Nusantaratv.com-Pemerintah melalui Kementerian Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan bergerak cepat meningkatkan standar keselamatan perkeretaapian nasional. Menko Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), menginstruksikan penguatan pengamanan di sekitar 1.400 titik perlintasan sebidang di berbagai wilayah Indonesia.
Langkah preventif ini diambil menyusul insiden kecelakaan hebat yang melibatkan KRL Commuter Line dan KA Argo Bromo Anggrek di Bekasi Timur pada 27 April 2026 lalu. Tragedi tersebut menjadi pemantik evaluasi menyeluruh terhadap sistem keselamatan di titik pertemuan jalur kereta api dan jalan raya.
Menko AHY menegaskan bahwa pengamanan perlintasan kini menjadi prioritas utama pemerintah untuk mencegah jatuhnya korban jiwa di masa mendatang. Ia mendorong agar setiap titik perlintasan dilengkapi dengan sistem pengamanan yang madaaya, mulai dari palang pintu fisik hingga penyiagaan personel.
"Dari sekitar 1.400 perlintasan sebidang, pengamanan terus ditingkatkan melalui pembangunan palang dan penjagaan petugas. Kami memastikan akan ada pos jaga dengan empat petugas yang mengawaki perlintasan selama 24 jam penuh," ujar AHY, 20 Agustus 2026.
Menurut AHY, perlintasan sebidang merupakan titik rawan kecelakaan karena mempertemukan arus lalu lintas kendaraan umum dengan laju kereta api. Tanpa fasilitas keselamatan dan pengawasan yang memadai, risiko kecelakaan sangat tinggi.
"Setiap titik perlintasan kereta harus ada pengamanan dan petugas yang menjaga. Keselamatan menjadi faktor utama yang harus dipastikan, baik bagi perjalanan kereta api maupun aktivitas masyarakat yang melintasi jalur tersebut," tegasnya.
Berdasarkan data yang dihimpun, insiden di Bekasi Timur pada April 2026 bermula ketika sebuah rangkaian KRL Commuter Line mengalami kendala di perlintasan sebidang setelah terlibat kecelakaan awal. Tak lama berselang, KA Argo Bromo Anggrek yang melaju di jalur yang sama menabrak rangkaian KRL tersebut.
Baca Juga: AHY: Semangat Kemerdekaan Harus Kita Wujudkan Lewat Kepedulian dan Pembangunan yang Merata
Data terakhir melaporkan dampak fatal dari kejadian tersebut, yakni 16 orang meninggal dunia dan sekitar 90 orang lainnya mengalami luka-luka.
Selain penyiagaan petugas, Pemerintah juga tengah menyiapkan solusi jangka panjang dengan menghapuskan perlintasan sebidang melalui pembangunan infrastruktur layang atau flyover. Namun, AHY mengakui bahwa langkah ini memerlukan koordinasi lintas sektoral yang kompleks.
"Pembangunan flyover perlu dipercepat agar perlintasan sebidang dapat dihilangkan secara bertahap. Hal ini memerlukan penyiapan tata ruang, pembebasan lahan, serta koordinasi intensif antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah," jelas AHY.
Saat ini, pemerintah terus melakukan pemetaan terhadap titik-titik rawan di seluruh Indonesia. Evaluasi berkala dilakukan untuk menyesuaikan pola penjagaan dan fasilitas keselamatan dengan tingkat risiko di masing-masing perlintasan. Penguatan ini diharapkan dapat memberikan kepastian keamanan dan kenyamanan bagi seluruh pengguna jalan dan penumpang kereta api.




Sahabat
Ntvnews
Teknospace
HealthPedia
Jurnalmu
Kamutau
Okedeh