RI Banjir Korupsi, Pengamat: Ada yang Salah Dalam Sistem Pemerintah

Tamil Silvan menyatakan  ada sistem yang salah dalam pemerintahan. Di mana orang baik pun menduduki jabatan publik bukan...
Ramses Rianto Manurung - Video, Rabu, 02-12-2020 00:15 WIB

Penangkapan Edhy Prabowo oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) beberapa waktu lalu, membawa cerita tersendiri dalam dunia politik Indonesia. Apalagi dalam waktu dekat Indonesia akan menggelar Pilkada Serentak 2020.

Berbagai kalangan menilai penangkapan ini akan membawa dampak yang besar bagi Partai Gerindra. Baik di Pilkada Serentak 2020 maupun di Pemilihan Presiden 2024 yang akan datang.

Lalu apa yang harus dilakukan oleh Partai Gerindra agar tidak terlalu terpengaruh akibat kasus Edhy Prabowo ini? 

Topik menarik ini diulas secara mendalam oleh Host Tasya Felder bersama narasumber Pengamat Sosial Politik Tamil Silvan dalam Dialog Nusantara Petang yang disiarkan Nusantara TV, Selasa (1/12/2020).

Bagaimana dampak penangkapan Edhy Prabowo terhadap peta perpolitikan di Indonesia?

Tamil Silvan mengatakan belakangan ini ruang publik ramai memperbincangkan penangkapan Edhy Prabowo yang dikait-kaitkan dengan integritas Prabowo Subianto. Banyak juga kalangan yang mengatakan Prabowo sudah tamat. Hal ini terlalu dipolitisir untuk pencapaian di Pilpres 2024.

Kalau berbicara soal korupsi. Menurut pria yang akrab disapa Kang Tamil ini korupsi itu terkait dengan perilaku dan mental seseorang. Memang banyak pihak yang menyebut Edhy Prabowo ini merupakan kader emas dari Partai Gerindra. Kemudian tertangkap karena kasus dugaan korupsi. Apakah hal ini berdampak atau berkaitan dengan Prabowo Subianto dan figur-figur lainnya? Ini tidak fair. 

Kenapa? Karena korupsi ini adalah perihal perilaku seseorang. Kita lihat kalau masalah kepribadiannya. Banyak pihak yang mengatakan Edhy Prabowo orang baik. 

Namun ketika perilaku koruptif itu terjadi kita harus berkaca lebih dalam.

Tamil Silvan menyatakan  ada sistem yang salah dalam pemerintahan. Di mana orang baik pun menduduki jabatan publik bukan tidak mungkin akan terjerumus dalam tindakan koruptif. 

Jadi ketika ini dikaitkan dengan Prabowo, menurut Tamil agak terlalu jauh. Tetapi apakah perilaku koruptif ini berkaitan dengan politik. Iya. 

Lalu kita mau kaitkan ini dengan Pilkada yang sebentar lagi berlangsung. Ada dua hal yang menjadi ganjalan. Pertama, ketakutan masyarakat hadir ke tempat pemungutan suara (TPS) terkait covid-19. Kedua, masyarakat juga enggan atau bahkan antipati dikarenakan mereka menganggap tidak akan ada perubahan dan perkembangan oleh para tokoh yang bertarung. Ini dua hal yang menggerus partisipasi publik 

Lalu kaitannya, apakah perilaku koruptif Edhy Prabowo akan menggerus partisipasi publik? jawabannya iya. Tetapi tidak hanya ke Partai Gerindra 

Ada beberapa hal yang bisa dijadikan parameter terkait tergerusnya suara-suara politik. 

Contoh Partai Golkar. Ketika Ketua Umumnya Setya Novanto tersangkut kasus korupsi kemudian Idrus Marham. Namun kejadian itu kemudian tidak serta merta menurunkan elektabilitas partainya. Karena faktanya, Golkar partai nomor dua terbesar. 

Kemudian orang bertanya di mana sisi social punishment-nya? Yang menjadi masalah adalah kaca mata masyarakat melihat partai politik tidak sejauh yang dibayangkan masyarakat.

Contohnya hari ini ketika masyarakat dihadapkan pada Pilkada. Belum tentu calon-calon dari Gerindra, dari koalisi PDI Perjuangan akan mendapatkan suara lebih kecil dibandingkan dengan calon dari partai lain. 

Karena masyarakat akan cenderung melihat siapa figur yang berkontestasi

Nusantara Petang hadir untuk kebutuhan anda mengenai berita-berita terupdate setiap harinya. Saksikan Nusantara Petang setiap hari Senin - Jumat jam 17.30 hanya di Nusantara TV   

Reaksi Kamu dengan Artikel ini

like
0
love
0
funny
0
angry
0
sad
0
wow
0