Nusantaratv.com-Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menyatakan dukungannya terhadap pengembangan vaksin dengue berbasis mRNA hasil kolaborasi Universitas Indonesia dan Tsinghua University. Dukungan tersebut diberikan melalui pengawasan untuk memastikan vaksin yang dikembangkan memenuhi aspek keamanan, khasiat, dan mutu sebelum digunakan masyarakat.
Kepala BPOM Taruna Ikrar mengatakan pengembangan vaksin ini memiliki arti penting, tidak hanya bagi Indonesia tetapi juga untuk penanganan dengue secara global. Ia mengungkapkan, setiap tahun sekitar 390 juta orang di dunia terinfeksi virus dengue. Sementara berdasarkan data Kementerian Kesehatan, sekitar 161 ribu kasus terjadi setiap tahun di Indonesia dengan sekitar 700 kematian.
"Ini adalah sebuah penemuan penting, dan kita bisa mengembangkan lebih banyak lagi," kata Taruna dalam acara peluncuran mRNA Dengue Vaccine Prototype di Jakarta, Rabu, 8 Juli 2026.
Menurut Taruna, teknologi mRNA menawarkan sejumlah keunggulan, seperti lebih stabil, memiliki efektivitas yang baik, menggunakan teknologi yang lebih maju, serta lebih mudah dikembangkan dibandingkan pendekatan lain.
Ia menegaskan BPOM menjalankan amanat Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan dengan memastikan seluruh produk kesehatan, termasuk vaksin, yang digunakan masyarakat memenuhi standar keamanan, khasiat, dan kualitas.
Meski vaksin tersebut masih dalam tahap pengembangan, Taruna menilai pencapaian saat ini merupakan langkah awal yang sangat penting. Ia juga berharap kolaborasi internasional tersebut mampu memberikan kontribusi dalam pengendalian penyakit dengue di berbagai negara.
"Saya percaya kolaborasi antara dua universitas hebat dan institusi seluruh dunia , termasuk Universitas Indonesia dan Tsinghua University, saya percaya hasilnya akan berjalan dan menjadi baik," katanya.
Taruna juga mengapresiasi seluruh pihak yang sejak awal melibatkan BPOM dalam proses pengembangan vaksin. Menurutnya, keterlibatan sejak tahap awal membuat BPOM lebih memahami standar, metode, dan karakteristik produk sehingga proses pendampingan dapat dilakukan secara lebih optimal.
"Karena ini kita akan buat sejarah. mRNA vaksin pertama di dunia untuk penyakit demam berdarah," katanya.
Pada kesempatan yang sama, Principal Investigator Departemen Mikrobiologi Klinik Universitas Indonesia, Beti Ernawati, mengatakan vaksin dengue berbasis mRNA saat ini masih berada pada tahap uji praklinis.
"Tetapi dari hasil pre-clinical trial yang kita lakukan, ternyata memang dilihat titer antibodi untuk netralisasi virus dengue, terutama serotipe 1, 2, 3, 4 strain Indonesia, itu jauh lebih baik dibandingkan dengan commercial vaccine yang sudah ada di Indonesia," katanya, dikutip dari Antara.
Beti berharap dalam enam bulan ke depan efektivitas vaksin pada subjek penelitian di Indonesia sudah dapat diketahui dan memberikan hasil yang sejalan dengan temuan pada uji praklinis.
Sementara itu, Direktur Lembaga Pengelola Dana Pendidikan, Ayom Widipaminto, mengatakan pengembangan prototipe dan uji klinis vaksin tersebut didanai oleh LPDP bersama PT Etana Biotechnologies Indonesia. LPDP mengalokasikan dana sebesar Rp7 miliar, sedangkan PT Etana memberikan dukungan Rp9 miliar.
Ayom menegaskan pihaknya siap melanjutkan dukungan pendanaan agar Indonesia memiliki vaksin dan alat kesehatan yang dibutuhkan.
"Ini tahun kedua, dan kita akan lanjut tahun ketiga. Ke depan, dana abadi penelitian, pokoknya ada 14 triliun. Setiap tahun ada 1 triliun yang bisa dimanfaatkan. Dan ruangnya cukup besar," katanya.




Sahabat
Ntvnews
Teknospace
HealthPedia
Jurnalmu
Kamutau
Okedeh