BGN Tanggapi Isu Menu MBG Awal Ramadhan, Komitmen Tingkatkan Mutu

BGN Tanggapi Isu Menu MBG Awal Ramadhan, Komitmen Tingkatkan Mutu

Nusantaratv.com - 25 Februari 2026

Petugas menyiapkan telur rebus untuk paket Makan Bergizi Gratis (MBG) Ramadhan di Dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Pontianak Selatan di Pontianak, Kalimantan Barat, Senin, 23 Februari 2026. (Foto: ANTARA FOTO/Jessica Wuysang/YU)
Petugas menyiapkan telur rebus untuk paket Makan Bergizi Gratis (MBG) Ramadhan di Dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Pontianak Selatan di Pontianak, Kalimantan Barat, Senin, 23 Februari 2026. (Foto: ANTARA FOTO/Jessica Wuysang/YU)

Penulis: Adiantoro

Nusantaratv.com - Badan Gizi Nasional (BGN) menyatakan komitmennya untuk terus memperbaiki mutu pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG), menyusul sorotan publik terkait menu pada awal Ramadhan yang dinilai belum sepenuhnya memenuhi angka kecukupan gizi (AKG).

Kepala BGN Dadan Hindayana menyampaikan hal itu dalam rapat koordinasi bersama seluruh mitra dan kepala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) guna merespons dinamika yang berkembang di lapangan.

"Kami ingin memastikan bahwa pelaksanaan MBG Ramadhan tetap sesuai standar gizi, tepat sasaran, serta transparan dari sisi penggunaan anggaran. Evaluasi ini penting agar tidak terjadi kesalahpahaman di ruang publik," ujar Dadan dalam keterangannya di Jakarta, Rabu, 25 Februari 2026.

Menurut Dadan, evaluasi dilakukan secara menyeluruh, mencakup aspek kemasan, komposisi menu, hingga transparansi penghitungan AKG. Ia meminta seluruh SPPG dan mitra memperhatikan kualitas kemasan makanan.

Menu tidak diperkenankan hanya menggunakan kantong plastik sederhana, melainkan harus dikemas dalam wadah yang lebih layak, higienis, serta mampu menjaga kualitas hingga diterima penerima manfaat.

Selain itu, komposisi bahan pangan juga menjadi sorotan. Dadan menilai bahan seperti kacang memiliki harga relatif lebih mahal dibandingkan telur, sementara telur dinilai memiliki citra protein yang lebih baik dan lebih mudah diterima masyarakat.

Karena itu, mitra diminta menyesuaikan komposisi menu dengan mengganti kacang menjadi telur tanpa menurunkan nilai gizi.

Dia juga memastikan setiap SPPG menyusun penjelasan rinci mengenai AKG dan harga bahan pangan dalam setiap menu, dengan pagu bahan baku Rp8.000 untuk balita hingga siswa SD kelas 3, serta Rp10.000 untuk kelompok lainnya.

"Patokan dasar tersebut dapat berbeda sesuai indeks kemahalan daerah dan bersifat at cost, sehingga perlu dijelaskan secara terbuka kepada publik," ucap Dadan.

Dalam menjaga kualitas distribusi, setiap SPPG diminta mulai mengadakan peralatan vakum agar makanan lebih tahan lama, higienis, dan tetap layak konsumsi.

BGN juga mengingatkan mitra agar tidak memaksakan penggunaan bahan baku yang kondisinya kurang baik.

"Kami tidak ingin ada kompromi dalam hal kualitas. Prinsipnya sederhana: makanan harus aman, bergizi, dan sesuai pagu. Jika ada bahan yang tidak layak, lebih baik diganti daripada dipaksakan. Ini bentuk tanggung jawab kami kepada masyarakat," tuturnya.

(Sumber: Antara

 

Dapatkan update berita pilihan terkini di nusantaratv.com. Download aplikasi nusantaratv.com untuk akses berita lebih mudah dan cepat melalui:



0

x|close