ASO Untuk Penyiaran Digital yang Sehat dan Adil

Maka salah satu rekomendasi yang kemarin dikeluarkan oleh ATSDI adalah mendukung salah satu anggota ATSDI, dalam hal ini...
Ramses Rianto Manurung - Video, Rabu, 18-11-2020 23:25 WIB

Menyambut era migrasi ke penyiaran ke televisi digital Asosiasi Televisi Siaran Digital Indonesia (ATSDI) menggelar Rakornas 2020 dengan tema ASO Mewujudkan Penyiaran Digital Yang Sehat dan Adil pada 12 November lalu.

Dalam forum Rakornas tersebut dibahas berbagai hal terutama kesiapan industri, sosialisasi televisi digital, peningkatan kapasitas SDM serta berbagai isu menarik berkaitan dengan regulasi dan lain-lain.

Topik migrasi penyiaran dari analog ke digital ini dibahas secara tuntas oleh Host Tasya Felder bersama narasumber Ketua Umum ATSDI, Eris Munandar dalam Dialog Nusantara Petang yang disiarkan Nusantara TV, Rabu (18/11/2020). 

Apa saja yang harus disiapkan oleh Indonesia apalagi saat ini Undang Undang Cipta Kerja telah disahkan di mana di dalamnya klaster penyiaran?

Ketua Umum ATSDI Eris Munandar mengatakan pekerjaan yang paling penting dan utama yang harus dilakukan pemerintah adalah melakukan proses sosialisasi secara massif ke tengah-tengah masyarakat.

Dalam kurun waktu paling lambat dua tahun ini karena kalau kita tahu UU Cipta Kerja ditetapkan atau ditandatangani oleh Presiden Joko Widodo pada 2 November 2020 maka analog switch off itu jadi 2 November 2022.

Pemerintah punya waktu dua tahun untuk melakukan sosialisasi secara massif kemudian juga mendata dan membuat sebuah skema untuk penyebaran distribusi set up box kepada masyarakat. Karena kurang lebih 40 persen penduduk belum memiliki televisi yang sudah digital.

Dengan kenyataan 40 persen penduduk belum memiliki televisi digital. Apakah dalam dua tahun ini bisa mencukupi semua kebutuhan seluruh masyarakat termasuk dari yang 40 persen?

Eris mengaku memiliki keyakinan yang besar Indonesia bisa menyelesaikan ini semua.

Di satu sisi kita melihat masyarakat Indonesia itu sangat tinggi kemampuan adaptifnya terhadap perkembangan teknologi. Kemudian pemerintah juga sejak ditetapkannya UU Cipta Kerja sudah membuat skema bagaimana pendistribusian set up box. Baik yang didapatkan dari para pemegang multiplekser ataupun anggarannya dari APBN yang akan dialokasikan oleh pemerintah.

Bagaimana pandangan ATSDI mengenai sosialisasi?

Sosialisasi secara massif dan produktif harus dilakukan dan juga harus efisien. Selama ini sosialisasi hanya dilakukan dalam webinar, diskusi-diskusi online dan lain sebagainya yang hanya diikuti oleh masyarakat akademisi kemudian masyarakat perkotaan dan lain sebagainya.

Jadi harus punya satu event atau program sosialisasi yang bisa menyentuh langsung ke tengah-tengah masyarakat. Bagaimana pentingnya dan bedanya siaran analog dengan televisi digital.

Artinya sudah tidak ada lagi kendala bagi Indonesia untuk melakukan analog switch off?

Menurut Eris, legislasi primer yang dinantikan selama 14 tahun sudah terjawab tuntas di Pasal 60 a Undang Undang Cipta Kerja Nomor 11 Tahun 2020. Ini sudah menjadi legislalsi primer bahwa Indonesia sudah harus mempersiapkan diri untuk melakukan proses analog switch off dalam kurun waktu dua tahun. 

Kalau untuk menjadi penyelenggara multiplekser ketika Indonesia sudah di era analog switch off pada 2022. Bagaimana peluangnya?

Eris menyebutkan tema Rakornas ATSDI 2020 kemarin adalah mewujudkan aso untuk menghadirkan penyiaran yang sehat dan adil. Digitalisasi penyiaran ini adalah refleksi dari demokratisasi penyiaran. Diversity of content, diversity of ownership ini bisa terjawab dengan digitalisasi penyiaran ini. 

Bagaimana menghadirkan diversity of content atau keberagaman konten itu bisa terjawab. Kemudian ATSDI juga selalu meminta kepada pemerintah berlaku adil ke semua anak bangsa untuk ikut serta mewujudkan digitalisasi penyiaran di Indonesia.

Maka salah satu rekomendasi yang kemarin dikeluarkan oleh ATSDI adalah mendukung salah satu anggota ATSDI, dalam hal ini Nusantara TV untuk bisa menjadi penyelenggara multiplekser di 20 kota di Indonesia. 

Ini menjadi bagian yang sangat penting agar proses percepatan digitalisasi ini bisa segera terwujud dalam kurun waktu paling lambat dua tahun. 

Apa saja alasan ATSDI untuk Nusantara TV menjadi penyelenggara multiplekser?

Eris menyatakan selain karena kesiapan teman-teman di Nusantara TV juga ini merupakan kebutuhan masyarakat Indonesia. Karena sekarang ini baru di 12 kota pembangunan infrastruktur ini dilakukan. Sementara di negara kita ada 34 provinsi. 

Nusantara Petang hadir untuk kebutuhan anda mengenai berita-berita terupdate setiap harinya. Saksikan Nusantara Petang setiap hari Senin - Jumat jam 17.30 hanya di Nusantara TV

Reaksi Kamu dengan Artikel ini

like
0
love
0
funny
0
angry
0
sad
0
wow
0