BKKBN: Bayi Prematur dan Berat Rendah Berisiko Tinggi Terkena Stunting

BKKBN: Bayi Prematur dan Berat Rendah Berisiko Tinggi Terkena Stunting

Nusantaratv.com - 22 Desember 2022

Tangkapan layar Direktur Bina Keluarga Balita dan Anak BKKBN Irma Ardiana dalam Webinar Promosi dan KIE Pengasuhan 1000 HPK yang diikuti secara daring di Jakarta, Rabu (14/9/2022). (ANTARA/Hreeloita Dharma Shanti)
Tangkapan layar Direktur Bina Keluarga Balita dan Anak BKKBN Irma Ardiana dalam Webinar Promosi dan KIE Pengasuhan 1000 HPK yang diikuti secara daring di Jakarta, Rabu (14/9/2022). (ANTARA/Hreeloita Dharma Shanti)

Penulis: Habieb Febriansyah

Nusantaratv.com - Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) mengingatkan bahwa bayi yang lahir baik dalam keadaan prematur maupun Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) berisiko lebih tinggi untuk terkena stunting.
 

"Bayi dengan prematuritas, BBLR ini punya risiko stunting. Bayi tersebut kesulitan makan sehingga berat badannya ini tidak bertambah dengan usianya,” kata Direktur Bina Keluarga Balita dan Anak BKKBN Irma Ardiana dalam keterangannya di Jakarta, Kamis.
 

Irma menyatakan risiko itu berpotensi meningkat karena beberapa organ terutama paru-paru beserta organ dalam lainnya kurang berkembang sehingga ada gangguan masalah pernapasan dan juga pencernaan.
 

Pada indikator iBangga (Indeks Pembangunan Keluarga) ada 17 indikator yang terbagi menjadi tiga dimensi, dimana isu tentang pengasuhan menjadi sangat penting yang dilakukan bersama oleh ayah, ibu, bisa juga di lakukan oleh wali asuh.
 

Berdasarkan data PK-21, keluarga Indonesia masih masuk dalam kategori berkembang atau belum tangguh. BKKBN sendiri terus berupaya membekali keluarga Indonesia dengan pengetahuan, termasuk di antaranya adalah pengasuhan khususnya BBLR dan juga bayi prematur.


“Saya ingatkan ini ternyata sangat berkaitan erat dengan tugas yang di ampu oleh rekan Tim Pendamping Keluarga (TPK) ketika harus mendampingi keluarga berisiko stunting,” ucap Irma.
 

Anggota Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Fitri Hartanto, Sp.A (K) menambahkan kedua kondisi itu bukan hanya menempatkan anak pada masalah stunting saja, tetapi juga masalah pada perkembangan otak dan motorsensorik anak.
 

Sebab dalam 1.000 HPK perkembangan otak cukup cepat dan terdapat organ-organ yang sensitif yakni pendengaran, penglihatan, dan perasaan yang harus diselamatkan dari berbagai risiko perburukan.
 

Ia meminta orangtua untuk memberikan pola asuh yang positif terhadap anak-anak berisiko stunting tersebut, melalui penguatan aspek atau faktor protektifnya sehingga bayi tidak akan berakhir dengan gangguan pertumbuhan maupun gangguan perkembangan, termasuk di dalamnya adalah stunting.(Ant)

Dapatkan update berita pilihan terkini di nusantaratv.com. Download aplikasi nusantaratv.com untuk akses berita lebih mudah dan cepat melalui:



0

x|close