Epidemiolog: Atasi Covid-19 Mutasi India Harus Lockdown!

Tri Yunis khawatir jika di hulu pemerintah tak menarik rem darurat, maka ketersediaan tempat tidur rumah sakit (BOR) akan semakin kritis. 

Ilustrasi lockdown/ist

Jakarta, Nusantara TV-Pemerintah didesak segera menarik rem darurat untuk mengentikan lonjakan penyebaran covid-19 yang dipicu varian mutasi India. Menurut epidemiolog tak ada jalan lain caranya, selain lockdown atau melakukan penguncian untuk mengatasi meluasnya penyebaran covid-19 mutasi India.

“Kalau ada varian baru bukan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) tapi lockdown,” tegas Epidemiolog dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI) Tri Yunis Miko Wahyono dikutip dari JawaPos, Jumat (18/6).

Adapun konsep lockdown yang bisa diterapkan, kata Tri Yunis, disesuaikan dengan distribusi persebaran kasusnya. Misalnya saat ini terjadi ledakan di Kudus, Bangkalan, dan Jepara. Maka kabupaten-kabupaten itu harus di-lockdown.

“Tergantung distribusinya, harusnya Kudus lockdown, Kabupaten Bangkalan juga. Provinsi DKI Jakarta juga harus di-lockdown,” tegas Tri Yunis.

Baca juga: Darurat Covid-19! WHO Desak Indonesia Perketat PSBB

Dia juga menyesalkan perilaku atau sikap masyarakat yang masih cuek atau acuh tak acuh dengan tetap makan bersama di restoran, kumpul-kumpul tanpa protokol kesehatan. Masyarakat seolah membiarkan situasi kolaps ini terjadi.

“Silakan saja masyarakat kalau mau kolaps. Masyarakat ini juga minta ampun. Waktu Lebaran saya melihat kerumunan, saya menangis, saya menangis. Melihat kerumunan, saya takut seperti ini. Seperti Kudus, Bangkalan, menyusul seperti Tangerang lalu Bandung, saya takut,” kata Tri Yunis.

Tri Yunis lebih lanjut menjelaskan saat ini dunia menghadapi varian baru Delta dari India. Maka salah satu upaya yang paling efektif adalah lockdown.

“Dengan lockdown, anak muda akan berhenti kumpul-kumpul, kalau lockdown kan dikunci. Kita berhadapan dengan musuh berbeda. Kalau musuhnya sama okelah,” katanya.

Tri Yunis khawatir jika di hulu pemerintah tak menarik rem darurat, maka ketersediaan tempat tidur rumah sakit (BOR) akan semakin kritis. 

“Ini saja sudah kolaps,” pungkasnya.

like
dislike
love
funny
angry
sad
wow
Login dengan
LIVE TV & NETWORK