Kementrans Dorong Kawasan Transmigrasi Jadi Motor Pertumbuhan Ekonomi Baru

Kementrans Dorong Kawasan Transmigrasi Jadi Motor Pertumbuhan Ekonomi Baru

Nusantaratv.com - 25 Agustus 2026

Menteri Transmigrasi M. Iftitah Sulaiman Suryanagara dalam Transmigration Executive Dialogue (TED) di Jakarta, Senin, 24 Agustus 2026. (Antara)
Menteri Transmigrasi M. Iftitah Sulaiman Suryanagara dalam Transmigration Executive Dialogue (TED) di Jakarta, Senin, 24 Agustus 2026. (Antara)

Penulis: Ramses Manurung

Nusantaratv.com-Kementerian Transmigrasi (Kementrans) mendorong transformasi kawasan transmigrasi agar tidak hanya berfungsi sebagai tempat permukiman, tetapi berkembang menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru. Kawasan tersebut diarahkan mampu menciptakan lapangan kerja produktif, meningkatkan pendapatan warga, memperluas akses pasar bagi petani dan pelaku usaha lokal, sekaligus membuka peluang investasi di tengah dinamika ekonomi dan geopolitik global.

Menteri Transmigrasi M. Iftitah Sulaiman Suryanagara menilai pembangunan ekonomi harus menjadi prioritas sebelum mobilitas penduduk dilakukan. Menurutnya, perpindahan masyarakat seharusnya terjadi setelah kawasan memiliki peluang ekonomi dan kehidupan yang menjanjikan.

“Masa depan transmigrasi bukan memindahkan orang terlebih dahulu lalu dan berharap peluang ekonomi menyusul. Kita harus menciptakan peluang ekonomi, menyiapkan pekerjaan dan kehidupan yang layak, baru mobilitas penduduk mengikuti secara sukarela, aman, dan dengan kepastian masa depan,” kata Menteri Iftitah dalam keterangannya di Jakarta, Selasa, 25 Agustus 2026.

Ia mengatakan, ketersediaan pekerjaan, kesempatan membuka usaha, infrastruktur yang memadai, serta prospek kehidupan yang lebih baik akan menjadi daya tarik bagi masyarakat untuk datang dan menetap secara sukarela.

Karena itu, Kementrans ingin membentuk kawasan transmigrasi sebagai sebuah ekosistem ekonomi yang saling terhubung. Ekosistem tersebut mencakup masyarakat, lahan, ilmu pengetahuan, teknologi, investasi, industri, hingga pasar.

Pembangunan juga diarahkan untuk mencakup keseluruhan rantai nilai, mulai dari riset dan pembibitan, proses produksi, pengolahan, pengemasan, logistik, hingga pemasaran. Dengan cara tersebut, nilai tambah komoditas diharapkan dapat tercipta di dalam kawasan dan memberikan manfaat lebih besar bagi masyarakat setempat.

Iftitah mencontohkan potensi pasar durian di China yang nilai konsumsinya mencapai sekitar Rp137 triliun per tahun. Menurutnya, potensi tersebut semestinya tidak hanya dimanfaatkan dengan mengirimkan komoditas dalam bentuk mentah, tetapi juga dikembangkan menjadi industri yang memiliki rantai ekonomi lengkap di Indonesia.

“Kita tidak boleh berhenti pada menanam dan mengekspor komoditas mentah. Kita harus membangun seluruh ekosistem ekonominya di Indonesia, mulai dari riset dan pembibitan hingga budidaya, pengolahan, logistik, produk hilir, dan pemasaran global,” ujarnya.

Untuk menjalankan paradigma tersebut, Kementrans menyiapkan lima program unggulan.

Lima program itu meliputi Trans Tuntas yang memberikan kepastian hukum atas lahan, Trans Lokal yang menempatkan masyarakat setempat sebagai pelaku utama sekaligus penerima manfaat pembangunan, serta Trans Patriot yang membawa sumber daya manusia, ilmu pengetahuan, dan teknologi ke kawasan transmigrasi.

Selanjutnya, terdapat Trans Karya Nusantara yang diarahkan untuk mendorong investasi sekaligus membuka lapangan pekerjaan sebelum perpindahan penduduk berlangsung. Adapun Trans Gotong Royong ditujukan untuk memperkuat kerja sama antara pemerintah, perguruan tinggi, dunia usaha, dan masyarakat.

“Transmigrasi hari ini tidak bisa berjalan sendirian. Kepastian lahan, infrastruktur, konektivitas, energi, investasi, pasar, tata kelola, dan sumber daya manusia harus dibangun bersama dalam satu ekosistem,” tegas Iftitah.

