Sering Sumbang Medali, Cabor Angkat Besi Harus Jadi Prioritas 

Cabang angkat besi yang rutin menyumbangkan medali pada lima Olimpiade itu tidak mendapat perhatian
Arfa Gandhi - Sport,Senin, 20-07-2020 17:55 WIB
Sering Sumbang Medali, Cabor Angkat Besi Harus Jadi Prioritas 
Latihan atlet angkat besi Sumut / Foto: Ist

Jakarta, Nusantaratv.com - Pada Olimpiade Los Angeles, nama atlet angkat besi asal Sumut Sori Enda Nasution mampu menembus peringkat empat pesta akbar olahraga empat tahunan dunia tersebut. 

Bahkan, nama Sori Enda semakin mengkilap tatkala sukses menjadikan anaknya Sandow Weldemar Nasution sebagai lifter nasional.

Sandow Weldemar Nasution bukan hanya meraih perak pada Kejuaraan Angkat Besi Asia 2007 dan penyumbang tiga medali emas SEA Games tetapi mampu mengikuti jejak sang ayah dengan memperkuat Kontingen Indonesia pada Olimpiade Beijing, China 2008.

Ya, loyalitas Sori Enda memang tidak perlu diragukan. Setelah tidak menjabat sebagai pelatih nasional, dia kembali ke kampung halamannya Tebing Tinggi, Sumatera Utara (Sumut) pada tahun 2018.

Dia ingin mengembalikan kejayaan olahraga angkat besi Sumut. Apalagi, Tebing Tinggi itu memiliki gedung PABBSI di atas tanah seluas 4.000 meter yang didirikan mantan Gubernur Sumut, Almarhum Raja Inal Siregar sebagai penghargaan atas prestasi yang diukir Asber Nasution.

Sori Enda yang akrab dipanggil Ucok datang ke Tebing Tinggi atas biaya sendiri. Kemudian, dia sempat bertemu Walikota Tebing Tinggi, Umar Zunaidi Hasibuan dan diminta untuk membangun cabang olahraga angkat besi Tebing Tinggi.

Dari hasil kerja kerasnya, Ucok mampu meloloskan empat lifter Sumut meraih tiket ke Pekan Olahraga Nasional (PON) Papua 2021. Yakni, Yolanda (kelas 49 putri putri), Bambang Wijaya (kelas 73kg putra), Dimas Setya Dharma (kelas 109kg putra), dan Rasis Azazi (kelas +109kg putra). Bambang Wijaya dan Dimas Setya merupakan lifter asal Koeta Oesank Waeghtlifting Club Tebing Tinggi.

Namun, perjuangan Ucok membangun prestasi angkat besi di Sumut mengalami rintangan. Keinginannya menjadikan Tebing Tinggi sebagai Centra pembinaan angkat besi Sumut seperti Sasana Pringsewu Lampung yang dibangun Imron Rosadi terganjal.

Program pembinaan angkat besi dengan mendirikan sub centra di beberapa daerah di Sumut yang disusunnya tidak bisa berjalan. Padahal, Wakil Ketua Umum PB PABBSI, Joko Pramono sudah berjanji mengupayakan bantuan peralatan pada Centra maupun sub centra.

Meski demikian, Ucok berusaha tetap meminta bantuan peralatan angkat besi untuk Tebing Tinggi sehingga anak asuhnya bisa berlatih dengan fasilitas yang cukup. Permintaan itu pun dipenuhi PB PABBSI.

Kini, keinginan Ucok mencetak pengganti Asber Nasution boleh dibilang hanya sebatas mimpi. Apalagi, Pelatda Angkat Besi Sumut sudah dipindah dari Tebing Tinggi ke Sunggal Medan hanya persoalan sepele.

"Anak-anak itu sebenarnya lebih senang latihan di Tebing Tinggi. Kepindahan ini terjadi hanya karena persoalan sepele karena ada pengurus KONI Tebing Tinggi tidak senang dengan pemilik Koeta Oesank Waeghtlifting Club, Kota Tebingtinggi, Chaidir Chandra yang sangat perhatian terhadap angkat besi," kata Ucok.

"Saya yakin pak Walikota mendapat informasi yang salah. Apalagi, saya tidak diberikan kesempatan menjelaskan duduk persoalan sebenarnya. Eh... tau-tau kita sudah disuruh KONI Sumut langsung pindah ke Medan," sambungnya.

Secara terus terang, Ucok mengungkapkan perasaan simpati terhadap Chaidir Chandra yang juga mantan Ketua Harian KONI Tebing Tinggi dalam memperhatikan kebutuhan dan kenyamanan lifter dalam menjalankan program latihan. Namun, Chaidir Chandra yang juga mantan Ketua Pengcab PABBSI Tebing Tinggi ini mengurusi masalah pendidikan lifter.

Merasa satu visi dalam pembinaan prestasi angkat besi, Ucok dan Chaidir Chandra pun sudah merancang produksi barbel lokal dengan menggandeng anak perusahaan PTPN, Industri Kart Nasional (IKN). Tujuannya,  untuk menekan harga barbel.

"Selama ini kan kita kesulitan memenuhi kebutuhan barbel yang harganya satu set mencapai ratusan juta tetapi jika bisa diproduksi di dalam negeri harganya hanya berkisar Rp30 juta. Dan, saya yakin kualitasnya tidak jauh berbeda dengan buatan luar negeri," ujarnya.

Apa yang dipikirkan keduanya tampaknya harus diwujudkan. Apalagi, angkat besi yang merupakan cabang olahraga Olimpiade selalu menjadi andalan Indonesia dalam setiap penyelenggaraan multi event.

"Sejarah sudah membuktikan bahwa lifter Sumut, Asber Nasution mampu menembus level Olimpiade. Jadi, kita ingin mengembalikan kejayaan Sumut sebagai salah satu daerah pencetak lifter-lifter andalan Indonesia ke depan. Makanya, saya berjuang agar fasilitas Gedung PABBSI ini bisa dipergunakan sesuai dengan tujuan almarhum Raja Inal Siregar," timpal Chaidir Chandra merasa kehilangan tatkala pelatda angkat besi PON  di Tebing Tinggi dipindahkan ke Sunggal Medan.

"Dan, kami memang sudah membicarakan masalah produksi barbel dengan IKN yang mendapat dukungan. Apalagi, kebutuhan barbel yang hanya bisa bertahan dua tahun itu cukup banyak dengan munculnya sub centra di Sumut maupun daerah lain," tambahnya.

Miris memang. cabang angkat besi yang rutin menyumbangkan medali pada lima Olimpiade itu tidak mendapat perhatian. Harusnya, Indonesia itu sudah punya kantung-kantung pembinaan angkat besi di berbagai daerah sehingga cabang angkat besi bisa tetap memepertahankan tradisi menyumbang medali pada setiap pelaksanaan Olimpiade.

Tak ada salahnya jika Menpora Zainudin Amali yang menyebut cabang angkat besi sebagai cabang olahraga prioritas memberikan perhatian terhadap Gedung PABBSI yang didirikan Almarhum Raja Inal Siregar agar bisa melahirkan Asber Nasution lain.

Apalagi, Kemenpora sudah punya rencana membangun tempat Trainning Camp angkat besi di Cibubur Jakarta Timur dan Hambalang, Jawa Barat. Jangan sampai fungsinya lari dari cita-cita Almarhum Raja Inal Siregar.

Reaksi Kamu dengan Artikel ini

like
0
love
0
funny
0
angry
0
sad
0
wow
0