Serangan Siber, Korut Mata-Matai Dewan Keamanan PBB Pakai WhatsApp dan Gmail

Para Pejabat PBB Diperkirakan Akan Merilis Laporan Terkait Peretasan Ini Bulan Depan.
Adiantoro - Teknologi,Kamis, 06-08-2020 10:08 WIB
Serangan Siber, Korut Mata-Matai Dewan Keamanan PBB Pakai WhatsApp dan Gmail
Presiden Korea Utara Kim Jong-un. (Al Jazeera)

Jakarta, Nusantaratv.com - Korea Utara (Korut) melancarkan serangan siber terhadap anggota Dewan Keamanan PBB (Perserikatan Bangsa-Bangsa).

Sekitar 11 pejabat dari enam anggota Dewan Keamanan PBB menjadi target serangan siber dengan tujuan menggali sebanyak mungkin informasi dari para target.

Dalam sebuah laporan yang disampaikan kepada komite organisasi tentang Korea Utara, seperti dilansir dari Daily Star, Kamis (6/8/2020), badan intelijen Korea Utara yang memimpin peretasan tersebut.

Jebakan itu muncul setelah penyerang mengirim pesan ke target mereka melalui Gmail dan WhatsApp, dan penyerang menyamar sebagai orang lain.

Para pejabat PBB diperkirakan akan merilis laporan terkait peretasan ini bulan depan. Sebuah laporan yang menunjukkan bagaimana Korea Utara menangani sanksi dari PBB.

Laporan ini juga mengatakan, Korea Utara memperolah aset virtual dan online yakni cyptocurrency untuk menghasilkan uang selama dalam sanksi PBB. Namun, tidak dijelaskan bagaimana Korea Utara menghabiskan uang secara tunai.

Selain itu, dalam laporan tersebut mengatakan Korea Utara juga mengirimkan pekerjaan migran ke Cina dan Rusia. Dalam rilis laporan yang akan datang tengah menyoroti hanya satu dari banyak kekhawatiran yang dimiliki analis tentang negara komunis.

Mereka khawatir Presiden diktator Korea Utara Kim Jong-un menggunakan krisis kemanusiaan untuk meningkatkan persenjataan senjata biologinya. Korea Utara juga mungkin memiliki tujuan tersembunyi karena telah mengumumkan akan mengembangkan vaksin virus corona (COVID-19).

Menurut Andrew Weber, selaku mantan Asisten Menteri Pertahanan untuk program pertahanan nuklir, kimia dan biologi selama pemerintahan Obama, negara rahasia itu dapat menggunakan aspirasi vaksin yang sah ini sebagai cara untuk meningkatkan kemampuan bioteknologi mereka.

Pakar menyarankan negara dapat membeli sumber untuk vaksin mereka dan kemudian menggunakan sumber itu untuk membuat senjata biologis.

Mereka dapat membeli peralatan dari sumber-sumber Barat atau Cina yang akan diperlukan untuk upaya vaksin mereka, dan kemudian tahun depan mereka dapat berbalik dan menggunakannya untuk memproduksi senjata biologis - kata Weber.

Reaksi Kamu dengan Artikel ini

like
0
love
0
funny
0
angry
0
sad
0
wow
0