuk kawasan, area parkir bus, serta area parkir mobil dan sepeda motor.
"Penataan Lanskap Candi Plaosan Tahap I ini merupakan MCB dalam Reimajinasi Warisan Budaya melalui pendekatan yang inovatif dan berkelanjutan," katanya.
Ia menjelaskan bahwa pendekatan tersebut diwujudkan melalui tiga pilar strategis, yakni pemrograman ulang, perancangan ulang, dan penyegaran kembali.
"Ketiga pilar tersebut bertujuan untuk memperkuat peran museum dan cagar budaya sebagai ruang edukasi, pelestarian, dan interaksi budaya yang relevan dengan tantangan zaman," katanya.
Sebagai badan layanan umum, MCB terus mendorong keterlibatan berbagai pihak dalam pelestarian dan pengembangan warisan budaya Indonesia melalui kemitraan strategis, inisiatif bersama, peluang kontribusi bagi individu dan organisasi, serta partisipasi relawan.
"Keterlibatan berbagai pihak untuk berkontribusi dalam pelestarian cagar budaya, telah berlangsung sejak lama. Bersama MCB, 'Public Private Partnership' semakin terbuka. Sebagai contoh, pada Desember 2025 MCB mendapatkan hibah/pendanaan dari Djarum Foundation untuk pemugaran lima Perwara Candi Plaosan," katanya.




Sahabat
Ntvnews
Teknospace
HealthPedia
Jurnalmu
Kamutau
Okedeh