Benarkah Pemerintah Punya Andil Dalam Kepulangan Habib Rizieq? 

Habib Rizieq di depan pendukungnya telah menyatakan akan tetap melontarkan kritik kepada pemerintahan Jokowi. 
Ramses Rianto Manurung - Video, Selasa, 10-11-2020 21:50 WIB

Setelah 3,5 menetap di Arab Saudi, Habib Rizeq Shihab telah kembali ke Indonesia pada Selasa (10/11/2020).

Kepulangan Habib Rizieq yang dikenal vokal dan kerap mengkritik pemerintah sontak memunculkan pertanyaan di publik bagaimana dampak kepulangan Imam Besar FPI itu terhadap konstelasi politik di Indonesia ke depan?

Topik ini menjadi pembahasan antara Host Tasya Felder dengan narasumber Pakar Komunikasi Politik Gun Gun Heryanto dalam sesi Dialog Nusantara Petang yang disiarkan Nusantara TV, Selasa (10/11/2020).

Apakah kepulangan Habib Rizieq tidak akan menjadi persoalan bagi pemerintah?

Pakar Komunikasi Politik Gun Gun Heryanto mengatakan sebenarnya kritik sekaras apapun selama kritik yang berbasis pada program berbasis pada hal yang memang seharusnya dikritik misalnya menyangkut kekurangan pemerintah, itu sah dan wajar. 

Yang tidak boleh dilakukan adalah  melakukan tindakan-tindakan anarkis, contohnya provokasi 
atau mobilisasi orang dengan cara-cara yang bisa masuk ke dalam pelanggaran seperti hatespeech.
Atau menstimulasi SARA (suku agama, ras antar golongan dalam konteks memecah belah.
Provokasi yang berbasis SARA, hatespeech atau penyebaran hoaks tentu tidak boleh

Dimensi hukumnya harus jelas. Jangan sampai masyarakat mempersepsikan ada pembiaran. Mungkin juga bagi sebagaian pendukungnya itu abuse of power. 
Ini kan dua hal yang tidak bisa diputus dengan subyektifitas masing-masing.  Tetapi harus difasilitasi oleh negara dengan hadirnya penegak hukum. Itu domain penegakkan hukum. Maka instrumen penegakan hukum menjadi penting sebagai justifikasi seperti apa konstruksi persoalannya dan putusannya nanti. Karena semua orang harus diposisikan sama di muka hukum.

Sosok Habib Rizieq bisa dijadikan komoditas politik?

Itu realitas yang sudah terbaca sejak lama. Misalnya Habib Rizieq sejak 2014 selalu berada dalam pola hubungan kuasa dengan berbagai kekuatan politik yang bertarung, terutama dalam kontestasi elektoral.
Contohnya pada 2014, 2017 bahkan di 2019. Masih pendekatan sosislogis bukan pendekatan rasional
dan bukan pendekatan psikologis. Dalam mobilisasi orang melalui pendekatan primordial itu masih dilakukan.

Habib Rizieq dengan basis massanya menjadi komoditas politik memang tidak terhindari. Bagaimana pun pendekatan itu digunakan di Pilpres 2014 dan 2019. Artinya secara politis ada fungsi free rider yang kemudian ada keuntungan bersama atau mutual benefit. Yaitu antara kekuatan politik yang bertarung dengan elemen organisasi massa seperti FPI yang kemudian menempatkan Habib Rizieq sebagai jangkar. Dan pada akhirnya jangkar ini bisa meluas atau menyusut. Sesuai dengan konteks isu yang dimainkan.

Misalnya di 212 jangkarnya meluas.Karena ada isu yang bisa diamplifikasi yaitu soal penistaan agama. Itu kemudian di 2017 sangat riskan bagi keutuhan republik ini yang memang mau ga mau kita ini negara Pancasila yang multikultural. Itu yang harus terus diingatkan kepada masyarakat.

Apa dampak kepulangan Habib Rizieq secara politis, sosial dan juga keagamaan di Indonesia?

Pertama, itu akan bergantung pada aksi reaksi setelah Habib Rizieq datang. Misalnya seperti apa posisi pemerintah?   Jangan sampai pemerintah terkesan represif dengan tanpa alasan. Kecuali misalnya ada proses di wilayah penegakan hukum yang dilanjutkan kalau memang ada proses-proses hukum yang belum tuntas. Jadi aksi reaksinya seperti itu.

Pemerintah jangan membuat pola komunikasi yang tidak jelas atau ngambang. Misalnya apakah betul pemerintah punya andil dalam kepulangan Habib Rizieq? Itu kan menjadi tanda tanya juga di masyarakat.
Apakah betul Habib Rizieq tidak ada deal tertentu dengan representasi dari pemerintah?
Atau memang betul-betul Habib Rizieq mengurus sendiri kepulangannya dengan jejaring yang dimiliki oleh komunitasnya?

Yang kedua adalah aksi reaksi dengan sejumlah isu ke depan. Habib Rizieq di depan pendukungnya telah menyatakan akan tetap melontarkan kritik kepada pemerintahan Jokowi. 


 

Reaksi Kamu dengan Artikel ini

like
0
love
0
funny
0
angry
0
sad
0
wow
0