Habis Manis Sepah Dibuang

“Habis Manis, Sepah Dibuang”, peribahasa ini dalem banget maknanya. Orang-orang yang dinilai telah tidak berguna lagi akan disisihkan. Mungkin kalau kita yang...

Ilustrasi, gula dan tebu

Nusantaratv.com - “Habis Manis, Sepah Dibuang”, peribahasa ini dalem banget maknanya. Orang-orang yang dinilai telah tidak berguna lagi akan disisihkan. Mungkin kalau kita yang mengalami akan marah kalau diperlakukan seperti “sepah”. Meski kita pun akan berbuat hal yang sama, membuang sepah yang sudah tidak ada lagi rasa manisnya.

Wajar kalau sepah itu dibuang. Yang tidak wajar adalah belum menjadi sepah namun sudah dibuang. Juga tidak wajar jika kita sudah menjadi sepah, tetapi menuntut orang lain untuk terus menerus menikmati rasa manis yang sudah tidak kita miliki lagi. Ngomong-ngomong, ‘sepah’ itu apa sih?

Saat kita mengunyah potongan-potongan kecil batang tebu, awalnya kita akan merasakan manisnya batang pohon tebu. Namun setelah beberapa saat kita hisap batang tebu tersebut, akhirnya habis rasa manisnya dan kita buang sisa ampasnya. Ampas dari batang tebu yang sudah tidak ada rasa manisnya inilah yang disebut dengan sepah.

Baca Juga: Membeli Waktu Ayah

Jadi benarlah peribahasa di atas, habis manis sepah dibuang. Dan ini sudah menjadi hukum alam, apa pun yang sudah menjadi sepah atau sesuatu yang tidak berguna lagi, tentu akan dibuang. Kita sering menggambarkan hidup seseorang yang sudah tidak berguna bagaikan sepah yang harus dibuang. 

Nah bagaimana kita menyikapi agar tidak menjadi sepah, agar terus berguna bagi kehidupan di sekeliling kita. Dikutip dari wonxmbelinx, berikut 5 sudut pandang Natural Intelligence, agar hidup kita tidak menjadi sepah, yang dibuang.

Ilustrasi, gula dan tebu

1. Jadilah pemanis kehidupan.

Kehidupan selalu identik dengan manusia, karena manusia sebagai makhluk yang menjalani kehidupan. Manusia diberi anugerah dalam menjalani kehidupannya. Dalam menjalani masa hidupnya, manusia dituntut dapat bermanfaat bagi lingkungannya, bagai gula dalam segelas kopi. Fitrah rasa kopi adalah pahit. Pahitnya minuman kopi akan terasa manis setelah kita tambahkan gula. Sehingga minuman kopi menjadi minuman favorit bagi pecinta kopi. Banyak penikmat kopi mengatakan kerja kurang semangat kalau belum ‘ngopi’. Karena itu, jadilah pemanis kehidupan agar kita selalu dicari karena dibutuhkan.


2. Jadilah pribadi yang manis, maka pasti selalu dikerubuti.

Ditempat tidur terkadang kita menemui banyak semut. Setelah diperiksa, ternyata ada serpihan gula dan rempah bekas makanan yang kita makan di atas tempat tidur. 

Ternyata benar; ada gula, ada semut. Semut tidak memperdulikan lokasi dan situasi. Dimana ada gula, kesitulah mereka berbondong beriringan. Ini tidak hanya berlaku di dunia semut. Coba saja perhatikan pada kehidupan manusia, orang-orang yang bisa memberi manfaat bagi lingkungannya seperti para dermawan, selalu dikerubungi oleh para pengikut setianya. Para alim ulama dan orang-orang berilmu, selalu menjadi rujukan para pencari pencerahan. 

Baca Juga: Kisah Bunga Mawar dan Pohon Bambu

3. Tetaplah manis, maka sepahmu tidak pernah dibuang.

Mari berhenti untuk marah atau kecewa jika orang lain membuang kita karena mereka menilai kita sudah menjadi sepah. Mereka tidak salah. Kitalah yang harus berpikir bagaimana caranya supaya tidak menjadi sepah. Sebab jika kita masih tetap memiliki rasa manis itu, mereka tidak akan membuang kita, percayalah. 

Ilustrasi, gula dan tebu

Seperti yang dialami oleh seorang eksekutif senior mumpuni yang masuk masa pensiun. Pada umumnya, sehebat apa pun seseorang di masa kerjanya, saat pensiun secara perlahan akan terlupakan dan hilang. Namun hal itu tidak berlaku pada esekutif senior tersebut. Saat masa pensiun tiba, Perusahaan bukannya memberhentikannya, namun malah memperpanjang masa kerjanya dengan sistem kontrak. Lalu beliau berpindah ke perusahaan lain. 

