Isra Mi'raj, Perjalanan Spiritual Nabi Muhammad SAW Penuh Pesan dan Hikmah Bagi Umat Muslim

Nusantaratv.com - 08 Februari 2024

Ilustrasi. Isra Miraj adalah salah satu peristiwa penting dalam sejarah Islam yang dianggap sebagai perjalanan spiritual Nabi Muhammad SAW. (Istimewa)
Ilustrasi. Isra Miraj adalah salah satu peristiwa penting dalam sejarah Islam yang dianggap sebagai perjalanan spiritual Nabi Muhammad SAW. (Istimewa)

Penulis: Adiantoro

Nusantaratv.com - Peristiwa Isra Mi'raj merupakan perjalanan spritual Nabi Muhammad Shalallahu 'Alaihi Wassalam (SAW) dari Masjidil Haram di Makkah ke Masjid Al-Aqsha di Yerusalem.

Dalam tempo singkat bahkan kurang dari semalam (minal lail), namun Nabi berhasil menembus lapisan-lapisan spiritual yang amat jauh bahkan hingga ke puncak (Sidratil Muntaha). 

"Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha, yang telah Kami berkahi sekelilingnya, agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat." (QS al-Isra [17]: 1).

Di puncak langit ketujuh, Nabu Muhammad SAW lalu berjumpa dengan para nabi hingga akhirnya bertemu dengan Sang Maha Kuasa, Allah Subhanahu Wa Ta'ala (SWT). 

Perjalanan Isra Mi'raj memberikan harapan, penghiburan, dan kekuatan kepada Nabi Muhammad SAW, baik sebagai pemimpin sekaligus penyampai risalah Islam. 

Di momen itu, sang teladan sekaligus pemimpin umat Muslim itu sedang dirundung rasa kehilangan dan kesedihan mendalam. Nabi Muhammad SAW menghadapi fase sulit dalam hidupnya.

Kesedihan dan kepasrahan yang begitu memuncak itulah membawa Rasulullah SAW menembus batas-batas spiritual tertentu hingga ke Sidratil Muntaha. Di sanalah Rasulullah SAW di-install (diisi) dengan spirit luar biasa.

Bahkan malaikat Jibril sebagai panglima para malaikat juga tidak sanggup menembus puncak batas spiritual tersebut. Inilah kehendak Allah SWT untuk Nabi Muhammad SAW.

Menurut Syekh Muhammad Khudori dalam Nur Al Yaqin fi Sirati Sayyidil Mursalin, menjelaskan hal yang memicu terjadinya peristiwa Isra dan Mi'raj yakni sebagai bentuk tasliyah (hiburan) yang Allah SWT berikan kepada kekasihnya (Nabi Muhammad SAW). 

Rasulullah SAW ditinggal dua orang yang dicintainya yaitu Khadijah RA, sang istri terkasih, dan Abu Thalib, sang paman yang sangat dihormatinya.

Peristiwa tersebut tepatnya terjadi pada tahun ke-11 dari kenabian (Nabi Muhammad SAW saat itu berumur 51 tahun) atau biasa disebut dengan 'Amul Huzni' (tahun kesedihan).

Dalam sebuah malam selepas shalat Isya, Rasulullah SAW beristirahat sejenak sambil berbaring di Masjidil Haram. Kemudian beliau didatangi malaikat Jibril dan dada beliau di belah.

"Lalu hatiku dikeluarkan dan dicuci dengan air ZAM ZAM, kemudian dikembalikan ke tempatnya den memenuhinya dengan iman dan hikmah". (HR Bukhari)

Setelah itu, di datangkanlah Buraq yang menjadi kendaraan Rasulullah SAW sewaktu Isra. Buraq memiliki arti kilat.

"Didatangkan kepadaku Buraq-yakni seekor tunggangan berwarna putih, tinggi, lebih tinggi dari keledai dan lebih pendek dari bighal, ia meletakkan langkahnya sejauh pandangannya". (HR Muslim)

Setibanya di Masjidil Aqsha, beliau shalat dua rakaat mengimami ruh para Nabi. Usai shalat dan keluar dari Masjidil Aqsha, malaikat Jibril datang membawa dua wadah minuman. Satu berisi susu dan satu lagi berisi khamar. Rasulullah SAW dengan mantap memilih susu.

"Sungguh engkau telah memilih kesucian", kata Jibril dalam lanjutan hadits tersebut. 

Mi'raj pun dimulai. Rasulullah SAW naik Buraq bersama malaikat Jibril hingga tiba di langit pertama. "Lalu aku bawa di atas punggung Buraq dan Jibril pun berangkat bersamaku hingga aku sampai ke langit dunia lalu dia meminta dibukakan pintu langit".

Hingga Rasulullah SAW melewati pintu-pintu langit yang dihuni arwah para Nabi. Di langit ke tujuh, Rasulullah SAW bertemu dengan Nabi Ibrahim AS yang sedang menyandarkan punggungnya di Baitul Makmur. 

Di mana tempat itu setiap harinya dimasuki oleh 70.000 malaikat dan mereka tidak kembali lagi sesudahnya. Kemudian Buraq tersebut pergi bersamaku ke Sidratul Muntaha yang lebar daun-daunnya seperti telinga gajah dan besar buah-buahnya seperti tempayan besar.

Tatkala perintah Allah SWT memenuhi Sidratul Muntaha. Di mana Sidratul Muntaha berubah dan tidak ada seorangpun dari makhluk Allah SWT yang bisa menjelaskan sifat-sifat Sidratul Muntaha karena keindahannya. 

Maka Allah memberikan Wahyu dan mewajibkan Rasulullah SAW shalat lima puluh kali dalam sehari semalam. Setelah mendapat tugas salat lima puluh kali dalam sehari, Rasulullah SAW turun dan bertemu dengan Nabi Musa AS.

