AHY Tekankan Ketahanan Nasional Hadapi Ketidakpastian Global di NEO 2026

AHY Tekankan Ketahanan Nasional Hadapi Ketidakpastian Global di NEO 2026

Nusantaratv.com - 04 Februari 2026

AHY saat menjadi keynote speech dalam acara Nusantara Economic Outlook (NEO) 2026 yang digelar di Nusantara Ballroom, Rabu (4/2/2026).
AHY saat menjadi keynote speech dalam acara Nusantara Economic Outlook (NEO) 2026 yang digelar di Nusantara Ballroom, Rabu (4/2/2026).

Penulis: Alamsyah

Nusantaratv.com - Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), menegaskan pentingnya ketahanan nasional (resilience) dalam menghadapi dinamika global yang penuh ketidakpastian. Hal tersebut disampaikan AHY saat menjadi keynote speech dalam acara Nusantara Economic Outlook (NEO) 2026 yang digelar di Nusantara Ballroom, Rabu (4/2/2026).

AHY menilai NEO 2026 sebagai forum yang strategis di awal tahun untuk membangun kesamaan pandangan, memperluas wawasan, sekaligus menumbuhkan optimisme di tengah berbagai tantangan global.

“Saya rasa acara Nusantara Economic Outlook ini menjadi sangat penting dan strategis. Kita memulai tahun 2026 dengan wawasan, pemahaman, sekaligus membangun optimisme bersama, walaupun kita tahu di sana sini banyak tantangan yang harus kita hadapi,” ujar AHY.

Menurutnya, Indonesia perlu menyamakan energi dan langkah untuk mewujudkan cita-cita besar Indonesia Emas di abad ke-21.

“Kita berharap bisa menyamakan energi untuk Indonesia yang kita cintai. Kita ingin Indonesia semakin maju dan semakin sejahtera. Kita punya cita-cita Indonesia Emas dan kita harus bekerja keras untuk mewujudkan cita-cita itu,” katanya.

AHY menyoroti perubahan dunia yang semakin dinamis, penuh tantangan, dan sarat ketidakpastian, termasuk munculnya berbagai kejutan global yang berdampak langsung maupun tidak langsung terhadap Indonesia.

Salah satu isu utama yang disorot adalah pentingnya ketahanan nasional. Menurut AHY, konsep resilience saat ini tidak hanya dimaknai sebagai kesiapan menghadapi guncangan, tetapi juga kemampuan untuk bangkit dengan cepat dari krisis.

“Daya tahan sebuah bangsa akan terus diuji. Ketahanan bukan hanya siap menghadapi guncangan dan disrupsi, tetapi seberapa cepat kita bangkit dari keterpurukan. Di sinilah diperlukan adaptasi, leadership, dan langkah-langkah yang taktis,” tegasnya.

AHY memaparkan setidaknya empat megatren global yang menjadi tantangan besar ke depan. Pertama, krisis iklim yang terus menghantui negara-negara di dunia, termasuk Indonesia, dengan meningkatnya bencana alam, kekeringan, hingga gagal panen yang memicu kelaparan.

Kedua, ketegangan geopolitik yang semakin meningkat di berbagai kawasan, termasuk konflik bersenjata dan potensi perang besar.

“Jangan anggap perang dunia tidak mungkin terjadi kembali. Hari ini banyak kekuatan besar yang memiliki kapasitas nuklir dan ketegangan yang tidak mudah untuk didamaikan,” ujarnya.

Ketiga, urbanisasi global yang pesat. AHY menyebutkan bahwa pada 2040 hingga 2050 sekitar 70 persen penduduk dunia diprediksi akan tinggal di perkotaan, yang akan memberikan tekanan besar terhadap infrastruktur, perumahan, dan lingkungan.

Keempat, meningkatnya ketimpangan, baik antar kelompok masyarakat maupun antarwilayah.

“Ketimpangan terjadi antara masyarakat berpenghasilan tinggi dan masyarakat prasejahtera, juga antar daerah, termasuk antara Jawa dan luar Jawa, khususnya Indonesia Timur. Ini semua menjadi tantangan yang harus kita sikapi,” jelasnya.

Dalam konteks global, AHY menekankan bahwa ekonomi dan geopolitik kini tidak bisa dipisahkan dari isu kedaulatan nasional. Ia mengapresiasi arah kebijakan Presiden Prabowo Subianto yang menempatkan kedaulatan sebagai elemen utama dalam kebijakan ekonomi, politik luar negeri, dan kebijakan domestik.

AHY juga menyoroti persaingan global yang kini tidak lagi terbatas pada kekuatan militer, tetapi meluas ke aturan perdagangan, standar teknologi, investasi, hingga penguasaan rantai pasok global.

Ia mencontohkan sejumlah kasus internasional seperti Venezuela, Greenland, dan Iran, yang menunjukkan bagaimana sumber daya alam strategis dapat memicu ketegangan geopolitik dan berdampak luas terhadap perekonomian dunia, termasuk inflasi dan gangguan pasokan energi.

“Apa yang terjadi di belahan dunia lain akan berdampak ke Indonesia. Oleh karena itu, kita harus memiliki kesiapsiagaan, daya tahan, dan kemandirian,” katanya.

Menutup paparannya, AHY menegaskan bahwa prioritas ekonomi nasional saat ini harus bertumpu pada ketahanan pangan, kedaulatan energi, dan ketersediaan air bersih.

“Bangsa yang tidak bisa memberi makan rakyatnya adalah bangsa yang rapuh. Tanpa kedaulatan energi, kita sulit berkompetisi. Dan tanpa air bersih, tidak ada kehidupan,” tegas AHY.

Ia berharap pembangunan infrastruktur nasional dapat menjadi fondasi utama dalam menopang ketahanan pangan, energi, dan air bersih bagi sekitar 280 juta penduduk Indonesia.

Dapatkan update berita pilihan terkini di nusantaratv.com. Download aplikasi nusantaratv.com untuk akses berita lebih mudah dan cepat melalui:



0

x|close