Hari Anak Sedunia: Wajah Suram Pendidikan dan Masa Depan Generasi Bangsa

Banyak pelajar terutama di berbagai daerah yang tidak memiliki hanphone dan akses internet yang memadai mengalami kesulitan....
Raymond - Tajuk Rencana,Jumat, 20-11-2020 09:18 WIB
Hari Anak Sedunia: Wajah Suram Pendidikan dan Masa Depan Generasi Bangsa
Muda Saleh

Nusantaratv.com - Pandemi corona di Indonesia sampai saat ini masih terus berlangsung. Virus asal Wuhan ini pertama kali dideteksi di tanah air pada 2 ketika dua orang terkonfirmasi tertular dari seorang warga negara Jepang.

Data yang disampaikan pemerintah pada Kamis (19/11) kemarin, setidaknya ada 4.798 kasus positif dalam 24 jam terakhir. Penambahan itu menyebabkan total kasus Covid-19 di Indonesia kini mencapai 483.518 orang, terhitung sejak diumumkannya pasien pertama pada 2 Maret 2020 lalu.

Namun demikian, dalam sehari, ada penambahan 4.265 pasien covid-19 yang dianggap sembuh dan tidak lagi terinfeksi virus corona.

Dimana mereka dinyatakan sembuh berdasarkan pemeriksaan dengan metode polymerase chain reaction (PCR) yang memperlihatkan hasil negatif virus corona. Dengan demikian, total pasien Covid-19 yang sembuh totalnya berjumlah 406.612 orang sejak awal pandemi.

Kendati demikian, kabar duka juga masih terus berlanjut dengan adanya penambahan pasien Covid-19 yang meninggal dunia. Pada periode 18-19 November 2020, ada 97 pasien Covid-19 yang meninggal dunia. 

Sehingga, angka kematian akibat Covid-19 di Indonesia kini mencapai 15.600 orang. Berdasarkan data itu, maka jumlah kasus aktif Covid-19 saat ini ada 61.306 orang. Selain kasus aktif, pemerintah juga mencatat ada 63.546 orang yang sekarang berstatus suspek.

Pandemi Hantam Dunia Pendidikan di Indonesia

Sudah disiapkan kopi atau teh hangatnya kan...??

Sejak ditetapkannya status waspada ancaman corona, dunia pendidikan seperti mendadak tak tentu arah. Bagaimana tidak, pelajar dan mahasiswa terpaksa harus melakukan aktivitas belajar di rumah dengan skema belaja online, dimana guru memberikan materi pelajaran melalui tatap muka dengan menggunakan video kepada sejumlah murid yang tercatat dalam kelas.

Beratnya perjalanan para pelajar Indonesia menuju ke sekolah di kampung Tanjung, Lebak, Banten (Reuters)

Mendikbud Nadiem Makariem akhirnya memutuskan bahwa skema belajar dari rumah pun harus diterapkan sejak ditentukan pada 9 April 2020 lalu. Hal ini guna mengantisipasi penyebaran covid-19 terhadap para pelajar dan mahasiswa.

Lalu, yang menjadi pertanyaannya adalah, apakah skema tersebut efektif… apakah pemeirntah telah mempertimbangkan untung dan ruginya?

Hal ini jelas terbukti, bahwa banyak pelajar terutama di berbagai daerah yang tidak memiliki hanphone dan akses internet yang memadai mengalami kesulitan. Karena selain biaya internet yang terbilang mahal, pelajar juga terpaksa harus membeli handphone.

ilustrasi

Ya… memang benar, Nadiem sempat mengisyaratkan adanya pemberian kuota kepada pelajar dan mahasiswa. Namun, kuota belajar yang diberikan rata-rata diisi melalui aplikasi berbayar. Apakah ini bukannya dinamakan menggiring pelan-pelan untuk berlangganan aplikasi tersebut?

Bahkan, Pengamat pendidikan Indra Charismiadji menyebut, langkah tersebut merupakan gimik di tengan pandemi corona yang saat ini melanda Indonesia.

“Saya melihat kuota belajar yang digunakan siswa mayoritas diisi oleh aplikasi-aplikasi berbayar. Ini menimbulkan kesan bahwa pemerintah memberikan gimik agar masyarakat berlangganan aplikasi tersebut,” tegasnya, di Jakarta, (29/09) lalu.

Ia menilai, tidak ada komitmen pemerintah maupun provider untuk menjaga kerahasiaan data. Karena semua diminta memberikan nomor HP padahal bisa saja pemerintah memberikan nomor voucher pulsa ke siswa, guru, dosen. “Ini bahaya dan sangat mengerikan. Kedaulatan bangsa terancam. Saya tidak rela karena ini sama saja menjual bangsa sendiri,” tegasnya.

