Pariwisata Bali Bisa Rugi Rp 138 T Gara-gara Corona :: Nusantaratv.com

Pariwisata Bali Bisa Rugi Rp 138 T Gara-gara Corona

Mengingat 60 persen pendapatan masyarakat berasal dari industri pariwisata
Pariwisata Bali Bisa Rugi Rp 138 T Gara-gara Corona
Salah satu sudut lokasi wisata di Bali. (Net)

Bali, Nusantaratv.com - Jika hingga akhir 2020 virus corona tak teratasi, pariwisata Bali akan merugi hingga Rp 138,6 triliun. Hal ini diungkapkan Gabungan Industri Pariwisata Indonesia (GIPI) Bali. 

"Potensi kerugian kami sepanjang 2020 ini kurang lebih US$ 9 miliar, yang paling besar adalah wisata tirta," ujar Ketua GIPI Bali Ida Bagus Agung Partha Adnyana, Jumat (24/4/2020).

Ida Bagus mengungkapkan, penurunan pendapatan pariwisata Bali terjadi sejak Februari 2020. Tren penurunan terus terjadi pada Maret 2020, seperti terlihat pada angka wisatawan mancanegara yang anjlok sebesar 42,32 persen. Sedangkan untuk April, per 13 April 2020 dilaporkan penurunan kunjungan sebesar 93,24 persen.

Sementara, Wakil Gubernur Bali Tjokorda Oka Artha Ardana Sukawati (Cok Ace) menyatakan Bali merupakan provinsi dengan sektor pariwisata paling terpukul akibat wabah corona. Karena lebih dari 60 persen dari pendapatan masyarakatnya, berasal dari sektor pariwisata.

"Akibat covid-19 dari seluruh provinsi di Indonesia yang paling terdampak adalah Bali. Pendapatan kami lebih dari 60 persen tergantung pada pariwisata. Tak ada seorang pun di Bali yang tak ada kaitannya dengan pariwisata," kata dia.

Bukan hanya sektor turunan pariwisata seperti perhotelan yang turut rugi, tapi sektor pertanian pun ikut terdampak. 

Cok Ace menjelaskan, pandemi covid-19 membuat permintaan produk pertanian menjadi rendah. Biasanya, sayur dan buah tersebut diserap oleh hotel-hotel di Bali.

Atas itu ia mengusulkan ke pemerintah pusat untuk mengeluarkan kebijakan yang bisa meringankan beban provinsi yang dipimpinnya.

"Ada dua sasaran, pertama ke pengusaha dan kedua untuk karyawan. Aset kami adalah sumber daya manusia, maka itu hak-hak karyawan harus dipenuhi, setidaknya agar mereka bisa bertahan hidup," jelasnya. 

Untuk pengusaha, ia mengusulkan pemerintah menggratiskan listrik perhotelan. Kendati telah menutup usaha mereka untuk sementara, pengusaha hotel masih harus membayar abodemen secara penuh. Menurutnya, per bulan para pengusaha harus membayar tagihan listrik sebesar Rp 500 juta sampai Rp 800 juta. 

Ia juga berharap jasa layanan air bisa gratis untuk sementara. Apabila tak bisa digratiskan, setidaknya pemerintah bisa membuat pengusaha tak membayar penuh.

Ia juga mengusulkan pemerintah memberikan pinjaman lunak lewat bank bagi pengusaha. Dengan catatan, dana pinjaman harus ditransfer langsung ke rekening para pekerja sebagai bayaran gaji mereka selama dirumahkan.
 
"Hak karyawan harus dipenuhi karena mereka juga punya kewajiban mencicil dan harus makan. Gaji tak harus dibayarkan penuh, sama-sama mengerti saja, asal ada pendapatan dan mencukupi," jelasnya.

Usulan Pemprov Bali yang lain yakni penundaan tagihan BPJS para karyawan. Ia berharap pemerintah pusat untuk sementara bisa membayarkan kewajiban BPJS para karyawan, sehingga perlindungan kesehatan mereka dapat terjamin serta menjaga agar uang kas perusahaan tidak bolong. (CNNIndonesia.com) 

BAGIKAN

REAKSI KAMU

like
0
love
0
funny
0
angry
0
sad
0
wow
0