Selain itu, Iftitah menyampaikan arahan kepada 1.476 Patriot yang saat ini bertugas di 53 kawasan transmigrasi prioritas yang tersebar di Indonesia.

Menurutnya, para Patriot tidak cukup hanya menghasilkan penelitian maupun laporan. Mereka juga perlu memahami potensi kawasan, mengidentifikasi persoalan yang dihadapi masyarakat, menerapkan ilmu pengetahuan, melakukan pendampingan, serta mempertemukan potensi lokal dengan teknologi, industri, investasi, dan pasar.

“Para Patriot adalah mata dan telinga kita di lapangan. Hasil kerja mereka akan menjadi salah satu fondasi penting bagi kebijakan dan pembangunan kawasan transmigrasi ke depan,” ujarnya.

Iftitah juga menekankan bahwa pengembangan kawasan transmigrasi tidak boleh mengesampingkan masyarakat lokal. Warga setempat harus ditempatkan sebagai tuan rumah, pelaku utama, sekaligus pihak yang memperoleh manfaat dari pembangunan.

Pertumbuhan investasi dan industri, lanjutnya, perlu berjalan beriringan dengan peningkatan nilai tambah, penciptaan lapangan kerja, pengembangan pengetahuan, serta peningkatan kesejahteraan masyarakat di daerah.

Sementara itu, Professor of Economics dari Adam Smith Business School, University of Glasgow, Soner Başkaya menyebut transmigrasi sebagai “the right programme at the right time.”

Ia menilai Indonesia memiliki posisi yang menguntungkan di tengah perubahan rantai pasok global. Hal tersebut didukung oleh posisi politik Indonesia yang relatif netral, letaknya yang strategis dalam jalur perdagangan dunia, serta kekayaan sumber daya alam yang dimiliki.

“Posisi Indonesia saat ini sangat menguntungkan di mata dunia. Indonesia memiliki posisi politik yang relatif netral, jalur perdagangan yang strategis, serta kekayaan alam penting seperti nikel yang sangat dibutuhkan industri masa depan, mulai dari baterai hingga kendaraan listrik,” kata Başkaya dalam Transmigration Executive Dialogue (TED), dikutip di Jakarta, Selasa.

Namun, menurut Başkaya, berbagai keunggulan tersebut harus diubah menjadi manfaat yang dapat dirasakan langsung oleh masyarakat. Investasi yang masuk ke kawasan transmigrasi tidak cukup hanya hadir sebagai aktivitas ekonomi, tetapi juga harus mampu menciptakan lapangan pekerjaan, meningkatkan keterampilan warga, menggerakkan usaha lokal, serta membuka koneksi dengan industri dan pasar yang lebih luas.

Ia juga menilai kawasan transmigrasi membutuhkan fasilitas pendukung seperti pusat pengolahan hasil pertanian, jaringan logistik, sarana modern, akses pembiayaan, serta ekosistem inovasi.

Dengan dukungan tersebut, masyarakat diharapkan tidak hanya menjual komoditas dalam bentuk bahan mentah, tetapi turut mendapatkan manfaat dari proses produksi dan rantai nilai yang lebih panjang.

Menurut Başkaya, pendekatan baru dalam pembangunan transmigrasi berpotensi menjadi instrumen untuk menghidupkan kawasan, menarik investasi dan talenta, sekaligus memperluas penyebaran pengetahuan.

Tujuan akhirnya adalah membentuk kawasan yang produktif dan berkembang serta memiliki daya tarik sebagai tempat bekerja maupun membangun kehidupan.

Bagi masyarakat, transformasi tersebut dapat membuka lebih banyak pilihan pekerjaan tanpa harus selalu mencari penghidupan di kota-kota besar. Petani dan pelaku UMKM juga berpeluang memperoleh dukungan berupa teknologi, pembiayaan, mitra usaha, dan akses pasar yang lebih luas.

Başkaya mengingatkan bahwa keberhasilan perubahan tersebut tidak semata-mata dapat dilihat dari nilai investasi yang diumumkan maupun jumlah program yang dilaksanakan.

"Ukuran utamanya adalah perubahan yang benar-benar dirasakan masyarakat, seperti bertambahnya pekerjaan produktif, meningkatnya pendapatan dan keterampilan warga, tumbuhnya usaha lokal, serta berkembangnya perekonomian daerah secara berkelanjutan," tambahnya.

 

Dapatkan update berita pilihan terkini di nusantaratv.com. Download aplikasi nusantaratv.com untuk akses berita lebih mudah dan cepat melalui:



0

x|close