BPS Sebut Kenaikan Harga Plastik Belum Berdampak Langsung ke Konsumen

BPS Sebut Kenaikan Harga Plastik Belum Berdampak Langsung ke Konsumen

Nusantaratv.com - 19 Mei 2026

Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti dalam konferensi pers di Jakarta, Selasa 5 Mei 2026. ANTARA/HO-BPS. (Antara)
Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti dalam konferensi pers di Jakarta, Selasa 5 Mei 2026. ANTARA/HO-BPS. (Antara)

Penulis: Ramses Manurung

Nusantaratv.com-Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Amalia Adininggar Widyasanti mengungkapkan bahwa kenaikan harga plastik di pasaran hingga saat ini belum memberikan dampak langsung terhadap konsumen.
Menurut Amalia, kondisi tersebut terjadi karena plastik bukan menjadi komponen utama dalam pengeluaran masyarakat sehari-hari.

"Mengapa harga plastik yang di pasaran itu meningkat dan belum kemudian terasa secara langsung kepada konsumen? Karena kalau kita lihat memang bobot terbesar dari keranjang konsumsi masyarakat pertama adalah tarif listrik. Artinya bahwa dari sekian konsumsi masyarakat memang proporsi terbesar adalah dikeluarkan oleh masyarakat itu pengeluarannya untuk tarif listrik," kata Amalia di Jakarta, Selasa, 19 Mei 2026.

Ia menjelaskan bahwa tarif listrik menjadi komoditas dengan bobot terbesar dalam struktur inflasi, yakni mencapai 4,8850 persen.

Selain listrik, Amalia menyebut bensin dan beras juga menjadi komoditas dengan porsi besar dalam keranjang konsumsi masyarakat. Menurutnya, apabila harga bensin subsidi mengalami perubahan, dampaknya terhadap inflasi akan cukup signifikan.

"Seandainya ada penyelesaian harga bensin terutama yang subsidi ini akan juga bisa memberikan kontribusi terhadap inflasi. Karena sampai saat ini bensin yang subsidi yang sebagian besar masyarakat kita mengkonsumsi bensin bersubsidi. Sehingga belum terasa dampaknya secara signifikan ke dalam inflasi, yang kemudian terjadi kenaikan tadi bensin adalah yang berasal dari bensin nonsubsidi," ujarnya.

"Ketiga beras, makanya kemudian dari sini beras akan sangat berpengaruh terhadap inflasi karena memang bobotnya di dalam keranjang konsumsi masyarakat kita relatif tinggi," tambahnya.

Berdasarkan data yang dipaparkan, bensin memiliki bobot sebesar 4,4336 persen dengan tingkat inflasi 0,20 persen dan memberikan andil inflasi sebesar 0,0094 persen pada April 2026.

Sementara itu, beras memiliki bobot sebesar 3,4260 persen, mengalami inflasi 4,36 persen, serta menyumbang andil inflasi sebesar 0,1754 persen pada periode yang sama.

Amalia menegaskan bahwa masyarakat tidak mengonsumsi plastik secara langsung. Namun, terdapat sejumlah produk yang berkaitan erat dengan penggunaan plastik sebagai kemasan, salah satunya air minum dalam kemasan.

Ia menjelaskan bahwa dampak kenaikan harga plastik terhadap konsumen sangat bergantung pada keputusan produsen dalam menentukan harga jual produk.

"Sepanjang air kemasan itu harganya tidak berubah tergantung dari perusahaan produsen air kemasan apakah dia meningkatkan atau menaikkan harganya akibat dari harga plastik meningkat atau enggak. Yang dirasakan oleh konsumen adalah bukan harga plastiknya tetapi harga air kemasannya," terang Amalia.

Lebih lanjut, Amalia menyebut dampak kenaikan harga plastik nantinya akan tercermin dalam Indeks Harga Konsumen (IHK), terutama jika produsen makanan dan minuman mulai menaikkan harga produk yang menggunakan plastik sebagai pembungkus.

"Nah ini jadi artinya transmisi kenaikan harga plastik kepada konsumen atau IHK itu tergantung dari seberapa besar produsen-produsen makanan yang menggunakan plastik dalam pembukusnya. Seperti air kemasan atau kue-kue dalam plastik itu kemudian menaikkan harga barangnya itulah yang kemudian nanti dirasakan oleh konsumen dan tercermin di dalam indeks harga konsumen," tutur Amalia.

 

Dapatkan update berita pilihan terkini di nusantaratv.com. Download aplikasi nusantaratv.com untuk akses berita lebih mudah dan cepat melalui:



0

x|close