Belajar Online Terus, Kemendikbud Ngapain Aja Selama Pandemi?

Anak-anak juga perlu dimotivasi karena faktanya sudah ada beberapa korban jiwa. Memang tidak diakui satu-satunya sebab adalah...
Ramses Rianto Manurung - Video, Senin, 23-11-2020 23:55 WIB

Dunia pendidikan selama masa pandemi menghadapi masa sulit di mana anak-anak usia sekolah harus belajar dari rumah melalui daring. Ini merupakan tantangan tersendiri bagi siswa dan orang tua dalam melakukan pembelajaran. 

Lalu apa peran Kemendikbud dalam pembelajaran anak-anak usia sekolah pada masa pandemi ini? Apa yang jadi persoalan di dunia pendidikan di masa pandemi sekarang ini?

Topik menarik ini menjadi pembahasan dalam Dialog Nusantara Petang di Nusantara TV, Senin (23/11/2020) yang dipandu Host Tasya Felder dengan narasumber Pakar Pendidikan Indra Charismiadji.

Menurut Indra Charismadji bidang pendidikan di seluruh dunia termasuk di Indonesia memang mengalami perubahan yang drastis akibat pandemi covid-19. Yang tadinya belajarnya ke sekolah sekarang belajarnya harus di rumah. Hanya bedanya di era sekarang ini, sudah punya teknologi digital yang membuat anak-anak bisa belajar secara digital walaupun mereka berada di rumah.

Tetapi transisi ini tidak mudah, bahkan baru-baru ini di Finlandia membuat riset yang menunjukkan ada penurunan atau hasil capaian pendidikan dengan model belajar daring. 

Kalau bicara teknologi memang ada sisi yang hilang ada sisi yang kita dapatkan. 

Yang terpenting saat ini anak dapat belajar dengan memanfaatkan teknologi dengan seoptimal mungkin karena memang dunianya sudah dunia digital.

Sayangnya di Indonesia sejak pertama kali pandemi ditetapkan untuk tidak lagi belajar di sekolah. Pemerintah Pusat kurang dalam memberikan solusi dalam menjadi leader bagaimana kita mengarungi bahtera pandemi ini.

Banyak kebijakan yang hanya sebagian saja menyelesaikan masalah, contohnya subsidi kuota. Itu memang angkanya besar sekali. Sekian triliun. Tetapi masalah pelajaran jarak jauh (PJJ) kan bukan hanya itu. 

Banyak guru-guru yang mengeluhkan kalau peranan Kemendikbud sangat lemah dalam menuntun mereka mengubah dan mentransformasi sekolah dalam hal transformasi pola pembelajaran dari tradisonal ke digital. Walaupun faktanya sudah banyak juga sekolah-sekolah yang mampu mentransformasi diri mereka sendiri menjadi sekolah digital. Dikpaksa oleh pandemi ini. 

Mirisnya, Kemendikbud tidak melihat praktik-praktik baik ini dan menjadi contoh untuk dipakai di sekolah-sekolah lain. Sayang sekali. 

Kalau menilik dari perannya atau tanggungjawabnya, siapa yang paling bertanggungjawab atas terhadap pendidikan anak-anak saat ini?

Indra mengatakan dalam konstitusi Indonesia disebutkan membentuk pemerintah yang mencerdaskan kehidupan bangsa. Jadi pemerintah yang kita pilih punya tanggungjawab mencerdaskan bangsa baik saat pandemi maupun tidak pandemi. 
Tidak ada alasan karena pandemi, bangsa ini jadi tidak cerdas. 

Pemerintah harus tetap fokus pada pembangunan sumber daya manusia (SDM). Itu yang belum terlihat sejak pertama kali pandemi covid-19 mewabah di Indonesia pada Maret 2020. Itu juga dikeluhkan oleh para guru, orang tua, siswa. Yang merasa peran Kemendikbud masih sangat minim. 

Sebenarnya fungsi-fungsi apa yang seharusnya dilakukan Kemendikbud?

Sebenarnya kita bisa melihat dari Surat Keterangan Bersama (SKB) yang kemarin. Itu sebenarnya SKB pengulangan yang pertama. Tetapi seperti yang pertama sudah menyampaikan ini ngatur urusan tatap mukanya. Urusan belajar dari rumahnya tidak disentuh. 

Padahal walaupun sudah tatap muka, mereka tidak bisa full. Tetap harus diatur jumlahnya kemudian waktunya juga tidak bisa sama seperti dulu sebelum pandemi . Jadi tetap mayoritas pembelajarannya walaupun sekolah sudah dibuka untuk tatap muka. Tetap harus belajar dari rumah. Tetap harus PJJ dan daring. 

Ini kan harus ditingkatkan mutunya. Bisa tidak guru-guru itu memahami pedagogi digital? Pedagogi digital itu tidak hanya ceramah, tidak hanya memberi PR, tugas, ulangan, ujian. Tetapi bagaimana memanfaatkan teknologi untuk anak-anak berliterasi. Bagaimana anak-anak bisa membuat proyek, gembira dalam belajar itu ada pedagoginya. Dan itu yang belum diberikan. Kemudian juga pendampingan orang tua. Banyak orang tua yang stress. 

Anak-anak juga perlu dimotivasi karena faktanya sudah ada beberapa korban jiwa. Memang tidak diakui satu-satunya sebab adalah stres karena PJJ. Tetapi salah satunya karena PJJ. Mereka stres dan akhirnya bunuh diri. Ini kan sudah makan korban, Namun Kemendikbud bahkan tidak bersuara tentang hal ini.  

Nusantara Petang hadir untuk kebutuhan anda mengenai berita-berita terupdate setiap harinya. Saksikan Nusantara Petang setiap hari Senin - Jumat jam 17.30 hanya di Nusantara TV    
 

Reaksi Kamu dengan Artikel ini

like
0
love
0
funny
0
angry
0
sad
0
wow
0