Nusantaratv.com-Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) resmi meluncurkan Daya Saing Daerah (IDSD) 2025 sebagai instrumen strategis berbasis data guna memperkuat kontribusi daerah dalam menopang daya saing nasional yang produktif sekaligus inklusif.
Kepala BRIN Arif Satria dalam peluncuran IDSD 2025 di Jakarta pada Selasa, 24 Februari 2026, menjelaskan bahwa indeks tersebut dirancang agar mudah dipahami dan dapat menjadi rujukan bagi pemerintah daerah dalam meningkatkan kapasitas serta performa pembangunan masing-masing wilayah.
"Itulah sebabnya BRIN berusaha untuk melakukan upaya pengukuran ini, karena salah satu tugas BRIN adalah melakukan pengukuran indeks untuk berbagai ukuran pembangunan," katanya.
Arif menegaskan bahwa IDSD bukan sekadar alat untuk menunjukkan capaian prestasi daerah, melainkan sarana evaluasi guna memperkuat kapasitas dan merancang intervensi kebijakan yang tepat sasaran di berbagai sektor.
"Pertumbuhan ekonomi itu akan sangat tergantung pada kekuatan R&D, kekuatan inovasi, kekuatan entrepreneurship, dan kekuatan human capital," ujarnya.
Ia memaparkan bahwa dunia saat ini dihadapkan pada perubahan yang berlangsung sangat cepat.
Perkembangan teknologi, menurutnya, melaju lebih pesat dibanding perubahan individu, sementara perubahan individu lebih cepat daripada transformasi bisnis, dan perubahan bisnis bergerak lebih cepat dibanding kebijakan publik.
Situasi tersebut menjadi tantangan besar yang harus direspons dengan strategi matang agar Indonesia mampu memanfaatkan peluang dari percepatan perubahan global.
"BRIN punya tugas bagaimana kita ini bisa melakukan upaya proyeksi terhadap perkembangan teknologi ke depan akan seperti apa. Teknologi ke depan harus kita proyeksikan dari sekarang, sehingga dengan proyeksi teknologi ke depan 2030, 2035, 2040, itu kita tarik mundur dengan penyiapan kerangka risetnya seperti apa," ungkapnya, dikutip dari Antara.
Arif juga mencontohkan sejumlah sektor strategis yang mengalami pergeseran paradigma.
"Seperti energi, ketika bicara energi, tidak mungkin lagi kita bicara energi fosil, tapi sekarang green hydrogen menjadi kekuatan. Ketika kita bicara tentang baterai untuk mobil, tidak lagi bicara tentang baterai berbasis nikel misalnya, (tapi) berbasis graphene. Ketika kita bicara soal protein, maka yang kita bicarakan adalah tentang future protein, future food, pola-pola pangan yang memang berbasis pada teknologi, culture meat dan sebagainya," lanjut Arif.
Ia pun mengajak seluruh pemerintah daerah untuk memanfaatkan IDSD 2025 sebagai rujukan dalam perumusan dan implementasi kebijakan pembangunan, sehingga pemerataan kemajuan antarwilayah dapat terwujud, khususnya dalam menyongsong visi Indonesia Emas 2045.
"Tumbuhnya riset dan inovasi ini akan menjadi kekuatan bagi Indonesia ke depan, karena Indonesia akan menjadi empat besar dunia pada tahun 2050 nanti. Tidak ada cara lain selain kekuatan dari capital dan kekuatan inovasi. Semoga dengan indeks ini, daerah semakin semangat untuk terus memperbaiki indeksnya dengan berbagai langkah kebijakan umum-umum pembangunan dan BRIN melalui BRIDA (Badan Riset dan Inovasi Daerah), Insya Allah, siap untuk bisa memperkuat ekosistem riset dan inovasi daerah," tutur Kepala BRIN Arif Satria.




Sahabat
Ntvnews
Teknospace
HealthPedia
Jurnalmu
Kamutau
Okedeh