Nusantaratv.com-PT PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI) mendorong pengembangan gasifikasi biomassa sebagai solusi percepatan program dedieselisasi, khususnya di wilayah terpencil yang belum terhubung dengan jaringan listrik interkoneksi.
Direktur Biomassa PLN EPI, Hokkop Situngkir, menyampaikan bahwa pemanfaatan biomassa kini tidak lagi sekadar alternatif, tetapi telah menjadi bagian dari pembangunan ekosistem energi baru terbarukan (EBT) yang terintegrasi dari hulu hingga hilir.
"Potensi biomassa nasional mencapai sekitar 80 juta ton, namun baru dimanfaatkan 20 juta ton. Artinya, masih ada peluang besar yang bisa dioptimalkan untuk mendukung ketahanan energi nasional," ujarnya di Jakarta pada Rabu, 15 April 2026.
Upaya ini diperkuat melalui penandatanganan nota kesepahaman antara PT PLN Energi Primer Indonesia dan PT Karimun Power Plant (KPP) terkait pengembangan bisnis syngas berbasis gasifikasi biomassa.
Penandatanganan tersebut dilakukan pada Senin, 6 April 2026 sebagai bagian dari dukungan terhadap transisi energi dan target net zero emission (NZE) 2060.
Hokkop Situngkir menjelaskan bahwa pengembangan biomassa tidak hanya berfokus pada co-firing di PLTU, tetapi juga membuka peluang baru melalui syngas hasil gasifikasi yang lebih fleksibel digunakan, baik untuk pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD) maupun sistem isolated.
"Gasifikasi biomassa ini menjadi solusi konkret untuk daerah isolated, yang masih bergantung pada solar. Dengan pendekatan ini, kita bisa menekan biaya energi sekaligus mengurangi emisi," tambahnya.
Ia juga menyoroti bahwa keterbatasan desain PLTU serta kesiapan infrastruktur menjadi tantangan dalam pemanfaatan biomassa melalui co-firing, sehingga diversifikasi pemanfaatan menjadi langkah strategis.
"Karena itu, kita membuka branch baru melalui gasifikasi biomassa. Ini bukan hanya opsi teknis, tapi juga solusi bisnis yang lebih adaptif untuk menjawab kebutuhan energi di wilayah terpencil," tegasnya.
Sebagai tahap awal, PLN EPI bersama KPP mengembangkan proyek percontohan di Karimun, Kepulauan Riau.
Saat ini, fasilitas tersebut memiliki kapasitas biomassa sebesar 1 megawatt (MW) dan berpotensi ditingkatkan hingga 2–5 MW.
Direktur KPP, Arthur Palupessy, mengatakan bahwa pihaknya telah memiliki pengalaman lebih dari 25 tahun dalam pengelolaan pembangkit berbasis diesel, namun menghadapi tantangan dalam transisi ke biomassa.
"Kami sudah terbiasa dengan sistem diesel yang memiliki standar biaya jelas. Tantangannya di biomassa adalah memastikan harga dan pasokan tetap stabil agar operasional tetap feasible," ujar Arthur Palupessy, dikutip dari Antara.
Ia menambahkan bahwa kebutuhan biomassa untuk pembangkit berkapasitas 1 MW dapat mencapai sekitar 35 ton per hari, sehingga diperlukan sistem rantai pasok jangka panjang yang terintegrasi.
"Kalau pasokan dan harga bisa dijaga stabil, maka gasifikasi biomassa akan menjadi solusi yang sangat kompetitif dibandingkan diesel," jelasnya.
Melalui kerja sama ini, PT PLN Energi Primer Indonesia akan berperan sebagai agregator sekaligus pengembang ekosistem biomassa, mulai dari pemetaan sumber bahan baku, pembangunan fasilitas produksi, hingga penyediaan teknologi gasifikasi dan distribusi syngas.
Selain menghasilkan energi, proyek ini juga berpotensi menghasilkan produk turunan seperti biochar yang memiliki nilai ekonomi.
Ke depan, PLN EPI menargetkan model ini dapat diterapkan di sekitar 200 lokasi PLTD di seluruh Indonesia sebagai bagian dari strategi untuk mengurangi konsumsi solar sekaligus mempercepat transisi energi nasional.




Sahabat
Ntvnews
Teknospace
HealthPedia
Jurnalmu
Kamutau
Okedeh