TikTok 'Bodo Amat' dengan Larangan Trump, Bakal Rekrut 10.000 Karyawan di AS

TikTok Katakan Pihaknya Berniat untuk Terus Mengembangkan Bisnisnya di AS.
Adiantoro - Teknologi,Rabu, 22-07-2020 12:17 WIB
TikTok 'Bodo Amat' dengan Larangan Trump, Bakal Rekrut 10.000 Karyawan di AS
Ilustrasi. (Milenio)

Jakarta, Nusantaratv.com - Aplikasi berbagi video pendek, TikTok, mengumumkan keinginannya merekrut 10.000 staf di Amerika Serikat (AS) selama tiga tahun ke depan.

Pihak TikTok menyampaikan rencana itu pada Selasa (21/7/2020), kendati mereka mungkin akan diblokir di Negara Paman Sam itu.

Sejauh ini perusahaan telah memiliki 1.400 karyawan di AS, naik dari di bawah 500 pada awal tahun. Kenaikan pesat jumlah karyawan terjadi seiring meningkatnya popularitas TikTok di negara itu.

Pada 2020, TikTok menambah tiga kali lipat jumlah karyawan yang bekerja di AS, dan kami berencana untuk menambah 10.000 pekerjaan di sini selama tiga tahun ke depan - kata juru bicara TikTok, dilansir dari CNBC International, Rabu (22/7/2020).

Ini adalah pekerjaan bergaji baik yang akan membantu kami terus membangun pengalaman yang menyenangkan dan aman dan melindungi privasi komunitas kami - lanjutnya. 

Pengumuman itu disampaikan TikTok di tengah perselisihan antara Cina-AS di sektor teknologi sedang memanas. AS menuding Cina kerap kali menggunakan hardware dan software yang dikembangkan oleh perusahaan teknologi asal negara itu untuk kegiatan spionase atau memata-matai.

Dan, salah satu perusahaan yang dicurigai menjadi 'alat mata-mata Cina' tersebut adalah Huawei. Vendor ponsel itu sejauh ini menjadi target kecurigaan nomor satu dari pemerintahan Presiden Donald Trump.

Bahkan Trump telah melarang penggunaan peralatan telekomunikasi Huawei dalam jaringan AS dan menjatuhkan sanksi tegas pada perusahaan. Sanksi itu mengancam akan merusak bisnis perusahaan. Trump juga melobi sekutunya untuk melakukan hal yang sama.

Terkait tuduhan AS, pihak Huawei telah membantahnya. Tiktok sendiri kemungkinan akan menjadi target berikutnya. Pada awal bulan ini, Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo mengatakan AS sekarang sedang meninjau langkah pelarangan TikTok. 

Aplikasi TikTok dimiliki oleh ByteDance, perusahaan teknologi yang bermarkas di Beijing. Pemerintah AS telah merilis tinjauan keamanan nasional atas akuisisi ByteDance dari aplikasi Musical.ly, yang digabung ke TikTok, Reuters melaporkan pada November lalu.

Pemerintah AS dilaporkan khawatir jika ByteDance mungkin menyensor konten yang sensitif secara politis dan khawatir tentang bagaimana data pengguna disimpan. Kendati menghadapi ancaman tersebut, TikTok mengatakan pihaknya berniat untuk terus mengembangkan bisnisnya di AS.

Guna menunjukkan niatnya, pada Mei lalu, perusahaan telah merekrut seorang CEO asal Amerika, Kevin Mayer, yang adalah mantan kepala streaming Disney.

Kantor TikTok terbesar di AS terletak di California, New York, Texas, dan Florida. Area bisnis utama untuk TikTok di AS mencakup penjualan, moderasi, teknik, dan moderasi konten. 
 

Reaksi Kamu dengan Artikel ini

like
0
love
0
funny
0
angry
0
sad
0
wow
0