Nusantara Economic Outlook 2026: Airlangga Beberkan Arah Kebijakan Menuju Pertumbuhan Ekonomi 8 Persen

Nusantara Economic Outlook 2026: Airlangga Beberkan Arah Kebijakan Menuju Pertumbuhan Ekonomi 8 Persen

Nusantaratv.com - 04 Februari 2026

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian (Menko Perekonomian) Airlangga Hartarto di acara Nusantara Economic Outlook 2026 (Nusantara TV)
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian (Menko Perekonomian) Airlangga Hartarto di acara Nusantara Economic Outlook 2026 (Nusantara TV)

Penulis: Alamsyah

Nusantaratv.com – Pemerintah menegaskan ambisi besar untuk mendorong laju pertumbuhan ekonomi nasional hingga menyentuh angka 8 persen pada 2029. Target tersebut disampaikan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dalam forum Nusantara Economic Outlook (NEO) 2026 yang digelar di Jakarta, Rabu (4/2/2026).

Airlangga menyampaikan bahwa pencapaian target tersebut akan ditempuh melalui penguatan sektor-sektor strategis yang selama ini menjadi tulang punggung perekonomian nasional. Salah satu fokus utama pemerintah adalah sektor jasa, yang dinilai memiliki peran krusial dalam menopang pertumbuhan berkelanjutan.

Sektor jasa diharapkan mampu memperkuat industri keuangan sekaligus mendorong ekspansi pariwisata, transformasi digital, pengembangan ekonomi kreatif, hingga pertumbuhan gig economy.

"Pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi sebesar 8 persen di tahun 2029 dengan trajektori 5,4 persen melalui sektor penggerak antara lain sektor jasa yang tentunya memperkuat sektor keuangan, pariwisata, digitalisasi, ekonomi kreatif maupun gig economy," ucap Airlangga dalam sambutan pembukaan Nusantara Economic Outlook (NEO) 2026 yang digelar pada Rabu, 4 Februari 2026.

Baca Juga: Nusantara Economic Outlook 2026: Airlangga Sebut Fluktuasi Pasar Modal Jadi Peluang Pembenahan

Selain sektor jasa, pemerintah juga menempatkan sektor manufaktur sebagai pilar penting dalam strategi pertumbuhan ekonomi ke depan. Penguatan sektor ini dilakukan melalui percepatan hilirisasi industri, revitalisasi industri padat karya, serta pengembangan industri yang berorientasi ekspor.

Langkah tersebut diarahkan untuk meningkatkan nilai tambah di dalam negeri, menciptakan lapangan kerja yang lebih luas, serta memperkuat daya saing produk nasional di pasar internasional.

"Kemudian sektor manufaktur terus didorong untuk mengandalkan baik downstreaming atau hilirisasi, kemudian revitalisasi industri padat karya dan industri berorientasi ekspor," ungkapnya.

Airlangga juga memaparkan bahwa sepanjang tahun 2025 pemerintah telah menyalurkan stimulus ekonomi senilai Rp101 triliun guna menjaga daya beli masyarakat dan menopang konsumsi domestik.

Memasuki awal 2026, pemerintah kembali menyiapkan stimulus tambahan, khususnya untuk mendukung pergerakan ekonomi dan konsumsi masyarakat selama periode Lebaran.

"Pemberian stimulus ini diharapkan dapat mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih kuat di kuartal pertama 2026," jelas Airlangga.

Stimulus tersebut mencakup diskon tarif transportasi, meliputi kereta api pada 14–29 Maret 2026, angkutan laut pada 11 Maret–5 April 2026, layanan penyeberangan pada 11–31 Maret 2026, serta penerbangan pada 14–29 Maret 2026. Pemerintah juga memberikan potongan tarif tol untuk mendukung kelancaran mobilitas masyarakat.

Kebijakan tersebut diperkuat dengan penerapan skema Work From Anywhere (WFA) bagi sektor publik dan swasta, guna mengurangi kepadatan mobilitas sekaligus menjaga produktivitas selama periode libur panjang.

Di sisi perlindungan sosial, pemerintah melanjutkan program bantuan pangan dengan menyalurkan beras 10 kilogram dan minyak goreng 2 liter kepada 35,04 juta keluarga penerima manfaat (KPM) selama Februari hingga Maret 2026.

Dapatkan update berita pilihan terkini di nusantaratv.com. Download aplikasi nusantaratv.com untuk akses berita lebih mudah dan cepat melalui:



0

x|close