Pemerintah Terkesan Abai dengan Dunia Pendidikan

Sampai saat ini, terlihat belum ada program unggulan, ataupun skema terobosan terbaik yang dilakukan pemerintah dalam dunia pendidikan. Padahal sejatinya, anak-anak merupakan generasi bangsa penerus yang seharusnya dijaga, baik kondisi psikologisnya, dan juga masa depan pendidikan yang nantinya apakah mereka mampu bersaing dengan dunia internasional.

Jika, urusan politik, ekonomi yang masih luluhlantak ini masih terus terjadi dan terus menjadi prioritas pemerintah, tampaknya masa depan bangsa Indonesia bisa dikatakan suram ke depannya.

Terbukti kok, pemerntah asik dengan Pilkada yang sedikit dipaksakan, sssttt,,, mengingat ada Gibran Rakabuming dan Bobby Nasuition yang semangat betul maju sebagai kepala daerah? ya.. silahkan anda yang menilainya.

Pemerintah juga terus menerus menunjukkan sikap perbaikan ekonomi, namun pada akhirnya utang yang menjadi solusi dalam perbaikan ekonomi. Selain itu, UU Omnibus Law yang dinilai banyak merugikan para pekerja, di sektor pertanian.

Meski banyak penolakan dari berbagai daerah, namun pemegang kekuasaan tetap memaksakan UU kontroversi itu tetap berjalan di Indonesia.

BPS Catat Angka Pengangguran Terus Meningkat

Angka pengangguran di Indonesia kembali bertambah. Dimana dalam data Badan Pusat Statistik (BPS), angka pengangguran di Indonesia bertambah menjadi 6,88 juta orang pada Februari 2020 lalu.

Angka ini naik 60.000 orang 0,06 juta orang dibanding periode yang sama tahun lalu. Namun, berbeda dengan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) yang turun menjadi 4,99% pada Februari 2020.

ilustrasi pencari kerja

Tentunya ini menjadi pekerjaan rumah tangga yang cukup sulit bagi pemerintah terkait bagaimana memenuhi kebutuhan masyarakat yang mengalami Pemutusan Hubungan Kerja (PHK). Bagaimana mereka membiayai pendidikan anak-anaknya?

Omnibus Law?? ya.. ya .. ya UU Cipta Kerja yang disebut-sebut memberikan peluang kerja sampai saat ini masih belum terlihat, mengingat beberapa waktu lalu pemerintah justru memberikan karpet merah terhadap 500 TKA asal China. Belum lagi disektor pertanian, meski pemerintah membangun Food Estate di kalimantan, namun ironisnya sejumlah bahan pokok juga masih impor dari luar negeri, UU Omnibus Law untuk siapa?

Masa Depan Anak-anak di Indonesia Suram?

Dengan berbagai masalah yang ada, ekonomi, pendidikan, sosial dan psikologi tentunya membuat kita semua harus berfikir keras, apa, bagaimana dan seperti apa yang harus kita lakukan yang terbaik untuk anak-anak kita ke depan.

Mengingat banyak negara di luar negeri sana yang sudah berhasil keluar dari pandemi corona, sementara kita masih mengalaminya, bahkan angka positif cenderung naik.

Belum lama ini, Organisasi Anak dan Pendidikan dunia UNICEF menyebutkan, bahwa pandemi corona jelas memukul masa depan anak-anak di seluruh dunia.

ilustrasi (kompasiana)

Direktur eksekutif UNICEF Henrietta Fore mengatakan, bahwa keadaan ini juga akan membawa dampak kemiskinan. "Semakin lama krisis berlanjut, semakin dalam dampaknya pada pendidikan, kesehatan, gizi dan kesejahteraan anak-anak. dan masa depan seluruh generasi terancam," tegasnya dalam siaran persnya.

Dimana menurut laporannya, UNICEF juga menyatakan, bahwa secara global, 265 juta anak tidak bisa ke sekolah dan kehilangan makanan yang disediakan sekolah selama pandemi, kata UNICEF. Enam hingga tujuh juta anak di bawah usia lima tahun mengalami malnutrisi akut tahun ini, meningkat 14 persen dibanding tahun sebelumnya, kebanyakan di sub-Sahara Afrika dan Asia Selatan.

Tambahan lagi ada 150 juta anak tergelincir ke dalam kemiskinan multidimensi pada pertengahan 2020, kata laporan UNICEF.

"Diperkirakan dua juta tambahan kematian anak dan 200.000 tambahan kematian bayi baru lahir yang dapat terjadi selama periode 12 bulan, karena adanya gangguan parah pada layanan kesehatan dan meningkatnya malnutrisi," jelas UNICEF.

Selamat Hari Anak Dunia, Semoga hari esok adalah milik kalian, semoga hari esok adalah hari yang menyenangkan.. dan semoga hari esok bukan hanya milik anak-anak yang mampu membeli baju, buku dan kuota belajar saja.. (Muda Saleh)

Reaksi Kamu dengan Artikel ini

like
0
love
0
funny
0
angry
0
sad
0
wow
0