Nusantaratv.com-Ketegangan diplomasi antara Indonesia dan negara-negara tetangga terkait bencana kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) lintas batas kembali memuncak. Di tengah riuh saling tanggap antarnegara, Pakar Forensik Kebakaran Hutan dari Institut Pertanian Bogor (IPB University), Prof. Bambang Hero Saharjo, menegaskan bahwa pembuktian ilmiah mengenai asal-usul asap Karhutla kini sangat transparan dan dapat dibuktikan secara presisi melalui teknologi forensik satelit.
Akademisi yang juga bertindak sebagai ahli forensik kebakaran lahan untuk Mabes Polri tersebut memaparkan analisis mendalam terkait pergerakan emisi Karhutla yang dampaknya kini meluas ke kawasan Asia Tenggara.
Profesor Bambang Hero menjelaskan bahwa penentuan lokasi awal, durasi, hingga arah pergerakan asap Karhutla yang menyeberangi batas negara bukanlah hal yang rumit dalam dunia forensik lingkungan modern. Penggunaan teknologi pencitraan satelit dan alat pemantauan emisi canggih memungkinkan identifikasi titik api (hotspot) secara real-time dan akurat.
"Sektor forensik lingkungan melihat hal ini sebagai sesuatu yang sangat terukur. Dengan menggunakan satelit, sebenarnya mudah sekali untuk mendeteksi dari mana sumber asap Karhutla berasal, kapan mulainya, berapa lama durasinya, hingga ke mana arah pergerakannya," ujar Prof. Bambang Hero Saharjo saat menjadi narasumber dalam program GESTUR di Nusantara TV yang dipandu Host Naila Husna, Kamis (29/10/2026).
Ia mencontohkan jejak pergerakan emisi pada tahun-tahun sebelumnya yang tercatat secara terperinci dalam basis data pemantauan ilmiah.
"Sebagai contoh, data pemantauan menunjukkan pada 17 Juli emisi asap dari wilayah Indonesia melintas ke Malaysia. Kemudian pada 21 Juli, asap dari Kalimantan kembali masuk ke wilayah Malaysia. Tahun ini dampaknya bahkan tercatat lebih berat dan luas," jelasnya.
Baca juga: GESTUR: Penegakkan Hukum Karhutla Mengendur? Pakar HI UKI Soroti Soal Komitmen Politik Pemerintah
Menurut Prof. Bambang, Singapura memiliki peralatan sains dan analisis atmosferik canggih yang diakui di tingkat regional ASEAN untuk memastikan sumber dan volume emisi Karhutla.
Ia menambahkan bahwa investigasi forensik telah mengukur secara pasti tingkat kerusakan dan luas areal yang terbakar pada masing-masing konsesi korporasi.
"Kami tahu persis berapa luas areal yang terbakar, kapan api mulai menyala, bagaimana kronologinya, dan variabel teknis lainnya. Seluruh data tersebut klop dan terverifikasi secara ilmiah," tegasnya.
Prof. Bambang mengungkapkan bahwa dirinya rutin memantau pergerakan emisi dan pusaran asap Karhutla setiap minggu melalui sistem Copernicus Atmosphere Monitoring Service (CAMS).
"Setiap minggu saya memantau data CAMS untuk melihat pusaran emisi, berapa volume emisi yang dikeluarkan, hingga pemeringkatan wilayah kejadian di Indonesia. Seluruh fakta saentifik itu sangat jelas (clear) dan persis dengan kondisi riil di lapangan," kata Prof. Bambang.




Sahabat
Ntvnews
Teknospace
HealthPedia
Jurnalmu
Kamutau
Okedeh