"Apa yang diwajibkan Rabb-mu terhadap umatmu?" tanya Nabi Musa AS. 

Aku menjawab, "Shalat 50 kali".

Nabi Musa AS berkata, "Kembalilah kepada Rabb-mu, mintalah keringanan karena sesungguhnya umatmu tidak akan mampu melakukan hal itu. Sesungguhnya aku telah menguji Bani Israil dan aku telah mengetahui bagaimana kenyataan mereka". 

"Aku akan kembali kepada Rabb-ku". Lalu aku memohon, "Ya Rabb, berilah keringanan lima shalat. Lalu aku kembali kepada Musa AS. Aku berkata kepadanya, "Allah telah memberikan keringanan lima kali". 

Nabi Musa AS mengatakan, "Sesungguhnya umatmu tidak akan mampu melakukan hal itu, maka kembalilah kepada Rabbmu dan minta keringanan". Aku terus bolak balik antara Rabbku dengan mudah hingga Rabbku berfirman: 

"Wahai Muhammad sesungguhnya kewajiban shalat itu lima kali dalam sehari semalam. Setiap shalat mendapat pahala 10 kali lipat, maka 5 kali shalat sama dengan 50 kali shalat. Barangsiapa berniat melakukan satu kebaikan yang dia tidak melaksanakannya maka dicatat untuk ya satu kebaikan. Dan jika ia melaksanakannya maka dicatat untuk ya sepuluh kebaikan. Barang siapa berniat melakukan satu kejelekan namun dia tidak melaksanakannya maka kejelekan tersebut tidak dicatat sama sekali. Dan jika ia melakukannya, maka dicatat sebagai satu kejelekan". 

Kemudian aku turun hingga bertemu Nabi Musa AS lalu aku beritahukan kepadanya. Maka ia mengatakan, "Kembalilah kepada Rabb-mu dan mintalah keringanan lagi". 

Aku menjawab, "Aku telah berulang kali kembali kepada Rabb-ku hingga aku merasa malu kepada-Nya".

Dalam perjalanan menuju Sidratul Muntaha Nabi Muhammad SAW dan malaikat Jibril singgah di tujuh lapis langit. Di langit pertama, Rasulullah SAW bertemu dengan Nabi Adam AS.

Dilangit kedua, Rasulullah SAW bertemu dengan Nabi Yahya AS dan Nabi Ishaq AS. Sementara di langit ketiga, Rasulullah SAW bertemu dengan Nabi Yusuf AS. Kemudian, di langit keempat, Rasulullah SAW bertemu dengan Nabi Idris AS. Sedangkan di langit kelima, Rasulullah SAW bertemu dengan Nabi Harun AS.

Selanjutnya, di langit keenam, Rasulullah SAW bertemu dengan Nabi Musa AS. Serta dilangit ketujuh, Rasulullah SAW bertemu dengan Nabi Ibrahim AS. Ketika usai menerima perintah shalat, Nabi Muhammad SAW kembali menunggangi Buraq-nya untuk pulang ke Mekkah diantar malaikat Jibril. 

Menurut sebuah kisah saking cepatnya Buraq ketika Nabi Muhammad SAW pulang konon katanya tempat tidur nabi masih terasa hangat.

Perjalanan Isra dan Mi'raj menunjukkan pentingnya berusaha meningkatkan keimanan dan ketaqwaan dalam kehidupan sehari-hari setiap Muslim. Dalam perjalanan tersebut, Allah SWT memberikan penghiburan dan kekuatan kepada Nabi Muhammad SWA yang menegaskan ibadah shalat harus menjadi prioritas utama dalam hidupnya. 

Shalat sebagai bentuk penghambaan. Sarana berserah diri dari kesulitan dan kesedihan, sekaligus untuk medekatkan diri kepada Sang Maha Pencipta. Dalam kehidupan sehari-hari, umat Muslim juga bisa mengambil pelajaran dari Nabi Muhammad SAW melakukan perjalanan Isra Mi'raj. 

Bagaimana Rasulullah SAW memiliki ketabahan dan keberanian ketika menghadapi rintangan dan tantangan dalam perjalanan tersebut. Maknanya, jangan mudah menyerah dan terus berusaha menghadapi setiap masalah dengan penuh semangat dan optimisme.

Hikmah lain yang bisa diambil dari peristiwa Isra Mi'raj Nabi Muhammad SAW, yakni memahami perintah shalat lima waktu merupakan ibadah besar bagi umat Islam, menyadari kasih sayang dan rahmat Allah SWT serta pengurangan jumlah shalat dari 50 waktu menjadi lima waktu sebagai bentuk kemurahan-Nya.

Kemudian, memperkuat keyakinan akan kekuasaan dan kehendak Allah SWT yang meliputi segala sesuatu, mengenali tanda-tanda kebesaran Allah SWT melalui perjalanan Nabi Muhammad SAW yang hanya terjadi dalam satu malam.

Dan, memahami jika shalat adalah dialog antara hamba dengan Sang Penciptanya, sebagaimana Rasulullah SAW bertemu langsung dengan Allah SWT saat Isra Mi'raj. Isra Mi'raj Nabi Muhammad SAW sendiri adalah peristiwa yang dianggap sebagai sebagai salah satu mukjizat besar dalam Islam. Ini juga merupakan peristiwa yang amat dahsyat karena tidak pernah dialami oleh manusia-manusia sebelumnya.

Dapatkan update berita pilihan terkini di nusantaratv.com. Download aplikasi nusantaratv.com untuk akses berita lebih mudah dan cepat melalui:



0

x|close