Manas-manasin Cina, Jepang dan AS Gelar Latihan Perang Bersama,

Latihan perang yang digelar setiap dua tahun ini melibatkan puluhan kapal perang, ratusan pesawat dan 46.000 tentara, pelaut...
Ramses Rianto Manurung - Video, Selasa, 27-10-2020 16:38 WIB

Jepang dan Amerika Serikat pada Senin (26/10/2020) memulai latihan perang bersama udara, laut dan darat di sekitar Jepang. Ini dilakukan untuk unjuk kekuatan menghadapi peningkatan aktivitas militer Cina di wilayah tersebut. 

Latihan keen sword atau pedang tajam adalah latihan besar pertama sejak Poshihide Suga menjadi Perdana Menteri Jepang bulan lalu dengan janji untuk melanjutkan pembangunan militer yang bertujuan melawan Cina yang mengklaim pulau-pulau yang dikuasai Jepang di Laut Cina Timur. 

Latihan perang yang digelar setiap dua tahun ini melibatkan puluhan kapal perang, ratusan pesawat dan 46.000 tentara, pelaut dan marinir dari kedua negara. Latihan yang berlangsung hingga 5 November ini untuk pertama kalinya akan mencakup pelatihan peperangan dunia maya dan elektronik.

Kapal induk terbesar Jepang kaga setinggi 248 meter didampingi kapal induk USS Ronald Reagan yang dikawal kapal perusak yang kembali dari patroli di Laut Cina Selatan dan Samudra Hindia akan dipasang kembali paling cepat tahun depan untuk membawa pesawat tempur siluman F-35.

Suga bulan ini mengunjungi Vietnam dan Indonesia sebagai bagian dari upaya Jepang untuk meningkatkan hubungan dengan sekutu utama Asia Tenggara menyusul pertemuan pengelompokan informal India, Australia, Jepang dan Amerika Serikat di Tokyo yang dilihat Washington sebagai benteng melawan pengaruh regional Cina. Beijing mengecam quad tersebut sebagai "NATO mini" yang bertujuan untuk menahannya. 

Jepang semakin khawatir tentang peningkatan aktivitas Angkatan Laut Cina di sekitar pulau-pulau yang disengketakan di Laut Cina Timur yang diklaim Tokyo sebagai Senkaku dan oleh Beijing sebagai Diaoyu.

Mendampingi komandan militer tertinggi Jepang, Jenderal Koji Yamazaki yang berada di Kaga, komandan pasukan AS-Jepang Letnan Jenderal Kevin Schneider menunjukkan aktivitas Cina baru-baru ini yang membuat khawatir Washington dan Tokyo termasuk undang-undang keamanan baru di Hong Kong yang telah merusak otonomi wilayah tersebut pembangunan militer di Laut Cina Selatan dan gangguan terhadap Taiwan oleh militer Cina selama beberapa bulan terakhir.

Di sisi lain Cina mengatakan niatnya di kawasan itu untuk tujuan damai. 

Nusantara Pagi hadir untuk kebutuhan anda mengenai berita-berita terupdate setiap harinya. Saksikan Nusantara Pagi setiap hari Senin - Jumat jam 06.00 WIB hanya di Nusantara TV 
 

Reaksi Kamu dengan Artikel ini

like
0
love
0
funny
0
angry
0
sad
0
wow
0