Nusantaratv.com-Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Amalia Adininggar Widyasanti menekankan pentingnya menjaga stabilitas harga sejumlah bahan pangan utama karena memiliki porsi konsumsi terbesar di masyarakat dan berpotensi memicu inflasi apabila mengalami kenaikan signifikan.
Hal tersebut disampaikan Amalia dalam Rapat Pengendalian Inflasi Daerah yang digelar di Jakarta pada Senin, 9 Maret 2026.
Ia menjelaskan, berdasarkan keranjang konsumsi nasional, beberapa komoditas memiliki bobot konsumsi paling besar, yakni beras, daging ayam ras, telur ayam ras, bawang merah, serta daging sapi.
Menurut Amalia, komoditas dengan bobot konsumsi tinggi akan memberikan dampak besar terhadap inflasi ketika harganya meningkat.
"Kalau bobotnya tinggi dan kenaikan harganya tinggi, ini akan mendorong inflasi. Oleh sebab itu, komoditas dengan bobot konsumsi besar perlu dijaga harganya," katanya, dikutip dari Antara.
Ia menambahkan, tekanan inflasi cenderung lebih mudah muncul jika harga bahan pangan utama tersebut tidak terkendali.
Sebaliknya, kenaikan harga pada komoditas dengan bobot konsumsi kecil biasanya tidak terlalu mempengaruhi tingkat inflasi secara signifikan.
Amalia juga menjelaskan bahwa pola konsumsi masyarakat berbeda di setiap daerah, sehingga komoditas dengan bobot konsumsi terbesar tidak selalu sama di seluruh wilayah.
Secara nasional, urutan komoditas dengan bobot konsumsi terbesar dimulai dari beras, daging ayam ras, telur ayam ras, bawang merah, hingga daging sapi.
Namun, di beberapa daerah komposisi tersebut bisa berbeda.
Ia mencontohkan di Kepulauan Riau, setelah beras, komoditas dengan bobot konsumsi terbesar adalah daging ayam ras, kemudian cabai merah, dan telur ayam ras.
"Jadi memang ini karakteristik dari konsumsi masyarakat, pola konsumsi masyarakat ini berbeda-beda. Oleh sebab itu, mungkin satu hal yang bisa kita sikapi adalah masing-masing kepala daerah nanti bisa melihat mana bobot terbesar dari konsumsi masyarakat," katanya.




Sahabat
Ntvnews
Teknospace
HealthPedia
Jurnalmu
Kamutau
Okedeh