Vaksin Covid-19 Sinovac, Amankah?

Efikasi vaksin covid-19 Sinovac sebesar 65.3 persen sudah melebihi standar yang diberlakukan oleh organisasi kesehatan dunia,...
Ramses Rianto Manurung - Video, Rabu, 13-01-2021 20:25 WIB

Vaksin covid-19 bisa menlindungi dari infeksi virus corona. Namun ada kekhawatiran mengenai dugaan efek samping vaksin salah satunya bisa menyebabkan kemandulan. Benarkah demikian?

Topik ini menjadi pembahasan dalam Dialog Nusantara Siang yang disiarkan NusantaraTV, Rabu (13/1/2021) bersama Host Muhammad Irsal dan narasumber Ketua Tim Mitigasi Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) dr Adib Khumaidi.  

Hari ini pukul 9.30 WIB Presiden Joko Widodo menerima vaksin covid-19 yang pertama dari Sinovac. Tanggapan anda?

Ketua Tim Mitigasi Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) dr Adib Khumaidi mengapresiasi Presiden Jokowi yang telah menjadi orang pertama suatu pembuktian kepada publik terkait dengan proses yang kemarin dilakukan oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Presiden Jokowi telah memperlihatkan kepada publik bahwa dirinya yakin bahwa vaksin Sinovac ini mempunyai dasar-dasar secara ilmiah dan secara akademik dibuktikan oleh BPOM terkait efikasi, safety dan imunitas.

Kami belum memantau efek samping yang tadi diumumkan bahwa 30 menit ke depan akan bereaksi. Secara umum seluruh vaksin yang digunakan atau disuntikan kepada manusia, efek samping seperti apa yang ditimbulkan?

Kejadian yang tidak diinginkan pasca imunisasi itu memang suatu hal yang perlu diperhatikan dan semua proses imunisasi. Ini bukan pengalaman pertama Indonesia melakukan imunisasi massal. 

Dan persiapan-persiapan yang dilakukan terutama oleh Kementerian Kesehatan dengan seluruh jajaran sampai ke bawah selalu memonitoring.

Yang biasanya terjadi pasca imunisasi adalah kondisi-kondisi yang mungkin ada bengkak, ada demam-demam ringan. Kalau masyarakat juga pernah mendapatkan suntikan imunisasi DPT kemudian mengalami demam ringan. 

Di dalam monitoring ini melibatkan semua pihak dari pendataan yang sudah ada. Fakta vaksinasi terus dimonitoring sampai benar-benar tidak ada keluhan. 

Bukan tidak mungkin ada efek yang dirasakan manusia ketika menerima vaksin.  Mungkin terberatnya tergantung kondisi manusia itu sendiri. Kondisi terberat seperti apa yang masyarakat harus waspadai?

Kondisi terberat tentunya adalah apa yang disebut shock anaphylactic, artinya setelah suntikan. Bukan karena suntikan vaksin saja atau bahkan suntikan vaksin covid-19. Tetapi setiap kali mendapatkan suntikan kemudian ada reaksi namanya alergy shock anaphylactic. Oleh karena itu para pakar selalu menyampaikan salah satu yang menjadi perhatian utama dan ini menjadi kontrindikasi absolut di dalam imunisasi atau vaksinasi. Semua vaksinasi termasuk  vaksinasi covid-19 ada dua hal. Yang pertama adalah mempunyai reaksi alergi atau riwayat alergi dan pernah mengalami shock anaphylactic. Kemudian yang kedua, penyakit autoimun. Dua hal inilah yang menjadi kontraindikasi absolut.

Ini yang kemudian perlu menjadi perhatian kalau ada kondisi-kondisi yang pada saat medical record/riwayat medisnya seperti itu sebaiknya tidak dilakukan imunisasi. 

Kita tahu di Gedung DPR sedang ada kontroversi terkait dengan vaksinasi yang bisa dikatakan ada kemungkinan gagal karena merujuk kepada vaksin yang beberapa waktu lalu melanda Indonesia akhirnya berujung kepada kegagalan vaksin. Pemahaman seperti apa yang bisaa  Ikatan Dokter Indonesia berikan agar masyarakat yang mendengar informasi tersebut agak sedikit tenang?

Syarat utama dari vaksinasi atau obat adalah efikasi, safety dan imunogenitas. Ini dilakukan salam satu proses uji klinis serta pre klinis kemudian uji klinis fase 1, fase 2 hingga fase 3. Fase 3 inilah yang kemudian kita bicarakan saat ini sudah diproses oleh BPOM adalah produk dari Sinovac ini. 

Kalau kita bicara safety di uji klinis fase 1, fase 2 sudah menunjukan safety-nya tetapi kalau bicara yang paling penting adalah efektifitasnya. Efikasi inilah yang kemarin disampaikan oleh BPOM ada 65,3 persen. Artinya ini menjadi satu pemahaman kalau berdasarkan syarat di awal harus lebih dari 50 persen.

Tetapi kalau kemudian menjadi pertanyaan masyarakat, kenapa 65,3 persen yang dipilih? Padahal ada yang lebih baik bahkan sampai 90 persen lebih. Atau data yang kemudian dipakai oleh BPOM itu bukan hanya data 65,3 persen yang sudah dilakukan dari Bandung. Itu data tambahan dari jumlah sampel yang belum semuanya dilaporkan. Artinya proses final report sampai sekitar Maret 2020 tapi Januari ada interim analisis yang dilakukan yang bisa dijadikan dasar oleh BPOM untuk mengeluarkan vaksin efikasi ditambah data dari Turki, Brasil itu yang kemudian menjadi dasar bahwa BPOM mengeluarkan efikasinya. Ini yang perlu dipahami oleh masyarakat. 

Efikasi sebesar 65.3 persen sudah melebihi standar yang diberlakukan oleh organisasi kesehatan dunia, WHO. Ada jaminan vaksin akan bekerja secara sempurna?

Benar. Jadi secara efektif. Vaksin covid-19 ini disuntikan dua kali (dua dosis-red). Penerima vaksin disuntik dua kali. Selang 14 jam setelah suntikan yang pertama, penerima harus disuntik kembali untuk yang kedua kalinya. Suntikan yang pertama dan kedua akan saling memperkuat. Suntikan kedua akan memperkuat efikasinya. Jadi ini yang harus dipahami. Jangan sampai hanya satu kali disuntik vaksin covid-19. 

Nusantara Siang hadir untuk kebutuhan anda mengenai berita-berita terupdate setiap harinya. Saksikan Nusantara Petang setiap hari Senin - Jumat jam 11.30 WIB hanya di Nusantara TV 

Reaksi Kamu dengan Artikel ini

like
0
love
0
funny
0
angry
0
sad
0
wow
0