Effendi Gazali soal Gibran Ngaku Punya Ijazah SMA: Tunjukkan! Ini Justru Kesempatan

Effendi Gazali soal Gibran Ngaku Punya Ijazah SMA: Tunjukkan! Ini Justru Kesempatan

Nusantaratv.com - 15 Oktober 2026

Pakar Komunikasi Politik Effendi Gazali di Program Suara Nusantara, Nusantara TV, Rabu (15/10/2026). Sumber Foto: Toga Ibnu Pratama
Pakar Komunikasi Politik Effendi Gazali di Program Suara Nusantara, Nusantara TV, Rabu (15/10/2026). Sumber Foto: Toga Ibnu Pratama

Penulis: Ninuk Cucu Suwanti

 

 

NusantaraTV.com- Pakar Komunikasi Politik Effendi Gazali mengaku percaya jika seorang yang pernah menempuh jenjang pendidikan S1 berarti punya ijazah SMA. Oleh karena itu, Effendy mendorong Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka untuk menunjukkan ijazah SMA yang disetarakan.

Pernyataan itu disampaikan oleh Effendi Gazali dalam Program Suara Nusantara di Nusantara TV, Rabu (14/10/2026).

“Sampai hari ini saya masih percaya, kalau Anda pernah S1 itu berarti punya ijazah SMA. Apalagi kalau ini (Gibran) tadi punya prestasi yang lebih luar biasa. Bachelor Honours, jadi artinya luar biasa. Tinggal tunjukkan,” ujar Effendi.

Menurut Effendi, pasca-putusan Mahkamah Konstitusi seharusnya ditangkap oleh Gibran sebagai kesempatan selebar-lebarnya untuk menunjukkan bahwa dirinya maju Pilpres 2024 dengan memenuhi syarat yang ditetapkan.

“Ini justru kesempatan yang dibuka selebar-lebarnya menurut saya untuk Mas Gibran. Tinggal tunjukkan, kan selalu kan, nanti akan di-follow up, akan ada tanggal mainnya, ini tanggal mainnya,” ujar Effendi.

Meski Effendi mendorong Gibran untuk membuka ijazah kelulusan setara SMA ke publik. Secara blak-blakan, Effendi mengaku tidak percaya dengan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) soal penyetaraan pendidikan dari luar negeri ke dalam.

“Saya tidak percaya dengan (Kementerian) Dikdasmen, entah siapa yang pada waktu,” ucap Effendi.

Effendi kemudian memberikan contoh dari pengalamannya saat dirinya berada di Amerika.

“Baru saja terjadi. Saya ke Amerika itu pas lagi Piala Dunia saya lihat, ada sekolah yang di Amerika cuma ada TK-nya, TK saja. Itu dianggap di Indonesia sebagai sekolah internasional ya,” kata Effendi.

“Jadi lembaga pendidikan asing yang ada satuan pendidikan kerja samanya. Dari TK, SD, SMP, SMA itu ijazahnya nanti bagaimana tuh? Ijazah internasional apa ijazah nasional ataukah itu betul-betul juga ijazahnya itu pakai nama asing atau pakai nama di sini.”

Oleh karena itu, Effendi mendorong Kementerian Dikdasmen punya standar yang jelas. Misal, kuliah di luar negeri bukan hanya mementingkan certificate of attendance tetapi certificate of complaion.

“Apa arti certificate completion? Anda ngambil berapa? Misalnya 20 mata kuliah yang lulus berapa? Yang failed berapa gitu loh. Di beberapa kampus bisa dua failed masih lanjut misalnya. Tapi kalau failed setengah enggak boleh lanjut. Ini kesempatan. Tunjukkanlah bahwa Anda komplit lulus sesuai dengan aturan,” ujar Effendi.

 

Dapatkan update berita pilihan terkini di nusantaratv.com. Download aplikasi nusantaratv.com untuk akses berita lebih mudah dan cepat melalui:



0

x|close