Nusantaratv.com - Strategy & Sustainability Consultant, Ciska Tobing, menegaskan bahwa penerapan prinsip keberlanjutan (sustainability) hendaknya dipandang sebagai kapabilitas strategis bagi korporasi, dan bukan sekadar respons atas regulasi maupun insentif pemerintah.
Ciska mengungkapkan bahwa sebagian perusahaan di Indonesia maupun mancanegara telah secara mandiri menerapkan praktik keberlanjutan karena sudah merasakan nilai tambah dan keuntungan ekonominya secara nyata.
"Perusahaan yang baik, apa pun yang terjadi, dia tetap akan dengan pathway-nya. Dia harus bangun yang bernama strategic capabilities, jadi sustainability itu adalah kapabilitas strategis dari perusahaan tersebut," ujar Ciska saat menjadi narasumber dalam program "Merah Putih", Jumat (23/10/2026).
Di tengah tantangan global dan pergeseran dinamika geopolitik menuju pendekatan energi yang lebih pragmatis, Ciska menilai bahwa korporasi yang matang tetap menjadikan isu keberlanjutan sebagai fondasi efisiensi biaya jangka panjang.
"Bagi perusahaan-perusahaan seperti ini, menjalankan sustainability itu sebenarnya menjadi penghematan. Misalnya dia melakukan circularity, mengolah limbah, selain mengurangi karbon, mereka juga melakukan penghematan. Nah, di sini ada nilai ekonominya," jelasnya.
Mengenai regulasi di dalam negeri, Ciska mengapresiasi aturan seperti Peraturan OJK No. 51/POJK.03/2017, yang secara bertahap mengarahkan sektor perbankan dan korporasi untuk menerapkan green financing dan tata kelola keberlanjutan.
Terkait kekhawatiran berubahnya kebijakan akibat pergantian kepemimpinan atau rezim, Ciska optimistis bahwa komitmen keberlanjutan nasional, seperti target Net Zero Emission 2060, serta komitmen perusahaan global telah terencana secara terstruktur sehingga tidak mudah berganti secara mendadak.
"Komitmen itu tidak semudah itu berubah-ubah, karena kan sudah terekam posisinya, emisinya mau diturunkan berapa, dan sudah dipikirkan jangka panjang," tukas Ciska.




Sahabat
Ntvnews
Teknospace
HealthPedia
Jurnalmu
Kamutau
Okedeh