Nusantaratv.com - Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional Perwakilan Provinsi Kepulauan Riau (BKKBN Kepri) Rohina berharap materi stunting atau kekerdilan dapat disampaikan melalui Khotbah Shalat Jumat, ceramah hingga tausyiah agama oleh pendakwah.
"Pendakwah bisa menyampaikan apa itu stunting dan bagaimana cara pencegahannya melalui ceramah-ceramah agama," kata Rohina di Tanjungpinang, Selasa.
Ia menilai cara seperti itu akan sangat efektif, karena mayoritas masyarakat Kepri ialah orang Melayu yang identik dengan agam islam, sehingga upaya tersebut menjadi sumber daya lokal yang paling baik untuk menyebarluaskan informasi kepada masyarakat berkaitan dengan bahaya stunting.
Rohina menyampaikan pendakwah atau da'i punya peran strategis dalam mendukung upaya penurunan kasus stunting, khususnya di Kepri yang saat ini tercatat di angka 17,6 persen, dan ditargetkan turun menjadi 10,2 persen pada tahun 2024.
"Persoalan stunting ini harus menjadi perhatian semua pihak. Stunting tidak hanya berdampak pada kesehatan yang lemah, tapi juga memicu ekonomi yang lemah," ujar Rohina.
Rohina menyampaikan saat ini secara umum penanganan kasus stunting di Kepri sudah cukup baik.
Ia mencontohkan di Kota Batam, sudah banyak bapak asuh dari perusahaan-perusahaan yang memberikan dana CSR untuk membantu anak-anak stunting.
Kemudian di Kota Tanjungpinang, katanya, penanganan kasus stunting melibatkan Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) berkolaborasi dengan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) Pemkot Tanjungpinang.
Dari dari 42 anak yang harus segera ditangani di Tanjungpinang. Semuanya sudah tertangani dengan baik, yakni 22 orang oleh Baznas dan 20 orang lainnya oleh OPD.
"Kalau secara keseluruhan se-Kepri, ada 400 anak berisiko stunting. Alhamdulillah, semua juga sudah ditangani dengan baik, berkat kerja sama lintas sektor pemerintah maupun swasta," ungkap Rohina.
Rohina menyampaikan penanganan anak dengan stunting itu meliputi pemberian gizi yang cukup, misalnya melalui dapur sehat PKK yang ada di semua kabupaten/kota, di mana mereka memberikan makanan bergizi kepada anak stunting, seperti susu.
Dia optimistis upaya-upaya tersebut dapat menyehatkan anak-anak berisiko stunting, kecuali anak bersangkutan punya penyakit penyerta maka akan dirujuk ke dokter anak.
"Kami juga melibatkan tim pakar untuk memberikan rujukan yang jika anak sudah diberi makanan bergizi dan pemahaman tentang stunting, tapi tak kunjung mengarah ke kondisi sehat atau tak ada perubahan sama sekali," katanya pula.
Rohina belum dapat menyampaikan jumlah anak menderita stunting yang dinyatakan sehat maupun dirujuk ke dokter anak, karena data tersebut baru dapat dilihat pada akhir tahun 2022.(Ant)




Sahabat
Ntvnews
Teknospace
HealthPedia
Jurnalmu
Kamutau
Okedeh