BNI Tegaskan Pengelolaan Bisnis Tetap Prudent dan Berkelanjutan Usai Perubahan Outlook Moody’s

BNI Tegaskan Pengelolaan Bisnis Tetap Prudent dan Berkelanjutan Usai Perubahan Outlook Moody’s

Nusantaratv.com - 12 Februari 2026

BNI (BNI)
BNI (BNI)

Penulis: Alamsyah

Nusantaratv.com - PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk atau BNI memastikan operasional dan strategi bisnis tetap dijalankan secara hati-hati dan berkelanjutan menyusul perubahan outlook dari Moody’s. Perseroan menegaskan bahwa penguatan tata kelola dan manajemen risiko menjadi prioritas utama untuk menjaga stabilitas kinerja.

Corporate Secretary BNI Okki Rushartomo menyampaikan bahwa penyaluran kredit tetap difokuskan pada kualitas dengan prinsip kehati-hatian.

“Strategi penyaluran kredit tetap dijalankan secara selektif dan terukur, dengan mengedepankan kualitas dan prinsip kehati-hatian,” kata Corporate Secretary BNI Okki Rushartomo dalam keterangannya di Jakarta, Kamis, 12 Februari 2026.

Ia menambahkan, BNI terus berkoordinasi dan bersinergi dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Bank Indonesia (BI), serta Kementerian Keuangan (Kemenkeu) guna menjaga stabilitas sistem keuangan dan mempertahankan kepercayaan pasar.

Okki menjelaskan bahwa penyesuaian outlook oleh Moody’s sejalan dengan perubahan outlook sovereign Pemerintah Indonesia dan bukan cerminan penurunan kinerja maupun peningkatan risiko internal perseroan.

“Posisi perseroan saat ini masih di level investment grade, hal ini tercermin dari posisi kinerja perseroan akhir tahun 2025,” kata dia.

Secara fundamental, hingga akhir tahun buku 2025, indikator keuangan BNI dinilai tetap solid. Rasio kecukupan modal (CAR) tercatat 20,7 persen, jauh di atas batas minimum regulator. Dari sisi kualitas aset, rasio kredit bermasalah (NPL) bruto berada di level 1,9 persen dengan loan at risk (LaR) sebesar 8,5 persen.

Tingkat pencadangan juga menunjukkan kehati-hatian, dengan coverage ratio NPL mencapai 205,5 persen dan pencadangan LaR sebesar 46,9 persen. Hal ini mencerminkan kesiapan perseroan dalam mengantisipasi potensi risiko ke depan.

Kinerja operasional turut menopang fundamental tersebut. Pada kuartal IV 2025, BNI membukukan Pendapatan Operasional sebelum Pencadangan (PPOP) sebesar Rp9,4 triliun. Sepanjang tahun, pendapatan bunga bersih (NII) tercatat Rp40,3 triliun, meski loan yield tertekan akibat penurunan suku bunga acuan. Sementara itu, pendapatan nonbunga tumbuh 5,2 persen secara tahunan menjadi Rp24,6 triliun.

Sebelumnya, Moody’s pada Kamis, 5 Februari 2026 mempertahankan sovereign credit rating Indonesia di level Baa2 namun merevisi outlook dari stabil menjadi negatif. Sejalan dengan langkah tersebut, lembaga pemeringkat itu juga menyesuaikan outlook lima bank nasional menjadi negatif, yakni Bank Mandiri, Bank Rakyat Indonesia (BRI), BNI, Bank Central Asia (BCA), dan Bank Tabungan Negara (BTN).

Meski outlook direvisi, Moody’s tetap mempertahankan peringkat utama kelima bank tersebut, termasuk issuer ratings, deposit ratings, senior unsecured ratings, serta sejumlah indikator risiko dan profil kredit lainnya.

Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae sebelumnya menyatakan bahwa perubahan outlook tersebut tidak menimbulkan dampak signifikan terhadap stabilitas industri perbankan nasional. Ia menilai tidak terdapat isu struktural yang memengaruhi fundamental perbankan.

Sementara itu, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyampaikan pemerintah akan memberikan penjelasan komprehensif terkait proyeksi ekonomi Indonesia pada Jumat, 13 Februari 2026 melalui forum Indonesia Economic Outlook, sebagai respons atas outlook negatif dari Moody’s.

Dengan berbagai indikator fundamental yang terjaga, BNI menegaskan komitmennya untuk tetap menjaga prinsip kehati-hatian sekaligus memastikan pertumbuhan bisnis yang berkelanjutan di tengah dinamika eksternal.

Dapatkan update berita pilihan terkini di nusantaratv.com. Download aplikasi nusantaratv.com untuk akses berita lebih mudah dan cepat melalui:



0

x|close