Nusantaratv.com-Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) mengungkap sejumlah manfaat dari kerja sama dengan United States Pharmacopeia (USP) yang telah terjalin sejak 2025. Kolaborasi tersebut dinilai memperkuat kualitas pengawasan obat di Indonesia melalui penerapan standar internasional, peningkatan kompetensi sumber daya manusia (SDM), hingga modernisasi laboratorium.
Kepala BPOM Taruna Ikrar mengatakan, USP dipilih sebagai mitra karena merupakan lembaga yang memiliki standar farmasi berkelas dunia dan telah menjadi rujukan internasional dalam pengembangan produk farmasi, mulai dari obat berbasis kimia hingga produk biologis.
"Hari ini pertemuannya sangat penting karena kita memperkuat kemitraan untuk memastikan reputasi, kekuatan, dan keberlangsungan semua produk yang akan diregistrasi di Indonesia. Kita akan bermitra dengan United States Pharmacopeia untuk menggunakan standar mereka karena kita percaya standar tersebut aman," kata Taruna dalam Joint Symposium USP-BPOM di Ballroom Novotel Jakarta Pulomas, pada Rabu, 22 Juli 2026.
Menurut Taruna, seluruh proses pemberian izin edar obat di Indonesia kini mengedepankan pendekatan berbasis sains.
"Semua persetujuan izin edar produk di Indonesia harus didasarkan pada bukti ilmiah, bukan berdasarkan testimoni. Salah satu bagian penting dari pendekatan ilmiah itu adalah penggunaan standar, baik untuk produk kimia maupun biologis," ujarnya.
Taruna menjelaskan, salah satu manfaat utama kerja sama tersebut adalah BPOM dapat menggunakan standar USP sebagai acuan dalam menguji kualitas berbagai produk farmasi.
"Keuntungan pertama, tentu kita menggunakan standar USP. Misalnya untuk produk kimia maupun produk biologi kita sudah memiliki parameter standar. Dengan begitu kita tidak perlu lagi melakukan penetapan standar ulang di dalam negeri karena sudah memiliki referensi," jelasnya.
Selain itu, penggunaan standar USP dinilai akan meningkatkan kepercayaan dunia terhadap produk farmasi asal Indonesia.
"Karena kita mengacu kepada USP, dampaknya adalah negara-negara lain yang juga menggunakan referensi USP akan semakin percaya kepada Indonesia. Selain sudah berstatus WHO Listed Authority, standar yang kita gunakan juga berasal dari lembaga yang memiliki reputasi dan kredibilitas tinggi," katanya.
Taruna mengatakan, kerja sama tersebut juga difokuskan pada pengembangan kapasitas SDM BPOM melalui program capacity building. Pegawai BPOM dikirim untuk mempelajari teknologi farmasi terkini, khususnya di bidang produk biologis.
"Kita ingin mengembangkan kemampuan para laboran, penguji, dan peneliti kita. Pegawai-pegawai BPOM kita kirim untuk belajar mengenai terapi genetik, terapi RNA, mRNA, biosimilar, hingga produk biologis lainnya," ujarnya.
Tak hanya itu, kerja sama dengan USP juga membuka peluang transfer teknologi sekaligus pembaruan fasilitas laboratorium BPOM.
"Transfer teknologi yang kita dapatkan luar biasa. Salah satu keuntungan yang sudah mulai kita rasakan sekarang adalah USP akan membantu memperbarui laboratorium BPOM yang memang sudah perlu dimodernisasi," kata Taruna.
Sementara itu, Executive Vice President, Programs, Regional Operations and Strategy sekaligus Chief Growth Officer USP Amanda Cowley, J.D., mengatakan pihaknya menyambut baik kerja sama jangka panjang dengan BPOM.
Menurut Amanda, kolaborasi tersebut mencerminkan komitmen kedua lembaga dalam memperkuat keahlian ilmiah dan sistem regulasi obat di Indonesia.
"Kami sangat senang memiliki nota kesepahaman jangka panjang dengan Indonesia yang mencerminkan komitmen bersama untuk mengembangkan keahlian ilmiah dan memperkuat kolaborasi di bidang regulasi," ujar Amanda.
Ia juga menyatakan USP bangga dapat mendampingi BPOM dalam memperkuat kapasitas regulator obat Indonesia, termasuk dalam perjalanan menuju regulator berstandar internasional.
"Kami bangga menjadi mitra BPOM dalam perjalanan menuju WHO Listed Authority. Ini merupakan proses yang sangat penting dan membutuhkan komitmen yang luar biasa. Kami senang dapat memberikan dukungan melalui keahlian ilmiah dan kolaborasi," katanya.
Amanda menilai, penguatan kapasitas BPOM tidak hanya memberikan manfaat bagi Indonesia, tetapi juga bagi masyarakat global.
"Kami percaya bahwa BPOM Indonesia yang kuat bukan hanya baik bagi Indonesia, tetapi juga bagi dunia. BPOM yang kuat akan menghasilkan obat-obatan berkualitas yang dapat memberikan manfaat bagi masyarakat di seluruh dunia. Kami menantikan kemitraan ini terus berlanjut," tuturnya.




Sahabat
Ntvnews
Teknospace
HealthPedia
Jurnalmu
Kamutau
Okedeh