Nusantaratv.com - Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali mengepung Palangka Raya, Kalimantan Tengah.
Ribuan warga terkena ISPA, sementara sejumlah warga harus berjuang melawan gangguan pernapasan akibat buruknya kualitas udara.
Asap pekat kekuningan menyelimuti Kota Palangka Raya, Kalimantan Tengah. Di tengah kepungan asap kebakaran hutan dan lahan, warga harus berjuang mendapatkan udara bersih.
Sudarsono bahkan harus menggunakan tabung oksigen setelah jatuh sakit karena terpapar asap saat membantu memadamkan api yang mendekati permukiman.
"Pakai masker, kacamata, segala macamlah," ujar Sudarsono dalam program "NTV Today" yang tayang di Nusantara TV, Rabu (28/10/2026).
Dampak kebakaran juga dirasakan ribuan warga lainnya. Dinas Kesehatan Kota Palangka Raya mencatat 10.240 kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) sejak Juni hingga Oktober 2026.
Kasus ini meningkat seiring memburuknya kualitas udara akibat kabut asap. Bagi warga bernama Alexandra Surya Habsari, kabut asap telah merampas hak warga untuk menghirup udara bersih.
"Udara bersih harusnya enggak ada. Kita bisa melihat langit biru, kita bisa menghirup oksigen, kita bisa melihat matahari, udara bersih. Kalau yang kayak gini, udah deh, pokoknya ini tuh yang kita hirup ini sebenarnya adalah racun," kata Alexandra.
Baca Juga: NTV Morning: Polisi Tangkap Penimbun 3 Ton BBM Pertalite di Bangka Selatan Usai Beraksi 43 Kali
Alexandra menilai kabut asap kali ini berlangsung terlalu lama hingga melampaui kondisi yang biasanya mereka alami.
"Kapan sih gitu, ini tuh hilang kapan? Karena sebelumnya itu kan cuman 2 bulan udah gitu. Ini udah kayaknya sudah lebih dari batas normal yang kita bisa terima sebagai seorang manusia sih," lanjutnya.
Keluhan serupa disampaikan Siti Jumiati, warga Palangka Raya yang mengaku mengalami iritasi mata dan gangguan pernapasan akibat asap.
"Mata merah, mata perih, kadang sakit tenggorokan, batu, udara yang enggak sehat," ucap Siti.
Upaya penanganan Karhutla terus dilakukan. Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah menetapkan status siaga darurat Karhutla hingga 31 Oktober 2026.
Di tengah kondisi yang belum sepenuhnya pulih, Sudarsono berharap kebakaran segera berakhir agar warga bisa kembali beraktivitas tanpa dibayangi ancaman asap.
"Ya, nanti belakang-belakang nggak ada lagilah (kabut asap). Semoga Kalimantan Tengah ini bersih dari pembakaran. Itu aja. Semoga itu aja. Minta saya biar aman masyarakat kecil bisa kerja-kerja, bisa cari makan," tukas Sudarsono.
Bagi warga Palangka Raya, berakhirnya kebakaran bukan sekadar soal padamnya api, melainkan juga kembali hadirnya udara bersih untuk kehidupan.




Sahabat
Ntvnews
Teknospace
HealthPedia
Jurnalmu
Kamutau
Okedeh