Duh! Orang Bertubuh Jangkung Berpotensi Tinggi Terinfeksi COVID-19

Penemuan Memberikan Bukti Lebih Lanjut untuk Hubungan Antara COVID-19 dan Status Sosial Ekonomi.
Adiantoro - Teknologi,Selasa, 04-08-2020 14:44 WIB
Duh! Orang Bertubuh Jangkung Berpotensi Tinggi Terinfeksi COVID-19
Ilustrasi. (Klikdokter)

Jakarta, Nusantaratv.com - Berdasarkan penelitian terbaru terhadap 2.000 orang di Inggris dan Amerika Serikat (AS) telah mengindikasikan orang-orang dengan tinggi lebih dari 1,83 meter (183 cm), memiliki lebih dari dua kali lipat kemungkinan didiagnosis dengan virus corona (COVID-19).

Hal ini menambah bobot argumen jika virus dapat ditularkan melalui udara maupun tetesan. Meskipun penelitian ini belum ditinjau oleh rekan sejawat, para ilmuwan di balik penelitian tersebut telah merilis pernyataan yang menyatakan pemurnian udara harus dianggap sebagai langkah untuk mencegah penyebaran penyakit.

Menurut penulis penelitian, orang bertubuh tinggi tidak akan menghadapi peningkatan risiko infeksi virus, jika ditularkan secara eksklusif melalui tetesan air liur karena ini tidak bertahan lama di udara, tetapi jatuh ke lantai segera setelah keluar dari mulut atau hidung seseorang.

Sementara itu, partikel aerosol dapat dibawa oleh arus udara dan cenderung menumpuk di ruang berventilasi buruk. Demikian dilansir dari IFL Science, Selasa (4/8/2020).

Hasil survei ini dalam hal hubungan antara tinggi dan diagnosis menunjukkan transmisi tetesan ke bawah bukan satu-satunya mekanisme transmisi - ujar Profesor Evan Kontopantelis dari University of Manchester ketika mengomentari data yang belum dipublikasikan.

Gagasan penularan melalui udara telah menjadi bahan perdebatan utama sejak awal pandemi, dengan banyak ilmuwan mengkritik Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) karena bersikeras jika COVID-19 hanya dapat ditularkan melalui tetesan air liur.

Dalam menghadapi tekanan yang meningkat dari komunitas ilmiah, WHO akhirnya memperbarui data resmi tentang virus corona bulan lalu dan mengakui adanya transmisi melalui aerosol jarak pendek. Tekanan tersebut datang setelah 239 ahli kesehatan dari seluruh dunia menandatangani pernyataan kepada WHO.

Penelitian terbaru ini tidak dirancang untuk memeriksa kemungkinan penularan melalui udara, melainkan bertujuan untuk menyelidiki bagaimana atribut pribadi dan kondisi kehidupan mempengaruhi peluang seseorang untuk tertular virus.

Selain pernyataan tentang tinggi tubuh seseorang, hasil penelitian juga mengungkapkan jika orang yang saling berbagi ruangan bersama atau menggunakan dapur umum secara bersamaan, juga secara signifikan lebih mungkin untuk terinfeksi virus.

Mengingat kehidupan seperti ini paling umum ditemukan di antara keluarga dan individu berpenghasilan rendah, para ilmuwan mengatakan, penemuan ini juga memberikan bukti lebih lanjut untuk hubungan antara COVID-19 dan status sosial ekonomi.

Reaksi Kamu dengan Artikel ini

like
0
love
0
funny
0
angry
0
sad
0
wow
0