Setelah itu, beliau ditarik lagi oleh perusahaan lainnya. Bagi saya, beliau inilah salah satu living legend mereka yang tidak pernah membiarkan dirinya ‘kehilangan rasa manis’. Meski usianya sudah jauh melampaui masa pensiun, beliau tetap manis. Rasa manis yang masih tetap lestari didalam dirinya itulah yang menjadikan beliau tetap menjadi rebutan perusahaan-perusahaan besar. Jadi jika kita tidak ingin menjadi sepah yang dibuang, bekalilah diri dengan pengetahuan dan ilmu yang bermanfaat, supaya kita tetap menjadi pribadi yang manis.

4. Nikmatilah rasa manis secukupnya, jangan berlebihan.

Sekarang, cobalah ambil sesendok gula terbaik yang dimiliki. Lalu suapkan sesendok gula itu kedalam mulut dan kunyahlah. Apakah Anda masih menikmati rasa manisnya? Pada dasarnya, semua orang menyukai rasa manis. Namun, tak seorang pun bisa melahapnya terlalu banyak. Kita semua mendambakan manisnya kehidupan. Dan kita sering terlalu serakah untuk merengkuhnya sendirian. 

Baca Juga: Bunga Mawar, Si Cantik Yang Memiliki Banyak Makna

Bahkan gula pun mengajari kita bahwa terlalu banyak rasa manis membuat kepala kita pusing, bahkan kita bisa mengalami sindrom toleransi insulin. Sungguh keliru jika kita mengira hidup yang manis itu adalah yang semuanya serba indah. Tidak. Justru hidup yang terlalu indah cenderung menjadikan kita pribadi yang serakah. Semacam sindrom toleransi insulin kehidupan. 

Tidak peduli betapa banyak insulin yang diproduksi dalam tubuh Anda, gula akan tetap menumpuk dalam darah. Tahukah Anda apa yang terjadi ketika dalam darah terdapat lebih banyak gula dari yang seharusnya? Hmmmh, Anda tentu paham yang saya maksudkan. Bahkan rasa manis kehidupan yang terlalu banyak pun bisa membahayakan kehidupan diri kita sendiri. Jadi, nikmatilah rasa manisnya kehidupan, namun tidak berlebihan.

Ilustrasi, gula dan tebu

5. Semanis apapun kita, tidak bisa lepas dari fitrah

Setumpuk sepah tebu jika dibiarkan akan menjadi sampah. Ada beberapa pilihan untuk memperlakukan seonggok sepah tebu tersebut. Kalau sepah itu dibuang ke kolong kandang domba, maka sepah itu akan menjadi penambah nutrisi pada pupuk kandang. Jika sepah itu dibuang ke kolam ikan, sepah itu akan menjadi tempat tumbuhnya plankton dan jentik-jentik makanan penggemuk ikan.

Jadi, apanya yang terbuang dari seonggok sepah? Tidak ada. Sepah benar-benar menyadari bahwa dia tidak bisa melawan fitrah. Semua orang yang pernah muda akan menjadi tua. Semua yang gagah perkasa akan menjadi tak berdaya. 

Semua yang kuat menjadi lemah. Itulah fitrah. Tetapi mari sekali lagi kita lihat sang sepah. Bahkan setelah masuk tempat sampah, dia tetap saja menjadi anugerah. Jika kita ikut mengimani konsepsi hidup setelah mati, maka kita lebih beruntung lagi. Karena dengan keyakinan itu kita bisa berharap memetik buah manis tabungan kebaikan yang pernah kita lakukan semasa hidup. 

Kita boleh berharap itu, karena iman kita mengajarkan bahwa setiap amal baik yang pernah kita lakukan atas nama Tuhan, akan membuahkan imbalan yang sepadan. Beruntunglah kita yang percaya, karena setidak-tidaknya kita memiliki harapan; bahwa fitrah kita adalah untuk mempersiapkan tempat pulang ke alam keabadian.

Baca Juga: Pemenang Kehidupan 

Tidak perlu lagi untuk merasa kecewa karena telah dihempaskan oleh lingkungan yang semula diharapkan akan memberikan penerimaan. Mungkin mereka benar telah menghempaskan kita karena kita belum bisa memberi rasa manis yang mereka butuhkan. Mungkin juga mereka keliru karena tidak bisa menghargai rasa manis yang kita miliki. 

Tetapi, bukan itu yang perlu menjadi fokus perhatian kita sekarang. Cukuplah untuk selalu memikirkan, bagaimana caranya agar kita bisa memberikan lebih banyak lagi rasa manis? Karena dengan rasa manis yang kita tebarkan, kita tidak perlu meneriaki para semut untuk mengerubuti. Insya Allah, cepat atau lambat; mereka akan datang sendiri.

like
dislike
love
funny
angry
sad
wow
Login dengan
LIVE TV & NETWORK