Nusantaratv.com - Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia kembali menjadi perhatian negara-negara tetangga.
Dampaknya tidak hanya dirasakan masyarakat di wilayah terdampak kebakaran, tetapi juga berpotensi mengganggu aktivitas warga, kesehatan, perekonomian, hingga hubungan diplomatik antarnegara di kawasan ASEAN.
Isu ini menjadi sorotan dalam program "Dari Meja Redaksi" Nusantara TV yang membahas fenomena asap karhutla lintas batas ASEAN dan negara-negara yang paling terdampak.
Persoalan karhutla diibaratkan seperti membakar sampah di halaman rumah sendiri. Meski api berada di satu tempat, asapnya dapat menyebar ke lingkungan sekitar karena terbawa angin.
Kondisi serupa terjadi pada karhutla. Asap yang dihasilkan tidak berhenti di wilayah terjadinya kebakaran, tetapi dapat melintasi batas negara dan mengganggu kehidupan masyarakat di negara tetangga.
Dampaknya pun tidak sebatas langit yang menguning atau menurunnya jarak pandang. Kabut asap juga berpotensi mengganggu kesehatan masyarakat, aktivitas sehari-hari, serta kegiatan ekonomi.
Dalam jangka panjang, persoalan ini bahkan dapat memengaruhi hubungan diplomatik antarnegara. Tekanan terhadap persoalan karhutla semakin terlihat setelah isu kabut asap mendapat perhatian di parlemen Malaysia.
Dalam sidang di Dewan Rakyat Malaysia, salah satu Anggota Dewan Rakyat Malaysia dari Partai Perikatan Nasional, Kalam Salan, menyampaikan protes dan teguran terkait karhutla di Indonesia menggunakan bahasa Jawa.
"Ini tentunya menjadi perhatian kalau sampai negara tetangga kita, jiran terdekat, sudah bersuara. Itu mungkin ingin mengetuk pintu hati terdalam, sampai menggunakan bahasa Jawa. Mungkin ada dua maksud. Pertama, ingin mengetuk pintu hati terdalam. Kedua, jangan sampai sekaligus menyindir karena tidak mengerti apa yang harus dilakukan dan dianggap kurang tanggap, akhirnya pakai bahasa Jawa," ujar Produser Eksekutif NTV, Syifa Hamdhani.
"Sarkasnya halus, ya," timpal host Chakry Miller.
Baca Juga: DARI MEJA REDAKSI: Jual Beli Lapas Mewah
Penyampaian pesan tersebut menjadi gambaran bahwa keresahan akibat kabut asap tidak hanya muncul di kalangan masyarakat, tetapi juga mulai mendapat perhatian di tingkat politik.
Situasi tersebut digambarkan melalui ungkapan bahwa kebakaran hutan yang menghanguskan vegetasi dapat menghasilkan asap pekat yang bergerak melintasi lautan dan membawa dampak bagi masyarakat di negara lain.
Kondisi ini memperlihatkan bahwa penanganan karhutla bukan semata-mata persoalan domestik. Ketika asap menyebar hingga ke wilayah negara tetangga, dampaknya dapat berkembang menjadi persoalan regional yang membutuhkan perhatian bersama.
Sebelum sorotan dari parlemen Malaysia mengemuka, Perdana Menteri Singapura Lawrence Wong pada 16 Oktober juga telah menyampaikan langkah terkait penanganan persoalan kabut asap.
Dalam pembahasan tersebut, Singapura disebut akan menelusuri perusahaan-perusahaan yang diduga bertanggung jawab atas karhutla, termasuk perusahaan perkebunan yang memiliki basis usaha di Singapura.
Selain itu, kerja sama lintas batas antarnegara turut menjadi salah satu langkah yang dipertimbangkan untuk mengatasi persoalan kabut asap.
"Dia (Lawrence Wong) akan menelusuri perusahaan-perusahaan yang bertanggung jawab atas karhutla, terutama perusahaan perkebunan yang berbasis di Singapura, karena banyak di antaranya berkantor di sana. Selain itu, dia juga mempertimbangkan kerja sama lintas batas antarnegara untuk mengatasi masalah kabut asap. Sebab, sebenarnya kita berada dalam satu wadah, yaitu ASEAN," kata Syifa Hamdhani.
Langkah tersebut menunjukkan bahwa dampak karhutla berpotensi melibatkan berbagai pihak, termasuk pemerintah, perusahaan, dan negara-negara yang terdampak penyebaran asap.
Persoalan karhutla lintas batas menghadirkan tantangan tersendiri bagi negara-negara ASEAN. Berbeda dengan persoalan lingkungan di tingkat lokal yang dapat dimediasi melalui perangkat wilayah, kabut asap lintas negara membutuhkan koordinasi antarpemerintah.
Penanganan yang efektif tidak cukup hanya dengan memadamkan api. Upaya pencegahan kebakaran, penelusuran pihak yang bertanggung jawab, penegakan hukum, serta kerja sama regional juga menjadi bagian penting untuk mengurangi risiko terulangnya bencana serupa.
Dengan dampak yang meluas hingga ke negara tetangga, karhutla menjadi pengingat bahwa persoalan lingkungan tidak mengenal batas wilayah. Karena itu, diperlukan langkah bersama agar kabut asap tidak terus mengganggu kesehatan masyarakat, aktivitas ekonomi, dan hubungan antarnegara di kawasan ASEAN.
Program "Dari Meja Redaksi" bertajuk "Asap Karhutla Melintas Batas ASEAN, Siapa Terdampak?" dapat Anda saksikan selengkapnya dengan mengakses YouTube Nusantara TV.




Sahabat
Ntvnews
Teknospace
HealthPedia
Jurnalmu
Kamutau
Okedeh