Nusantaratv.com - Utusan Khusus Presiden Bidang Iklim dan Energi, Hashim Djojohadikusumo, meyakini harga kredit karbon Indonesia berpeluang melonjak dalam beberapa tahun ke depan seiring penguatan aturan dan meningkatnya keterbukaan pasar karbon nasional.
Dalam forum Nusantara Sustainability Trend Forum 2026 (Nature 2026), Hashim menyampaikan bahwa saat ini harga karbon Indonesia masih berada di kisaran 6–10 dolar AS per ton. Nilai tersebut masih jauh di bawah harga karbon di sejumlah negara maju, seperti pasar Eropa yang sudah menyentuh 50–60 euro per ton, bahkan mencapai 100 dolar AS per ton di Kanada dan Swedia.
“Sekarang mungkin 6 sampai 10 dolar per ton. Tapi dengan Perpres 110, dengan carbon market yang makin transparan, saya yakin kita bisa menuju 30–40 dolar,” ujar Hashim di Jakarta, Kamis, 12 Februari 2026.
Hashim menjelaskan, selama ini investor luar negeri masih mempertanyakan kredibilitas data dan mekanisme verifikasi di Indonesia. Namun, ia menilai kondisi tersebut mulai berubah dengan hadirnya lembaga sertifikasi internasional seperti Verra dan Gold Standard yang memperkuat kepercayaan pasar global.
“Ada kesan sekarang pemerintah lebih terbuka, tidak menutup-nutupi data. Ini penting untuk meningkatkan harga karbon kita,” katanya.
Ia juga menegaskan Indonesia memiliki potensi besar dari sisi sumber daya alam yang bisa menghasilkan kredit karbon, mulai dari hutan tropis, kawasan mangrove, hingga padang lamun. Menurutnya, minat investor internasional terhadap kredit karbon Indonesia semakin tinggi.
“Ada dua sumber pembiayaan ekonomi hijau: dari kita sendiri melalui APBN yang lebih efisien, dan dari investor luar negeri yang ingin membeli kredit karbon. Ini peluang besar,” jelas Hashim.
Dengan tata kelola yang lebih kuat dan sistem pasar yang semakin transparan, Hashim optimistis pasar karbon bisa menjadi salah satu sumber pendapatan baru bagi negara sekaligus mendorong percepatan pencapaian target penurunan emisi nasional.




Sahabat
Ntvnews
Teknospace
HealthPedia
Jurnalmu
Kamutau
Okedeh